
Sesampainya di kantor, Kai segera menuju ruangan kerjanya. Tiba-tiba saja Hans masuk ke ruangan Kai dengan wajah cemas.
''Bos, ada berita buruk.'' Kata Hans ragu-ragu.
''Berita apa Hans? aku sedang melihat data pengunggah aplikasiku.'' Ucap Kai tanpa berpaling dari layar laptopnya. Hans lalu menyodorkan ipadnya pada Kai.
''Lihat saja, bos.'' Kai menghela nafas panjang lalu melihat isi berita itu.
''Berira macam apa ini?'' ucap Kai dengan suara meninggi.
''Bos nggak pingin gitu nyari pacar atau istri biar nggak muncul berita seperti ini terus.''
''Ah sudahlah! Nanti berita ini juga hilang sendiri. Mereka pasti iri. Mereka pasti kompetitorku. Aku tidak peduli!" kata Kai yang tiba-tiba berubah santai.
''Tadi marah kok sekarang jadi santai. Apa benar foto bos bersama Tuan Michael di New York ini hanya kerjaan orang iseng. Tuan Michael ini kan perancang busana terkenal. Dan bos mengabulkan permintaan tuan Michael untuk membuat game tentang fashion. Sekaligus membuat tuan Michael sebagai avatar perancang mode.'' Gumam Hans dalam hati penuh tanya.
''Selama ini game yang di buat bos tidak ada yang berbau feminim. Kenapa ya? apa mereka ada hubungan spesial? selisih usia keduanya juga cuma sepuluh tahun. Apalagi Tuan Michael sendiri masih melanjang di usia 38 tahun. Ya Tuhan, apa benar si bos ini belok?'' gumam Hans dalam hati lagi sembari memperhatikan bosnya yang sedang sibuk menatap layar laptop, dari ujung kaki sampai ujung kepala.
''Sudah cukup memperhatikanku, Hans? sudah cukup menduga-duga tentangku?'' sahut Kai yang begitu peka dengan gelagat Hans.
''E...eee tidak bos.''
''Siapkan rapat bersama tim produksi. Aku akan membahas tentang kerja sama ku dengan tuan Michael.'' Kata Kai dengan tegas.
__ADS_1
''Sii-siiap bos!" kata Hans sembari berlalu meninggalkan ruangan Kai. Kai segera bersiap mempersentasikan game yang akan ia buat. Memang ini adalah terobosan baru bagi Kai.
Kai segera memasuki ruang meetingnya. Timnya sudah duduk disana dan siap untuk mendengar arahan dari bos besar mereka. Namun berita itu sudah terlanjur menyebar. Mereka menatap Kai penuh selidik. Kai menyadari itu dan memilih cuek. Yang ia pikirkan hanyalah bisnis bukan gosip murahan.
''Langsung saja. Kemarin aku pergi ke New York, menandatangani kerja sama dengan Tuan Michael. Ini adalah terobosan game dalam make up dan fashion. Disini aku meminta bantuan Tuan Michael untuk memberikan beberapa rancangannya untuk kita proses dalam bentuk animasi. Ini bukan hanya game fashion atau make up biasa. Ini adalah tentang petualangan seorang gadis biasa yang ingin menjadi cantik untuk menemukan pangerannya. Puncak game ini adalah ia harus bertanding adu busana dan make up dengan lawannya, tentu saja dengan bantuan Tuan Michael sebagai penata busana dan make up-nya. Jadi untuk ke next level, si gadis ini harus bertanding dengan lawan yang ia temui di setiap perjalanannya. Tentu saja ada pembelian koin yang akan menguntungkan kita. Untuk mendapatkan rancangan terbaru Tuan Michael, para pengguna bisa membeli koin untuk memilikinya. Untuk menambah nyawa atau stamina, kita juga bisa memberi option untuk membeli koin. Karena setiap permainan harus menggunakan setidaknya 4 nyawa. Dan aku memilih nama Michael's Salon Adventure untuk game terbaru kita. Lalu aku memberi nama gadis ini Luna.'' Jelas Kai sembari mempersentasikan game terbaru lewat layar proyektornya. Semua timnya berdiri dan memberikan tepuk tangan.
''Anda memang luar biasa, Bos!" sahut Hans yang juga hadir dalam meeting tersebut.
''Aku tidak peduli bagaimana orang menganggapku. Apalagi dengan berita sampah seperti itu. Aku hanya ingin para gadis di luar sana terhibur dengan game yang akan ku luncurkan ini. Itulah mengapa aku menggaet Tuan Micahel, secara namanya sudah mendunia. Dan aku yakin game ini akan booming di luar sana. Permainan ini pun juga bisa di mainkan oleh anak-anak dan semua golongan. Tolong berikan yang sempurnya untuk game terbaru ini.''
''Siap Bos!" jawab mereka semua dengan kompak. Kai kemudian berlalu meninggalkan ruang meeting dan Hans selalu mengekor di belakangnya.
''Wah, ide anda luar biasa bos!" puji Hans sekali lagi.
''Aku tidak berpikir seperti itu, bos.''
''Jangan ikuti aku hari ini. Aku ingin pergi sendiri,'' kata Kai sembari berjalan menuju kearah pintu keluar. Hans lalu menghentikan langkahnya dan ada rasa bersalah telah berpikian buruk tentang bosnya.
...****************...
Selama meeting, ponsel Kai terus berdering. Panggilan dari Mamanya. Kai sekarang sedang dalam perjalanan menuju restoran, dimana mamanya sedang menunggu disana. Setibanya Kai di cafe, semua mata tertuju pada Kai. Postur tubuhnya yang tinggi, alis dan hidung yang sempurna di tambah garis wajahnya yang tampan dan penuh ketegasan. Membuat aura Kai semakin terpancar. Beberapa waitres kehilangan fokus bahkan sampai menjatuhkan pesanan atau peralatan makan yang telah kosong. Bukan sebuah hal yang tabu bagi Kai, jika semua gadis menggandrunginya. Kai hanya bersikap dingin tanpa mempedulikan tatapan kekaguman.
''Kai, maafkan mama yang memaksamu kemari!" kata Bu Mirna sembari memberikan pelukan untuk putranya. Kai dengan malas membalas pelukan mamanya.
''Apa yang mama inginkan?'' tanya Kai to the point.
__ADS_1
''Kenapa wajahmu tegang sekali, Kai?''
''Mama sangat mengganggu karena tadi aku sedang meeting,'' tukas Kai.
''Kenapa kamu selalu ketus, Kai? mama merindukan senyummu.''
''Mah, please! Apa yang mama inginkan? Kai tidak ada waktu.''
''Hhhh baiklah!" kata Bu Mirna pasrah. Bu Mirna kemudian mengeluarkan beberapa lembar foto seorang gadis. Mereka adalah para model yang bekerja sama dengan Bu Mirna untuk acara peragaan busana. Bu Mirna menjajar foto itu di hadapan Kai. Berharap Kai memilih satu di antara mereka.
''Mama ingin ini. Kamu pilih di antara mereka, Kai.'' Kata Bu Mirna yang berusaha memilihkan jodoh untuk putranya. Bu Mirna ingin sekali Kai segera menikah. Ia ingin sekali segera menimang cucu, ia takut jika Kai mengulur pernikahannya, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk menimang cucu.
''Ck, mama sudah tahu kan, jawabanku masih sama. Aku tidak mau! Aku mohon, jangan campuri urusanku. Biarkan aku mencari pendampingku sendiri. Pedulikan saja karir mama. Kai permisi!" Ucap Kai sembari berlalu meninggalkan cafe. Bu Mirna menghela nafas panjang. Ya, di sudut hatinya ia merasa bersalah. Karena mengabaikan Kai demi mengejar karirnya yang sedang naik. Kini ia hanya bisa pasrah dengan sikap dingin putranya. Ia mengerti Kai pasti sangat terluka.
-
Saat Kai sedang di jalan, papanya yang giliran menelpon. Ia menekan lcd tv pada mobilnya untuk menerima panggilan dari papanya. Sementara di telinga Kai sudah terpasang earphone bluetooth.
''Iya, pah. Ada apa?''
''Tolong mampir ke kantor papa ya? ada yang ingin papa bicarakan.''
''Iya pah,'' singkat Kai mengakhiri panggilannya. Kai segera memutar arah dan menuju kantor papanya.
Bersambung....
__ADS_1