
Sesampainya di halaman depan kantornya, Kai segera turun dari motor Ara. Namun saat melepas helm, Kai merasa kesulitan.
''Bisa bantu lepaskan pengait helm ini?'' kata Kai.
''Yaelah mas bos, nglepas gini aja masak nggak bisa. Tapi emang radak susah sih, soalnya helmnya udah bertahun-tahun dan jarang di cuci, jadinya karatan. Semoga kepalanya nggak gatal ya,'' kata Ara denga jujurnya. Seketika mata Kai membulat mendengar ucapan Ara. Ara kemudian turun dari motornya lalu membantu Kai membuka pengait helm itu. Diam-diam Kai memandangi wajah Ara yang sebenarnya gadis di hadapannya itu sangat cantik. Wajah mereka pun sangat dekat.
''Akhirnya bisa juga, mas.'' Kata Ara sambil mengambil helm dari kepala Kai. Kai lalu menebas-nebas rambutnya, mengingat ucapan Ara bahwa helmnya itu sungguh menjijikkan untuknya.
''Kalau mas bos jijik, mending habis ini keramas ya.''
''Ini uangnya.''
''Banyak banget mas bos.''
''Sekalian beli helm baru. Supaya pelanggan kamu nyaman. Bau sekali!" kata Kai yang merasa ingin muntah.
''Hehehe maaf mas bos. Makasih ya. Semoga usahanya makin lancar, di berkahi, di beri keselamatan dan kelancaran dalam hal apapun ya mas bos. Bye..." cerocos Ara dengan senyum lebarnya. Kai hanya bisa terdiam mendengar celotehan Ara yang begitu santai padanya. Setelah Ara menghilang dari pandangannya, Kai segera kembali masuk ke kantornya. Kai lalu masuk ke ruangannya dan segera mencuci rambutnya di dalam kamar mandi yang terdapat dalam ruangannya. Ya, Kai sengaja mendesain ruangannya seperti itu. Supaya ia tidak perlu keluar masuk ruangan hanya sekedar ingin buang air kecil saja.
''Tok tok tok tok!" suara Hans mengetuk pintu ruangan bosnya. Hans kemudian segera masuk.
''Bos! dimana bos?'' panggil Hans.
''Tadi aku melihat bos masuk ke dalam ruangannya.'' Gumam Hans. Tiba-tiba Hans melonjak kaget saat melihat bosnya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menyelimuti kepalanya.
''Bos ngapain siang-siang keramas?'' tanya Hans yang merasa heran.
''Kena kutu!" ketus Kai.
''Cepat keringkan rambutku. Ambil hairdryer di laci,'' sambung Kai.
''Ba-baik bos!" Hans kemudian menggosok rambut bosnya dengan handuk. Setelah itu mengeringkannya dengan hairdryer.
''Sebenarnya aku ini sekretaris atau pegawai salon? kenapa juga di kantor ada hairdryer juga? memang si bos benar-benar aneh. Apa benar si bos benar-benar belok? makanya dia sangat menjaga penampilannya?'' gumam Hans dalam hati penuh tanya.
''Bos tadi sudah bertemu nyonya? apa nyonya baik-baik saja?''
''Seperti dugaanku. Dia membawakan seorang gadis untukku.''
''Cantik bos?''
''Biasa saja!" singkatnya.
''Masak sih, bos? memangnya bos tidak bisa membedakan gadis cantik sama gadis udik.'' Celetuk Hans.
''Kenapa mulutmu tiba-tiba seperti pria tulang lunak?''
''Otomatis bos karena si bos nyuruhnya pegang hairdryer, hehehe. Kenapa nggak ke salon saja bos?''
''Aku malas. Sudah jangan banyak bicara teruskan saja pekerjaanmu.'' Kata Kai sembari memainkan game buatannya sendiri dalam layar ponselnya.
...****************...
__ADS_1
Malam harinya, Ara bersama kakek dan neneknya sedang menikmati makan malam bersama.
''Oh ya nek, kuenya udah pada habis ya di warung-warung.''
''Iya, nak.''
''Ara juga sudah membelikan bahan-bahan untuk kue.''
''Makasih ya, Ra. Nenek bahagia sekali memiliki kamu.''
''Ara juga bahagia banget punya kakek sama nenek.''
''Ara, kamu tidak ingin menikah atau punya pacar dulu?'' tanya Kakek Salih tiba-tiba.
''Ah nanti dulu lah, Kek. Ara juga masih 23 tahun, belum 30 tahun.''
''Huss kamu itu. Masak mau jadi perawan tua,'' sahut nenek.
''Ara, kakek dan nenek ingin pergi dengan tenang setelah melihat kamu bersama dengan orang yang tepat.''
''Kek, Ara mohon ya, jangan bicarakan itu dulu. Ara belum siap. Ara tidak peduli dengan gunjingan para tetangga. Yang jelas, Ara masih normal.'' Kata Ara sembari menggenggam kedua tangan kakek dan neneknya. Ara tahu kekhawatiran kakek dan neneknya selama ini. Namun Ara tidak peduli dengan isu yang berkembang di luar sana.
-
Keesokan paginya, Ara sangan senang mendapat oderan jus lagi dari kantor Kai. Dengan semangat Ara membuatnya dan memberikan yang terbaik.
''Orederan lagi, Ra?'' tanya nenek.
''Alhamdulillah, nenek senang sekali mendengarnya.''
Setelah semuanya siap, Ara segera berangkat menuju kantor Kai. Seperti biasa Hans sudah menunggu Ara di depan pintu.
''Selamat siang tuan Hans,'' sapa Ara.
''Siang juga. Sudah siap semuanya?''
''Sudah. Mas bos pasti ketagihan ya sama jusnya?''
''Mas bos? siapa mas bos?''
''Ya pemilik kantor ini lah.''
''Tolong ya panggil dia tuan. Dia itu big bos.''
''Iya-iya, ribet amat,'' ketus Ara.
''Ya sudah ayo masuk. Yang ini langsung iamu antar ke ruangan tuan Kai ya.''
''Siap tuan Hans.'' Kata Ara sambil mengedipkan matanya.
''Tok tok tok tok!" suara Ara mengetuk pintu ruangan Kai.
__ADS_1
''Masuk!"
''Selamat siang tuan. Ini jus pesanan anda.'' Kata Ara dengan lebih sopan.
''Hhh tumben cewek ini sopan. Biasanya juga slengekan.'' Gumam Kai dalam hati.
''Ini uangnya.''
''Terima kasih tuan.''
''Oh ya sudah membeli helm?''
''Belum tuan. Tapi setelah ini saya akan membelinya.''
''Kenapa bicaramu aneh sekali dan tidak seperti biasanya?''
''Mmmm tuan Hans yang menegur saya. Tapi memang salah sih, anda kan bos besar, masak iya saya bersikap seperti itu. Sekali lagi maaf ya tuan.''
''Hans? kamu membuat jarak antara aku dan Ara,'' gerutu Kai dalam hati.
''Ya sudah pergilah!"
''Permisi tuan!" pamit Ara.
-
Beberapa saat kemudian, datanglah Alexa yang tanpa permisi.
''Selamat siang, Kai!" sapa Alexa sembari membawa lunch box untuk Kai.
''Siapa yang menyuruhmu datang kesini?'' tanya Kai dengan mengerutkan dahinya.
''Tidak ada yang menyuruh. Tante Mirna yang memberitahuku alamat kantormu. Aku membawakan makan siang untukmu, Kai.'' Alexa lalu mendekat dan berdiri di samping Kai sembari meletakkan makan siang di hadapan Kai.
''Aku membawakanmu sup jamur. Aku memang membelinya dan tidak memasaknya sendiri. Nanti kuku-ku bisa rusak,'' kata Alexa sembari membuka kotak makan itu.
''Aku sudah makan siang! sebaiknya kamu bawa kembali makananmu itu. Cukup kamu tahu, aku sama sekali tidak tertarik padamu!" tegas Kai. Alexa benar-benar sakit hati dengan sikap Kai yang tanpa basa-basi mengatakan hal yang sangat menyakitkan.
''Tapi aku tidak akan menyerah!" kata Alexa dengan kesal sembari berlalu meninggalkan ruangan Kai. Kai kemudian menekan interkom untuk memanggil Hans.
''Hans, ke ruanganku!"
Tak lama kemudian Hans pun datang.
''Iya bos!''
''Bawa ini makan siang untukmu. Aku mau keluar! Dan seharusnya kamu tidak usah ikut campur bagaimana Ara memanggilku.''
''Ba-baik bos. Maaf!"
Kai kemudian berlalu meninggalkan ruangannya. Hari ini ia ada janji meninjau hotel bersama papanya.
__ADS_1
Bersambung....