
''Halo sayang? nanti jam makan siang tolong temui mama di Rich Restaurant ya?'' kata Bu Mirna di seberang sana.
''Ada apa lagi mah?'' Kai yang sedang memakai sepatu sambil menjepit ponselnya di antara telinga dan pundaknya, dengan malas menjawab telepon mamanya pagi itu.
''Kenapa harus tanya ada apa? tentu saja mama sangat merindukanmu. Mama ingin kita bertemu dan makan siang bersama.''
''Aku tidak janji, mah. Tunggu jadwalku hari ini.''
''Mama sudah bertanya pada Hans, jadwal makan siangmu kosong.''
''Hans, mulutmu ember sekali,'' gerutu Kai sambil mengeratkan giginya.
''Hhh baiklah kalau begitu. Aku mau ke kantor dulu mah, bye.....'' Kai mengakhiri panggilannya begitu saja. Bu Mirna tampak kesal karena Kai mengakhiri panggilannya begitu saja.
''Hans memang benar-benar ingin aku tampar dengan sepatu ini. Dia sebenarnya bekerja untukku atau untuk mama sih,'' gerutu Kai. Kai pun segera berangkat ke kantornya bersama supir pribadinya, Pak Tio.
-
Sesampainya di kantor, Hans melihat bosnya yang datang lalu segera menghampiri dan menyamakan langkahnya.
''Pagi bos!" sapa Hans.
''Pagi. Ikut keruanganku!" ketus Kai. Melihat wajah bosnya yang tak bersahabat pagi itu, membuat Hans bergidik menelan ludah. Setelah sampai di ruangannya, Kai kemudian duduk di kursi kebesarannya. Sementara Hans berdiri sembari menunduk.
''Apa kamu tahu kesalahanmu, Hans?'' bentak Kai. Membuat Hans, melonjak kaget.
''I-iya bos!"
''Kamu bekerja untukku atau mama?'' bentaknya lagi.
''Untuk bos Kaisar.''
''Lalu untuk apa kamu memberitahukan jadwalku pada mama?''
''Nyonya pagi-pagi sudah menelpon. Awalnya aku berbohong bos. Tapi Nyonya menangis di telepon sambil memohon karena merindukan bos dan hanya ingin sekedar mengajak makan siang.'' Kata Hans dengan gagap.
''Sudah ku bilang berkali-kali, jangan terpengaruh Hans! Kemana saja mereka saat aku membutuhkan mereka dulu. Mereka sibuk dengan urusannya tanpa pernah mempedulikan ku. Sekali lagi kamu terpengaruh dengan rengekan papa dan mama, lebih baik berhenti saja bekerja denganku dan jadilah mata-mata mereka.''
''Jangan bos! maafkan aku, bos. Aku hanya tidak tega melihat seorang ibu menangis. Itu membuatku teringat dengan ibuku, bos.''
''Dia seorang ibu tapi sibuk dengan urusannya sendiri. Ingat sekali lagi Hans, kalau sampai kamu memberitahukannya lagi, lebih baik angkat kaki. Dan satu lagi, jangan sampai rencanaku kali ini bocor. PAHAM!" kata Kai sambil menggebrak meja dengan kesal.
''I-iya paham bos!"
''Jangan sampai orang lain dengan mudah memanfaatkan kelemahanmu. Sekarang kita meeting menyelesaikan game terbaru kita. Kumpulkan mereka semua.''
''Baik bos!"
-
Saat jam makan siang, Kai akhirnya pergi menuju restoran tempat ia dan mamanya bertemu. Kai mendengus saat kakinya melangkah ke restoran itu. Bu Mirna sangat bahagia, melihat putranya yang tampan itu datang. Tentu saja kedatangan Kai ke restoran itu menjadi pusat perhatian karena ketampanannya. Bu Mirna memeluk dan mencipika-cipiki putranya namun Kai tampak malas meladeni mamanya.
''Mama sudah memesan makanan ini untukmu. Sapo tahu seafood.''
__ADS_1
''Apa mama lupa kalau aku alergi seafood?'' sindir Kai. Kai benar-benar kesal kalau mamanya tidak tahu makanan yang membuatnya alergi. Kemana saja selama ini?
"Maaf, nak. Mama lupa. Apa mau mama pesankan lagi?"
"Tidak usah! Aku kenyang!" ketus Kai.
"Kalau begitu makan salad milik mama saja ya? mama sedang diet. Apa kamu tidak keberatan makan salad ini?"
"Tidak usah!" ketus Kai lagi.
"Baiklah kalau kamu tidak mau. Minum saja jusnya ya. Jus durian!"
Kai tersenyum sinis mendengar mamanya memesan jus durian untuknya. "Aku tidak suka durian!" sambung Kai.
"Maafkan mama. Mungkin karena usia jadi mama lupa," kata Bu Mirna yang berusaha menutupi kesalahannya. Kai tidak heran jika mamanya tidak tahu makan apa yang ia suka ataupun tidak ia suka. Karena tentu saja mamanya sangat jarang mengurusnya.
"Lebih baik mama makan dan aku akan menunggu mama makan."
"Baiklah, mama akan makan." Namun mata Bu Mirna seolah sedang mencari seseorang. Kai memperhatikan tingkah mamanya yang sedang celingak-celinguk.
"Apa yang mama cari?" tanya Kai penuh selidik.
"Ah, tidak apa-apa!"
"Oh ya mah, tolong jangan pernah menganggu pekerjaan Hans lagi. Kalau sampai mama menganggunya, jangan harap aku mau bertemu dengan mama lagi."
"Iya, Kai. Maafkan mama. Mama sangat merindukanmu," kata Bu Mirna sembari mengusap punggung tangan putranya.
"Tante....." terdengar suara gadis menyapa Bu Mirna. Gadis yang cantik, mata coklat, tubuh tinggi semampai bak model dengan rambut pirang dan kulit putih.
"Maaf ya Alexa terlambat."
"Tidak apa-apa sayang." Kata Bu Mirna.
"Sudah kuduga," batin Kai. Kai sama sekali tidak mempedulikan gadis cantik di hadapannya itu.
"Kai, kenalkan ini Alexa. Dia ini anak teman baik mama, tante Dela itu lho. Alexa ini juga sering bantu-bantu mama setiap ada fashion show. Lihat saja dia sangat cantik dan tubuhnya tinggi semampai,'' kata Bu Mirna penuh rasa bangga.
"Alexa," Alexa mengulurkan tangannya pada Kai. Alexa benar-benar terkesima melihat ketampanan Kai, ia langsung jatuh hati saat pertama menatap Kai.
"Kai!" singkat Kai sambil membalas uluran tangan Kai.
''Ya udah mah kalau begitu Kai pamit. Teman mama sudah datang kan.'' Kata Kai sembari beranjak dari duduknya.
''Kai, Alexa kan baru tiba. Masak iya, kamu mau pergi.''
''Maaf mah, aku sangat sibuk. Setelah ini ada meeting dengan klien.'' Kai kemudian berkaku meninggalkan restoran itu dengan menahan seluruh rasa kesalnya.
''Maafkan Kai ya, Alexa. Dia memang dingin seperti itu.''
''Tidak apa-apa tante. Aku menyukainya. Dia semakin membuat Alexa penasaran,'' kata Alexa dengan senyum kecilnya.
''Kamu bisa melakukan pendekatan dengannya. Kamu bisa pergi ke kantornya.''
__ADS_1
''Serius tante?''
''Serius. Kamu datang saja ke kantor Techno Group.''
''Techno Group kantor pemilik technogram yang sangat terkenal itu?''
''Iya, Alexa. Itu milik Kai. Sesuai dengan bibit, bebet dan bobot, kamu pantas memilikinya.''
''Ohhhh terima kasih tante dukungannya,'' kata Alexa sambil memeluk Bu Mirna.
''Sama-sama Alexa.''
-
Kai benar-benar kesal karena sikap mamanya yang mengambil keputusan begitu saja. Saat ia melihat keluar jendela, Kai melihat Ara sedang di pangkalan ojek.
''Berhenti pak!" seketika Pak Tio mengerem mobil mendadak.
''Ada apa tuan?''
''Aku turun disini saja.''
''Apa saya harus menjemput lagi, tuan?''
''Tidak perlu!" Kai lalu turun dari mobilnya. Dan Pak Tio kemudian segera pergi. Kai berlari menyeberang jalan dan menghampiri Ara.
''Ojek mbak!" kata Kai.
''Elo!" seru Ara.
''Kamu! Kamu gadis yang aku tabrak sekaligus penjual jus itu kan?''
''Iya. Syukurlah masih ingat.''
''Kamu ngojek kan?''
''Iya lah. Masak bajai sih,'' seloroh Ara.
''Tolong antar aku ke kantor. Tadi aku ada meeting dan mobil ku mogok.''
''Naiklah! tidak peduli alasan yang penting dapat duit,'' celetuknya lagi.
''Wah, Ra. Dapat penumpang cakep nih? pepet aja, Ra.'' Seloroh abang-abang teman ojek Ara
''Apanya bang yang di pepet? nanti yang ada lecet kalau di pepet! Pergi dulu ya, bang!"
''Hati-hati, Ra.''
''Oke bang!" Jawab Ara sambil mengacungkan jempolnya pada teman-teman ojeknya. Ara yang notabene pembalap, sekali mengegas motor, membuat Kai terperanjat kaget, sampai membuat Kai reflek memeluk Ara dengan erat.
''Mas, lepasin dong tangannya. Jangan macam-macam ya,'' kata Ara dengan galaknya. Kai baru menyadari bahwa sedari tadi tangannya melingkar dengan erat di pinggang Ara.
''Sorry-sorry.'' Kata Kai sambil buru-buru melepaskan tangannya. Sepanjang perjalanan, Kai hanya terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus bicara apa pada Ara. Sebaliknya Ara menganggap Kai sebagai penumpang biasa.
__ADS_1
''Nih cewek emang benar-benar tidak terpengaruh denganku. Kurang apa aku? tapi sikapnya benar-benar biasa padaku.'' Gumam Kai dalam hati sembari menahan takut karena Ara benar-benar sangat ngebut.
^^^Bersambung....^^^