
Keesokan harinya, Kai yang masih menyamar menjadi Yuda, pergi ke rumah Ara dengan jalan kaki.
''Mau kemana si rambut mangkok?'' gumam Joni saat melihat Kai melintas di depan rumahnya.
Sesampainya di rumah Ara, kebetulan sekali Ara baru saja pulang dari pasar.
''Pagi Ara!" sapa Kai sembari membenarkan posisi kacamata tebalnya itu.
''Pagi, Yud. Udah disini aja.''
''Aku kan semangat kerja. Masak udah kamu tolongin, aku mau malas-malasan.''
''Ya udah, tolong bantu bawa belanjaan gue ya.''
''Oke.'' Saat masuk ke dalam rumah Ara, Yuda melihat Nek Inah sedang menyiapkan sarapan di bantu oleh Kakek.
''Pagi, Kek-Nek,'' sapa Yuda dengan ramah.
''Lho kamu yang ada di rumah sakit itukan?'' tanya Nenek. Yuda pun menghentikan langkahnya sejenak untuk menjawab pertanyaan nenek.
''Iya, nek. Saya Yuda. Nek, saya permisi ke belakang dulu ya.''
''Iya, setelah itu kamu sekalian sarapan.''
''Iya, nek.'' Jawab Kai. Setelah membantu membawa belanjaan ke belakang, Yuda dan Ara menuju meja makan.
''Ayo makan, Yud. Elo pasti belum sarapan kan?'' tebak Ara sembari menuangkan nasi ke dalam piringnya.
''I-iya, belum.''
''Ya udah ambil aja. Nggak usah sungkan.'' Kata Ara.
''Iya Yuda. Ayo makan!'' sahut Kakek. Kai hanya mengangguk sambil memaksa senyumnya. Pandangan Kai mengedar ke arah meja makan. Melihat hanya ada tahu, tempe, sambal dan kangkung yang sepertinya di tumis.
''Apa setiap hari Ara makan seperti ini?'' gumam Kai dalam hati. Menelisik kehidupan Ara lebih dalam, entah kenapa membuat Kai merasa kasihan dengan Ara. Apalagi dengan masa lalunya yang sangat menyakitkan. Dengan ragu, Kai menuang nasi ke dalam piringnya. Kai juga berusaha mengikuti cara makan Ara, kakek dan juga neneknya yang makan menggunakan tangan. Sesuatu hal yang tidak pernah Kai lakukan sebelumnya. Kai benar-benar kesulitan makan menggunkan tangan tapi ia harus melakukannya supaya Ara tidak curiga. Hanya suapan kecil yang berhasil di tangkap oleh tangan Kai. Suapan pertama masuk ke dalam mulut Kai dan entah kenapa masakan sederhana itu amat sangat nikmat.
''Mmmmm enak sekali masakannya.'' Puji Kai dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
''Syukurlah kalau kamu suka, nak.'' Kata nenek.
''Boleh tambah nggak nek?'' tanya Kai dengan wajah penuh antusias.
''Boleh lah. Ayo makan yang banyak.'' Kata Nek Inah. Dengan semangat Kai menuangkan nasi ke dalam piringnya. Menambahkan tempe, tahu dan juga kangkung sampai tak bersisa. Kai makan seperti orang yang kalap, lebih tepatnya seperti orang kelaparan. Ara, kakek dan nenek saling menatap melihat Kai yang makan begitu semangat.
''Pelan-pelan, Yud.'' Kata Ara.
''Kasihan sekali Yuda. Nasibnya sama kayak gue, apalagi dia udah yatim piatu,'' gumam Ara dalam hati sambil melihat Kai yang begitu semangat untuk makan.
''Oh ya, Kek-Nek. Mulai sekarang Ara akan di bantu Yuda. Kasihan dia lagi cari kerja. Dan dia juga tinggal di kontrakan milik Joni. Ara tadi kemarin lagi sama Yuda. Dia butuh pekerjaan dan tempat tinggal. Ya udah Ara minta aja untuk bantu Ara. Apalagi Yuda kemarin sudah menolong Ara kan?''
''Tidak apa-apa, Ra. Baguslah kalau kita bisa membantu orang lain. Meskipun kita miskin tapi kita masih bermanfaat untuk orang lain. Lagipula membantu orang jangan menunggu kaya. Kalau menunggu kaya, kapan kita mau membantunya,'' kata Kakek Salih dengan tawa kecilnya. Seketika Kai merasa tertampar dengan ucapan Kakek Salih.
''Iya, Kek. Semua nasihat kakek, Ara ingat.''
''Oh ya, Yud. Habis ini ngantar ke kantor Techno Grup ya. Elo masih mau kan?''
''I-iya. Mau kok.''
''Ya udah elo habisin aja makannya. Gue ke dapur dulu.''
''Kakek hati-hati ya.''
''Iya, Ra. Tenang saja, kakek ini masih kuat lho.'' Kata Kakek Salih seraya tertawa.
Setelah semua pesanan siap, Ara dan Kai segera berangkat untuk mengantar pesanan. Kali ini Kai masih membonceng, tentu saja dia pura-pura belum hafal semua daerah yang di tuju Ara. Dan Ara melakukan itu supaya suati saat Kai lah yang di berikan tugas untuk delivery order, sementara Ara fokus untuk membuat pesanan yang masuk.
-
Kai sangat terkejut saat mereka tiba di kantor Pak Kusuma, papanya Kai.
''Ngapain kita kesini?'' ceplos Kai. Ara memicingkan matanya menatap Kai.
''Gimana sih? kita kesini mau antar kopi sama jus pesanan tuan Kusuma. Seneng banget deh, para bos besar suka sama kopi dan jus buatan gue,'' kata Ara dengan senyumnya.
''Bodoh! hampir saja aku kelepasan,'' gumak Kai dalam hati.
__ADS_1
''Oh iya lupa, hehehe. Maaf,'' ucap Kai berlagak bodoh.
''Ya udah ayo bantuin. Ini banana smoothies pesanan spesial tuan Kusuma.'' Ara lalu melangkahkan kakinya menuju ruang Pak Kusuma.
''Huft, semoga papa tidak mengenaliku,'' gumam Kai dalam hati. Mereka harus naik lift menuju lantai lima, ruangan Pak Kusuma.
''Tok tok tok tok!" suara Ara mengetuk pintu.
''Masuk!" jawab Pak Kusuma. Security dan resepsionis, sudah lama mengenal Ara jadi Ara tidak perlu lagi meminta ijin. Apalagi Pak Kusuma sudah dua tahun lebih menjadi pelanggan tetap Ara. Entah kenapa Pak Kusuma sangat menyukai jus buatan Ara, padahal Ara merasa di tempat lain ada yang lebih enak dari miliknya apalagi untuk sekelas bos seperti Pak Kusuma.
''Siang Tuan,'' sapa Ara dengan ramah. Kai pun mengekor Ara.
''Siang Ara. Bagaimana kabarmu? sudah beberapa minggu tidak minum jus buatanmu, rasanya mulut ini pahit,'' guraunya. Mata Pak Kusuma lalu melihat ke arah Kai yang menyamar.
''Saya baik, tuan. Untung saja kecelakaan yang saya alami tidak parah,'' ucapnya dengan senyum.
''Syukurlah, Ara. Siapa dia?''
''Oh ini Yuda. Berhubung orderan semakin banyak jadi saya butuh teman untuk membantu,'' ucap Ara dengan senyum lebarnya.
''Wah, rupanya sudah punya karyawan ya. Aku doakan semoga kelak kamu menjadi orang yang sukes.''
''Amin. Terima kasih, tuan. Oh ya letakkan semuanya di atas meja sofa. Biar nanti sekretarisku yang membagikannya.''
''Baik tuan. Dan ini milik tuan.'' Kata Ara sembari meletakkan botol jus di meja Pak Kusuma. Disana Kai tidak banyak bicara, ia takut jika papanya mengenalinya. Pak Kusuma kemudian mengulurkan uang pada Ara dan tak lupa Pak Kusuma selalu memberikan lebih pada Ara.
''Tuan, kenapa selalu memberi lebih? dan kelebihan itu selalu banyak.'' Ucap Ara merasa tidak enak.
''Tidak apa-apa, Ara. Itu supaya kamu semakin semangat. Lagipula kalau minuman kamu di bawa ke restoran bintang lima, sudah pasti harganya segitu.''
''Sekali lagi terima kasih ya, tuan. Tuan sangat baik. Makanya saya selalu semangat mendapat orderan dari tuan, hehehe.'' Ucap Ara dengan jujurnya.
''Hahahah aku suka dengan kejujuranmu.''
''Baiklah tuan, saya permisi. Sekali lagi terima kasih.''
''Sama-sama. Hati-hati ya dan tetap semangat.''
__ADS_1
''Siap tuan!" jawab Ara dengan penuh semangat pula. Kai heran kenapa Ara begitu akrab dengan Ara. Bahkan obrolan mereka selalu nyambung. Kedekatan mereka seperti layaknya seorang sahabat. Dulu, dua tahun lalu saat Ara mulai berjualan, Ara sempat menjajakan jusnya di jalanan. Saat lampu merah, ia menawarkan jusnya dari mobil ke mobil dan dari motor ke motor. Namun tidak ada yang membelinya. Justru hari pertama jualannya, jualannya di rusak oleh para preman jalanan yan mengaku pemilik wilayah disana. Pak Kusuma yang tidak sengaja melintas, melihat Ara sedang di kepung preman. Pak Kusuma lalu datang menolongnya. Disanalah awal perkenalan mereka sampai Pak Kusuma menjadi pelanggan tetap Ara. Apalagi sediki banyak, Pak Kusuma tahu bagaimana cerita pedih kehidupan Ara. Itulah yang mendorongnya untuk selalu memberi Ara semangat dengan membeli jusnya. Terlebih jus buatan Ata memang sangat enak.
Bersambung.....