Wanita Kesayangan Tuan Kaisar

Wanita Kesayangan Tuan Kaisar
7- Gadis Dingin


__ADS_3

Saat tiba di rumah Jeki, ternyata Jeki sedang berada di teras rumahnya. Dan ada Dewi juga disana.


''Malam, Jek! malam, Dew!" sapa Ara.


''Elo kok udah disini aja, Ra?''


''Iya nih! gue suntuk jadi langsung kesini aja. Sorry ya ganggu waktu kalian.''


''Mau balapan lagi?'' sahut Dewi.


''Iya, Dew. Emang mau kemana lagi.'' Jawab Ara dengan entengnya.


''Ra, elo bisa berhenti balapan nggak sih? kalau ada apa-apa gimana, Ra? nggak usah tuh peduliin si Jeki.'' Kata Dewi yang juga merasa khawatir dengan keselamatan Ara.


''Cuma ini yang menguntungkan, Dew. Elo tahu sendiri kan?''


''Mending elo cari kerja lain deh yang aman, Ra. Kalau kakek sama nenek tahu gimana? mereka pasti sedih dan merasa bersalah.''


''Gue pikir-pikir lagi deh nanti,'' jawab Ara dengan senyum kudanya.


''Mending cari pacar atau suami, Ra. Biar kehidupan elo terjamin.'' Kata Dewi.


''Pacar yang kayak gimana, Dew? ganteng, kaya, keren, iya? gue sih ogah nyari yang model begituan. Bikin sakit hati! elo lihat aja nasib gue kayak gini. Gara-gara dia, mama sampai pergi dan nggak bisa kembali. Cowok model kayak gitu, udah pasti nggak setia. Banyak main perempuan! justru elo beruntung dapat si Jeki. Pas-pasan tapi setia!"


''Iya juga sih! Iya beruntung banget bisa dapetin Mas Jeki!" kata Dewi sambil melirik manja ke arah si Jeki yang hitam manis.


''Gue mah bukan pas-pasan cuma kurang modal aja, Ra.'' Celetuk Jeki yang mengundang tawa Ara.


''Hahahaha bisa aja lo! Jek, kalau elo nanti nikah sama Dewi dan udah jadi suaminya Dewi, tolong jangan sakiti Dewi. Jaga dia baik-baik ya, jadi cowok yang setia dan bertanggung jawab, apalagi muka pas-pasan jangan banyak tingkah. Dan elo Dewi, kalau Jeki sampai nyakitin elo, elo bilang sama gue, biar gue bikin muka Jeki makin berantakan!" kata Ara.


''Omongan elo awalnya enak banget bikin adem tapi ujung-ujungnya nyes banget di hati,'' kata Jeki yang merasa teraniaya oleh ucapan Ara. Sementara Ara hanya tertawa terbahak mendengar ucapan Jeki.


''Udahlah pokoknya gue bahagia banget lihat kalian. Elo juga ya Dew, jaga hati buat Jeki. Jangan sakiti Jeki, jangan tergoda sama good looking dan banyak harta karena itu semu.'' Kata Ara.


''Ra, elo ngomong kayak elo punya pasangan aja. Elo jomblo sok-sokan nasihati kita. Nasihati diri elo, biar warga nggak mikir kalau elo suka sesama jenis.'' Kata Jeki.


''Biarin lah orang mau bilang apa, Jek. Gue nggak peduli sama sekali. Orang-orang nggak tahu apa yang gue alami selama ini. Meskipun gue tahu, nggak semua cowok kayak gitu. Tapi bokap gue udah goresin luka yang dalam banget. Bahkan sampai detik ini, dia nggak pernah nyariin gue. Jadi gue nggak peduli orang mau bicara apa tentang gue. Gue bahagia hidup seperti ini. Ada kakek dan nenek di samping gue, udah cukup buat gue bahagia. Gue nggak butuh apa-apa lagi selain mereka yang selalu nguatin gue. Cuma mereka orang tua yang gue punya. Ada elo, Dewi dan Joni, udah cukup dalam hidup gue.'' Tak terasa bulir air mata jatuh membasahi pipi Ara. Ara ingat betul bagaimana papanya berhianat dan meninggalkannya begitu saja. Seorang ayah yang seharusnya memberikan kenangan indah untuk putrinya tapi justru sebaliknya. Kenangan buruk yang di goreskan papanya terlalu dalam sehingga membuat Ara menjadi trauma. Dewi lalu mendekati Ara dan memeluknya.

__ADS_1


''Sabar ya, Ra. Gue yakin kok, pasti ada laki-laki seperti itu. Dan gue jamin papa elo pasti nyesel banget. Sabar ya.'' Kata Dewi menenangkan Ara.


''Udah dong, Ra. Jangan sedih, gue ikutan mewek nih!" sahut Jeki yang ternyata memang sudah menangis, mata dan wajah Jeki pun sudah basah. Ara dan Dewi hanya bisa menggelengkan kepala tanda heran. Namun sikap Jeki, selalu berhasi membuat Ara melupakan kesedihannya.


...****************...


Sementara itu Kai sedang dalam perjalanan pulang. Kali ini ia menyetir sendiri. Namun tiba-tiba saja mobilnya berhenti tepat di jalanan yang sepi.


''Sial! kenapa sih tiba-tiba berhenti sih.'' Gerutu Kai. Ia kemudian melihat kearah tanda bensin dan ternyata habis.


''Habis? masak iya mobil orang kaya bisa kehabisan bensin. Pasti Hans ini yang ceroboh sampai lupa bensin tidak di isi.'' Gerutu Kai kembali. Kai kemudian mengeluarkan ponsel dalam saku kemejanya dan sialnya lagi, ponselnya juga mati.


''Kesialan macam apa ini? ponsel juga mati. Astaga!'' Kai kemudian keluar dari mobilnya dan mencoba mencari bantuan. Jalanan itu sangat sepi namun di ujung jalan itu, ia melihat keramaian.


''Ada apa ramai-ramai disana? kebetulan lah banyak orang disana. Siapa tahu ada penjual bensin eceran,'' kata Kai sembari berjalan menuju ke arah keramaian. Kai yang merasa kehadirannya pasti akan menjadi pusat perhatian, sudah menyematkan topi dan juga kacamata hitam yang bertengger di wajahnya. Kai, sangat terkejut bahwa disana ada balap liar. Kai yang penasaran, ikut masuk dalam kerumunan itu dan ia sangat terkejut saat melihat Ara sudah berada di atas motor.


''Hah? cewek itu. Serius dia ikut balap motor? wah keren juga tuh cewek.'' Gumam Kai dalam hati. Semua orang disana menyerukan nama Ara yang semakin membuat rasa percaya diri Ara meningkat.


''ARA! ARA! ARA! ARA!" Seru para penggemar setia Ara.


''Ayo, Ra! semangat!" imbuh Jeki sambil mengangkat kedua tangannya. Kai pun menjadi lupa jika mobilnya kehabisan bensin. Ia justru ikut larut dalam huru-hara balap motor liar itu. Dan motor pun mulai melaju. Kai pun ikut bertepuk tangan di tengah kerumunan itu.


''Yes! elo emang hebat, Ra!" kata Jeki sambil mengadu telapak tangannya pada telapak tangan Ara.


''Selamat ya, Ra. Elo emang nggak ada tandingannya.'' Kata lawan main Ara sambil menjabat tangan Ara.


''Nggak lah! gue lagi beruntung aja. Elo juga hebat, pasti lain kali elo juga bisa ngalahin gue.'' Kata Ara. Itulah kalimat yang selalu Ara katakan pada musuhnya yang kalah.


''Ini uangnya buat elo! elo pantas menang!" kata si pemilik acara balap liar itu.


''Makasih ya, Bang."


"Sama-sama. Lain kali mau dong jadi joki gue di tempat lain?'' kata Bang Ali.


''Siap Bang!''


''Ya udah ayo semuanya bubar! sebelum polisi datang!" seru Bang Ali pada yang lainnya. Semuanya pun bubar dan tinggalah Kai yang berdiri disana sendiri. Ara melihat Kai yang berdiri di deretan tempat penonton.

__ADS_1


''Eh Jek, siapa tuh orang? mencurigakan banget. Pakai topi sama kacamata hitam,'' bisik Ara pada Jeki.


''Jangan-jangan intel lagi, Ra. Kabur yuk!" kata Jeki sembari naik ke jok belakang motor Ara begitu saja.


''Iya nih. Tinggal kita doang lagi.'' Kata Ara sembari menyalakan kembali motornya. Kai yang melihat Ara akan pergi segera memanggilnya.


''Hei kalian! tunggu!" teriak Kai dengan suara lantang.


''Tuh kan benar, Ra. Mati deh kita! kabur, Ra!"


''Kalau tuh polisi bawa senjata terus kita di tembak gimana? elo aja yang mati ya!"


"Sorry! aku cuma minta bantuan,'' sela Aki yang melihat kepanikan di wajah Ara dan Jeki. Kai kemudian melepas topi dan kacamatanya. TAMPAN. Itulah yang ada dalam benak Jeki saat melihat Kai. Namun hal itu tidak berpengaruh bagi Ara.


''Gila, tampan bener sih!" celetuk Jeki.


''Maaf ya, anda siapa?''


''Apa kamu tidak mengingatku?''


''Mmmmmm siapa ya?''


''Mas, pak, bang, tuan, teman saya ini, mau ada cowok cakepnya kayak bintang film manapun, nggak akan ingat apalagi terpengaruh. Ingatnya sama yang jelek kayak saya,'' celetuk Jeki dengan terkekeh.


''Hah? masak sih?'' gumam Kai dalam hati tak percaya.


''Ya sudahlah kalau tidak ingat. Aku ingin minta tolong, mobilku kehabisan bensin di ujung jalan sana.''


''Jek, elo bantuin aja ya. Gue pulang dulu!"


''Lah kok gitu, bensinnya beli dimana Ra?''


''Itu di depan warung masih buka. Please ya, elo tahulah!"


''Ya udah deh kalau gitu.''


''Ya udah gue balik dulu ya. Permisi tuan!" pamit Ara sembari bergegas pulang. Kai hanya bisa tersenyum tipis melihat Ara yang sama sekali tidak melirik ke arahnya.

__ADS_1


''Iya lah gue ingat. Dia kan cowok yang waktu itu mabuk. Gue cuma ogah terlibat sama orang kaya kayak gitu. Lagian juga nggak penting." Gumam Ara dalam hati sambil terus melajukan motornya.


...Bersambung.......


__ADS_2