
"Maaf ya menunggu lama.'' Kata Kai yang baru saja keluar dari toilet.
''Iya nggak apa-apa. Emang keterlaluan tuh cewek. Ya udah sekarang kita ke butik teman aku ya.''
''Iya.''
Kai dan Ara lalu melanjutkan perjalanan menuju butik Dinda. Kai selalu saja ketakutan saat di bonceng Ara.
''Ara, pelan-pelan saja. Kamu baru saja sembuh. Kasihan kakek dan nenek kamu.''
''Iya-iya. Habisnya udah biasa kayak gini.'' Jawab Ara dengan entengnya.
''Nih cewek emang nggak ada kapoknya ya habis jatuh juga,'' gumam Kai dalam hati. Sesampainya di butik Dinda, Ara menyuruh Yuda untuk menunggu di depan saja, sementara Ara masuk sembari membawa pesanannya.
''Selamat siang nona Dinda.'' Sapa Ara.
''Mmmm pakai nona segala. Kapan nih mampir ke rumah? mama nanyain lho.''
''Sorry ya, Din. Kayaknya akhir-akhir ini belum bisa, pesanan lagi banyak.''
''Alhamdulillah. Gue ikut seneng dengernya. Kopi buatan elo enak banget apalagi browniesnya. Kombinasi yang pas.''
''Makasih ya, Din. Elo emang sahabat terbaik.''
''Oh ya ini uanganya, Ra.''
''Gue terima ya, Din.''
''Ya iyalah, elo kan kerja. Gue doain orderan elo makin ramai. Sekalian gue bantu promosi deh.''
''Ini brosurnya kalau gitu, nitip ya, Din. Delivery order free ongkir.''
''Oke deh siap!"
''Ya udah kalau gitu gue balik ya. Sukses ya Din buat butiknya.''
''Sukses buat elo juga ya, Ra.''
''Amin.'' Kedua sahabat itupun saling berpelukan. Setelah menuju butik Dinda, Ara mengajak Yuda untuk makan di warteg.
''Kita makan dulu, yuk! aku lapar.'' Kata Ara.
''Aku jadi nggak enak sama kamu, Ra.''
''Udah nggak apa-apa. Kamu mau makan apa?''
''Ngikut kamu aja deh.'' Kata Kai.
''Baiklah.''
''Buk, nasi, telur, tahu tempe sama sayur sop dua ya. Minumnya es teh dua.'' Pesan Ara pada Ibu warteg.
''Iya, mbak.'' Jawab Ibu warteg itu. Tak lama kemudian pesanan pun datang.
''Makan, Yud!" kata Ara.
''Iya, Ra.'' Kai memperhatikan Ara yang begitu lahap makan, sementara Kai ragu untuk memakannya.
''Kenapa Yud? nggak suka?'' tanya Ara yang melihat Yuda seperti tidak nafsu makan.
''Su-suka kok.'' Kai pun lalu mulai makan.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Ara mengajak Yuda menuju taman.
''Yud, rumah kamu dimana? biar aku antar.''
''Aku sebenarnya merantau disini, Ra. Aku sudah tidak memiliki orang tua jadi aku memutuskan untuk merantau mengadu nasib. Ya, siapa tahu aku bisa sukses disini. Dan aku baru di usir juga dari kontrakan karena tidak bisa bayar. Aku pamit ya.'' Kata Kai yang beranjak dari duduknya, namun tangan Ara menahannya.
''Mau kemana, Yud?''
''Aku mau cari kontrakan, Ra.''
''Memangnya kamu udah ada uang? aku belum bayar kamu lho.''
''Kamu tidak usah membayarnya, Ra. Kamu hari ini sudah menolong aku dan traktir aku makan. Jadi kamu tidak usah merasa hutang budi.''
''Yuda, kita itu senasib. Aku juga berjuang untuk hidup aku. Jadi aku akan bantu kamu. Kamu juga mau kan bantu aku antar kopi? kayaknya orderan aku makin banyak. Tapi ya gitu upahnya tidak banyak.''
''Aku mau, Ra. Sedikit tidak apa-apa. Lagi pula iku juga cuma lulusan SMP. Sudah beruntung bisa mendapat pekerjaan.''
''Semangat ya, Yud. Jaman sekarang asal kita kreatif dan punya keahlian, kita bisa kok menghasilkan uang. Ini upah kamu hari ini.'' Kata Ara sambil mengulurkan selembar uang 50 ribu pada Kai.
''Aku kerja sebentar kok sudah dapat uang segini?''
''Sudah tidak apa-apa. Sekarang ayo ikut aku. Aku antar kamu cari kontrakan yang murah dan bisa di bayar belakangan.''
''Memangnya ada di kota seperti ini?''
''Adalah. Ayo kita pulang! udah sore juga.''
''Terima kasih ya. Ternyata masih saja ada orang baik seperti kamu. Padahal kita baru kenal.''
''Kamu juga baik. Buktinya kamu bawa aku ke rumah sakit. Iya kan?''
...****************...
Ara langsung membawa Yuda ke rumah Joni. Joni yang kebetulan sedang mencuci motor sport di halamab rumahnya, sangat senang melihat Ara.
''Ra, ada apa? mau pinjam motor lagi?''
''Nggak lah.''
''Eh ini kan si rambut mangkok yang di rumah sakit kan?'' kata Joni saat melihat Yuda.
''Sialan! dia memanggilku rambut mangkok,'' gerutu Kai dalam hati menahan kesal.
''Mulut lo, Jon! gue tampol nih!" kata Ara sambil menunjukkan kepalan tangannya pada Joni.
''Hehehe sorry-sorry. Ada apa, Ra?''
''Masih ada kontrakan nggak?''
''Buat siapa?''
''Ini buat Yuda. Kasihan dia, Jon. Dia baru aja di usir dari kontrakan lamanya.''
''Ada sih, ya udah ikut gue kalau gitu.'' Joni lalu mengajak Ara dan Kai berjalan sekitar 100 meter dari rumah Joni. Rumah itu terletak di gang yang sempit. Kai terbelalak saat melihat rumah itu, rumah yang memang jauh dari kata mewah.
''Ini rumahnya. Cuma ada satu kamar, ruang tamu, sama dapur. Kamar mandinya di belakang tapi kalau mandi, mesti nimba air dulu.'' Kata Joni sambil mengajak Ara dan Kai melihat rumah itu.
''Apa nimba air? Terus ini rumah manusia apa keong?'' gumam Kai dalam hati. Tentu saja Kai yang lahir di keluarga berada sangat terkejut melihat rumah yang ada di hadapannya itu. Apalagi dengan kamar mandi yang sudah jelas sangat berbeda jauh dari rumahnya.
''Jon, bayarnya belakang ya? kasihan Yuda. Dia juga udah baik nolongin gue.''
__ADS_1
''Iya udahlah nggak apa-apa. Demi elo ya, Ra.''
''Gimana rambut mangkok? mau nggak tinggal disini?'' tanya Joni.
''Iya tidak apa-apa. Yang penting kan tidak kepanasan dan kehujanan.'' Kata Kai.
''Makasih ya, Jon. Elo baik banget. Tapi nggak ada kontrakan lain?''
''Nggak ada, ini doang yang kosong.''
''Yuda, kamu beneran nggak apa-apa?''
''Nggak apa-apa, Ra. Udah biasa kok.''
''Ya udah kalau gitu, aku balik ya. Selamat istirahat dan jangan lupa besok ke rumah aku ya.''
''Iya makasih ya, Ra. Joni, makasih ya.''
''Iya rambut mangkok, santai aja.''
''Joni, dia namanya itu Yuda. Emang elo mau gue panggil si bibir dower?''
''Enak aja dower. Seksi tahu!"
''Udah ah gue mau balik.'' Kata Ara.
''Hati-hati, Ra.'' Kata Joni.
''Oke.'' Ara segera menaiki motornya lalu pulang menuju rumahnya.
-
Setelah mandi dan bersih, Kai lalu menelpon Hans.
''Halo, Hans? apa masih di kantor?''
''Iya bos. Ada yang bos butuhkan?''
''Tidak! aku sudah mendapat kontrakan.''
''Dimana bos?''
''Tidak jauh dari rumah Ara. Ya, tapi kondisinya sangat mengenaskan. Aku harus menimba hanya untuk mandi. Bahkan hanya ada satu kamar. Makan pun harus di ruang tamu karena dapur yang sempit. Belum apa-apa aku sudah gila!"
Tawa Hans terbahak-bahak terdengar dari seberang sana.
''Siapa yang suruh si bos nyamar kayak gitu? kenapa nggak deketin langsung aja sih?''
''Gimana mau deketin, pas jadi Kaisar, dia aja ogah gitu tapi pas jadi Yuda, dia sangat baik.''
''Terus sampai kapan bos bakal kayak gini?''
''Tidak tahu, Hans. Setidaknya dengan menyamar, aku bisa tahu siapa yang tulus daj siapa yang tidak. Terutama Alexa!"
''Iya juga ya, bos. Oh ya tadi tuan Erik telepon, katanya besok pagi dia sampai di Indonesia.''
''Baiklah, Hans. Lakukan pekerjaanmu dengan baik.''
''Siap bos!" Kai lalu mengakhiri panggilannya.
Bersambung....
__ADS_1