
Dua hari sudah Ara di rawat di rumah sakit. Kini nenek sedang membantu Ara mengemas pakaiannya.
''Oh ya orang itu kemana ya?'' kata Nenek.
''Orang mana sih nek?''
''Yang kemarin nyelamatin kamu.''
''Ah iya juga ya, nek. Nggak sempat minta nomor teleponnya juga. Kayaknya dia pergi begitu saja.''
Setelah merapikan semuanya, Ara dan Nenek Inah segera menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan pembayaran.
''Sudah lunas semua mbak.'' Kata suster tersebut.
''Lunas? siapa yang membayarnya sus?'' tanya Ara yang sangat terkejut.
''Pihak rumah sakit menggratiskan biayanya mbak. Karena kemarin adalah ulang tahun ke- 15 rumah sakit ini.'' Kata suster tersebut. Sebuah alasan yang sulit di terima oleh Ara. Namun semua itu sudah menjadi bagian rencana Kai.
''Ulang tahun rumah sakit? emang iya ya?'' gumamnya penuh rasa bingung.
''Kalau begitu terima kasih ya, sus. Permisi.'' Ara dan Nenek akhirnya pulang dengan naik angkot.
-
Sesampainya di rumah, Ara segera menuju kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara nenek kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Ara kini merasa bingung apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan uang lebih karena ia sudah berjanji untuk tidak ikut balap liar lagi.
''Gue sempat lihat online harga mesin kopi kisaran 4 jutaan. Mesti lama nih kumpulinnya.'' Gumam Ara dalam hati sambil mendengus.
Sementara itu di luar rumah, sebuah mobil mewah turun di depan rumah Ara. Kakek yang sedang menyisir bambu di halaman depan, merasa terkejut saat mobil mewah itu berhenti di depan rumahnya. Dan keluarlah Kai dari pintu belakang mobil. Kakek tidak percaya ada seorang pangeran yang datang kerumahnya.
''Selamat siang, Kek. Apa benar ini rumah Ara?'' tanya Hans yang mendekat ke arah kakek Salih.
''Iya benar. Kalian siapa?'' tanya kakek.
''Perkenalkan ini bos saya, Kek. Namanya Kaisar. Bos saya ini ingin bertemu dengan Ara.''
''Selamat siang, Kek. Saya Kaisar biasa di panggil Kai. Saya ada perlu penting dengan Kai.''
''Apa cucu saya membuat masalah?''
''Oh tidak, Kek. Justru saya membuat masalah dan saya kemari ingin minta maaf.''
''Kalau begitu mari masuk.'' Ajak Kakek salih. Pandangan Kai tak berhenti mengedar melihat rumah Ara yang sangat kecil baginya.
__ADS_1
''Ara! ada tamu untuk kamu, nak!" panggil Kakek Salih.
''Iya, Kek.'' Sahut Ara dari dalam kamarnya. Ara pun segera beranjak dari tempat tidurnya. Ara sangat terkejut bahwa tamu itu adalah Kai.
''Mas bos! ngapain kesini? kok tahu rumah saya?'' kata Ara.
''Bukan hal yang sulit untuk menemukan rumahmu.''
''Mau minum apa mas bos?''
''Tidak perlu repot-repot. Hans, ambilkan barangnya di mobil.''
''Baik, bos!"
''Ngapain sih kesini segala. Kita kan tidak ada urusan.'' Ketus Ara.
''Ara, tidak boleh begitu.'' Tegur kakek.
''Lho ada tamu! Ya Allah ini siapa? ganteng banget. Apa pacar kamu, Ra? nenek senang sekali setelah 23 tahun akhirnya kamu punya pacar yang super bening,'' kata Nek Inah dengan begitu gembira.
''Nenek, dia bukan pacar Ara. Kenal dekat juga nggak. Ara nggak tahu dia kesini mau ngapain.'' Bantah Ara. Ara tampak kesal dengan kedatangan Kaisar.
''Mungkin sekarang belum. Siapa tahu nanti.'' Celetuk Nenek.
''Apa ini?'' tanya Ara.
''Mesin kopi,'' singkat Kai.
''Mesin kopi? untuk apa bawa mesin kopi kemari?'' tanya Ara dengan penuh rasa heran.
''Kakek, nenek jadi begini sebenarnya beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja menabrak cucu kesayangan anda ini. Waktu itu saya sudah ganti rugi untuk biaya servis motor tapi saya masih tidak tenang. Jadi saya kesini ingin menebus kesalahan saya dengan membawakan mesin kopi dan juga mesin pembuat jus ini. Kebetulan saya pernah memesan jus milik Ara untuk karyawan di kantor dan memang rasanya sangat enak. Dan saat saya melihat di media sosial Ara, saat melihat dia sedang membuat menu baru yaitu kopi. Jadi saya putuskan untuk membeli alat ini.'' Jelas Kai.
''Wah, kamu baik sekali ya nak. Dan sangat bertanggung jawab.'' Puji Nek Inah.
''Tapi Ra, kapan kamu kecelakaan? apa sebelumnya pernah kecelakaan juga?'' selidik Kakek.
''Iya waktu itu tengah malam, Kek. Waktu itu sama teman laki-lakinya. Saya yang salah karena saya habis minum, lagian juga tengah malam kenapa perempuan bisa berkeliaran?'' celetuk Kai yang membuat Ara justru kesal.
''Dasar ember. Apa sih maksudnya? kenapa berurusan sama dia lagi,'' gerutu Ara dalam hati.
''Mmmm itu Kek, Ara pergi sama Joni.''
''Tengah malam sama Joni ngapain? jadi selama ini kamu suka kabur tengah malam?'' kata Kakek dengan suara meninggi.
__ADS_1
''Maaf Kek. Ara habis balapan waktu itu tapi Ara janji kemarin yang terakhir.'' Ucap Ara dengan penuh rasa bersalah.
''Kamu ini perempuan, Ara. Bersikaplah seperti perempuan! Kamu mau bikin kakek jantungan apa?''
''Iya, Kek. Maaf. Ara janji.'' Kata Ara merajuk sambil memeluk lengan kakeknya.
''Ehem... Begini saja, Kek. Saya mau menawarkan Ara kerja di perusahaan saya. Tentunya sesuai dengan ijazah yang Ara miliki.'' Sahut Kai yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
''Nah itu lebih baik. Kamu kerja saja di perusahaan nak Kaisar.'' Kata Kakek.
''Tapi Kek, Ara tidak bisa bekerja di tempat yang terikat. Kakek kan tahu, Ara kerjanya pindah-pindah nggak bisa terikat hanya satu tempat. Ara lebih senang punya usaha sendiri jadi nggak ada yang ngatur dan tidak ada yang mengikat.'' Kata Ara.
''Jadi lebih baik mas bos pulang saja. Terima kasih untuk tawarannya tapi saya tidak mau. Dan bawa saja mesin kopi juga jus ini.'' Sambung Ara.
''Tolong nona Ara, terima ini semua.'' Kata Hans.
''Nona? sejak kapan elo panggil gue nona?'' celetuk Ara pada Hans.
''Sejak sekarang.'' Jawab Hans.
''Kalau bukan incarannya bos, udah gue tutup tuh mulut. Nih cewek emang nyebelin.'' Gumam Hans dalam hati.
''Gue sebel banget sama si tuan Hans ini. Cerewet dan gila hormat,'' gumam Ara dalam hati.
''Tolong nona terima. Karena bos tidak bisa tidur nyenyak memikirkan kecelakaan itu. Jiwanya tergoncang, nafsu makan berkurang, bahkan hampir saja gila karena merasa bersalah.'' Kata Hans yang melebih-lebihkan cerita. Kai tampak kesal mendengar ucapan Hans yang sungguh menjengkelkan.
''Ara, tuan Kaisar sudah datang kemari dengan niat baik. Jadi jangan kamu tolak ya. Ini adakah rezeki, bukankah kamu juga membutuhkannya? sangat jarang sekali ada orang yang mau bertanggung jawab seperti ini.'' Kata nenek yang mencoba membujuk Ara.
''Hmmm iya juga sih! mana mesinnya keren banget. Ini pasti mahal banget.'' Gumam Ara dalam hati.
''Baiklah! aku menerimanya.'' Singkat Ara dengan memasang wajah juteknya.
''Sekarang aku bisa tenang karena kamu sudah menerimanya. Baiklah kalau begitu besok siapkan 100 cup kopi buatan kamu. Tolong antar jam 11 ya, jangan telat. Besok ada meeting.'' Kata Kai.
''100 mas bos? serius?'' tanya Ara seolah tak percaya.
''Iya. Kalau begitu kami permisi, Kakek-nenek.''
''Terima kasih tuan Kaisar. Hati-hati ya.'' Pesan Kakek.
''Iya, Kek. Oh ya lain kali panggil nama saja.'' Kata Kai dengan ramah. Kai dan Hans pun meninggalkan rumah Ara.
...Bersambung.......
__ADS_1