Wanita Kesayangan Tuan Kaisar

Wanita Kesayangan Tuan Kaisar
13- Menyamar (2)


__ADS_3

Malam harinya, Ara kembali mengendap saat semuanya telah terlelap. Ara sangat bersemangat karena uang kemengan adalah lima juta. Jika ia mendapatkannya, ia berniat membeli mesin kopi untuk usaha menu barunya. Dengan menuntun motornya Ara mengendap-endap. Sudah ada Joni yang menunggunya di ujung gang.


''Gimana? aman?''


''Aman!" kata Ara sambil mengacungkan jempolnya.


''Jeki udah ada di lokasi kan?''


''Udah. Dia udah ada disana.''


''Ya udah boncengin gue.'' Pinta Ara pada Joni. Akhirnya Ara dan Joni sudah menunggu di lokasi.


''Busyet! ramai banget! banyak banget pesertanya!" seru Joni sesampainya disana.


''Hai, Jek!" kata Ara sambil adu tos dengan Jeki.


''Hai juga, Ra. Gimana? siap lo?''


''Siap lah!''


Dan aksi balap pun di mulai, balapan itu di ikuti oleh 7 peserta. Ara selalu mendapat sorakan yang meriah dari para pendukunganya. Ara pun berusaha fokus untuk mendapatkan hadiah itu. Ia ingin sekali bisa membeli mesin kopi untuk meningkatnya usahanya. Namun saat tinggal satu putaran, tiba-tiba saja ada seekor kucing yang memotong jalan Ara. Ara berusaha untuk menghindar supaya tidak melukai kucing itu. Namun yang terjadi, Ara membanting stir hingga ia terjatuh dengan motornya. Tubuh Ara pun terguling di jalanan.


"Aw... rintih Ara!" Sambil memeluk tubuhnya. Kai yang naik sepeda ontel, dengan segala penyamarannya, segera menolong Ara yang terjatuh. Kai panik, saat melihat Ara pingsan.


"Waduh gawat!" gumamnya.


"Tolong! tolong!" Hans yang membawa mobil segera menyusul Kai lalu membawa masuk Ara ke dalam mobilnya.


"Aduh bos gimana itu nasib anak orang?" kata Hans sembari fokus menyetir.


"Berdarah, Hans. Ayo cepat bawa dia ke rumah sakit."


"Aduh bos, gimana kalau sampai kenapa-kenapa?" Hans pun semakin panik. Ara berusaha membuka matanya dan melihat Kai dengan wujud penyamarannya. Lalu Ara kembali pingsan.


-


Sesampainya di rumah sakit, Ara segera di bawa ke ruang UGD.


''Hans, selesaikan administrasi dan pulanglah!" perintah Kai.


''Tapi bos beneran sendiri?''


''Teman Ara sudah tahu kejadian ini?''


''Sudah tahu, bos. Anak buah bos yang lain menyamar sebagai penonton, sudah memberitahu Joni dan Jeki. Mereka akan segera kemari. Lalu bos akan mengaku dengan nama apa?''


''Yuda. Saat kita belum saling mengenal, jangan panggil nama asliku.''

__ADS_1


''Siap bos!" Hans pun lalu segera pergi meninggalkan rumah sakit, setelah selesai melakukan pembayaran administrasi biaya Ara. Tak lama kemudian dokter pun keluar. Dan akting Kai pun di mulai.


''Dokter bagaimana keadaan pasien?''


''Apa kamu keluarganya?''


''Saya yang menolongnya. Tapi sebentar lagi keluarga pasien datang.''


''Hanya cedera ringan saja dan tidak ada luka serius. Luka darah di keningnya hanya sebuah benturan yang cukup keras. Satu atau dua hari lagi, pasien sudah boleh pulang.''


''Syukurlah! terima kasih dokter. Apa saya boleh melihatnya?''


''Silahkan. Kalau begitu saya permisi.''


''Iya dokter.'' Setelah dokter pergi, Kai kedalam ruang UGD. Ia melihat Ara terbaring dengan luka di kepala dan beberapa luka di lengan dan kakinya. Karena siku dan lutut Ara tergores aspal sangat keras, sehingga baju dan celana Ara robek. Kai merasa bersalah karena telah melakukan ini. Hal bodoh yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Ara kemudian perlahan membuka matanya. Ia melihat wajah seseorang yang tampak asing baginya.


''Syukurlah kamu sudah bangun,'' kata Kai yang memulai aktingnya.


''Aduh! gue dimana? dan elo siapa?'' kata Ara sambil memegangi kepalanya.


''Aku Yuda. Tadi yang nolongin kamu. Kamu di rumah sakit karena kecelakaan.'' Ara lalu terdiam dan mencoba mengingat apa yang baru saja menimpanya.


''Ara!" seru Jeki dan Joni kompak.


''Ya ampun, Ra. Gimana bisa seperti ini?'' kata Joni dengan panik.


''Sorry ya, kita udah kasih tau kakek sama nenek elo.'' Kata Joni pelan. Pandangan Joni dan Jeki lalu tertuju pada Kai.


''Dia siapa, Ra?'' tanya Jeki.


''Oh ya, dia Yuda. Dia yang nolongin gue.'' Kata Ara.


''Gue Jeki, temannya Ara. Makasih banget ya, elo udah nolongin Ara.'' Kata Jeki


''I-iya sama-sama.'' Kata Kai.


''Gue juga makasih elo udah tolongin Ara.'' Timpal Joni.


''Eh sebentar kayaknya elo nggak asing deh,'' sambung Joni yang mendekatkan wajahnya pada Kai. Kai tampak khawatir jika Joni mengenalinya. Kai yang memasang wajah culun dan tampang ketakutan, membuat Ara menegur Joni.


''Jon, apaan sih lo!" kata Ara.


''Kayak nggak asing tapi beda sih,'' kata Joni.


''Jek, siapa yang menang?'' tanya Ara.


''Elo masih mikirin itu aja, Ra. Udah ya jangan balapan lagi.''

__ADS_1


''Gue sebenarnya ikut balapan ini yang terakhir. Gue ngincar hadiahnya buat beli mesin kopi.''


''Ya udah lah, Ra. Jangan di pikirin. Nanti gue pinjamin uang kalau elo mau,'' kata Joni.


''Nggak Jon. Gue nggak mau ngrepotin elo.''


''Ara....," suara kakek dan nenek Ara terdengar. Kakek dan nenek lalu kompak memeluk Ara sambil menangis.


''Kek, nek, udah Ara nggak apa-apa.''


''Kenapa bohong sama kakek dan nenek Ara? tadinya kakek dan nenek tidak percaya. Karena kamar kamu terkunci dan radio kamu menyala. Tapi setelah warga mendobrak, kamu tidak ada di kamar.'' Cerita Kakek Salih sambil menahan tangisnya.


''Kamu jangan balapan lagi ya, nak? kalau kamu ingin nenek dan kakek panjang umur.'' Kata nenek Inah, sembari menangis.


''Joni, Jeki, seharusnya kalian bisa melarang Ara. Bukanya malah menurut dengan Ara.'' Kata Kakek Salih menegur Joni dan Jeki.


''Kek, jangan marahin mereka. Mereka nggaj salah. Ara yang salah karena selalu memaksa mereka dan mengancam mereka supaya tidak memberitahu nenek dan kakek.''


''Oh ya, ini Yuda. Dia yang menyelamatkan Ara.''


''Yuda nek, kek.'' Kata Kai sambil menjabat tangan kakek dan nenek.


''Terima kasih ya kamu sudah menolong Ara.'' Kata kakek.


''Sama-sama kek.'' Kai lalu memundurkan langkahnya saat melihat mereka sedang sibuk berbicara. Kai kemudian pergi begitu saja meninggalkan ruangan.


...****************...


Begitu sampai di rumah, Kai melepas wig, kacamata dan behel yang ada pada giginya. Ia segera menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu ia membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Ia kembali teringat dengan Ara. Kai menyesal melakukan rencana seperti ini. Apalagi Ara ingin mendapatkan uang untuk membeli mesin kopi.


''Mesin kopi? bukankah dia menjual jus?'' gumam Kai. Kai kemudian meraih ponselnya yang berada di nakas lalu membuka media sosial milik Ara.


''Oh rupanya dia sedang membuat menu baru. Pantas saja dia membutuhkan mesin kopi.'' Kai kemudian menelepon Hans. Hans yang baru saja terlelap, sangat kesal karena mendengar ponselnya berdering. Apalagi ini sudah tengah malam. Tanpa melihat nama di layar ponselnya, Hans mengangkatnya begitu saja dengan suara malas.


''Halo, siapa sih ganggu aja.''


''Hans!" saat mendengar suara tegas bosnya di seberang sana, membuat mata Hans langsung terbuka lebar.


''Ma-maaf bos. Aku pikir siapa?''


''Tolong belikan aku mesin kopi terbaik dan blender terbaik.''


''Untuk apa bos? bos mau jualan kopi daj jus?''


''Jangan banyak tanya. Lakukan saja!" Kai langsung memutus sambungan teleponnya. Hans mengacak rambutnya kesal karena bosnya selalu menyuruhnya melakukan sesuatu yang aneh di luar nalarnya bahkan di luar pekerjaannya.


Bersambung... Habis baca, jangan lupa buat like, komen dan vote ya, makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2