Wanita Kesayangan Tuan Kaisar

Wanita Kesayangan Tuan Kaisar
12- Menyamar


__ADS_3


Setelah melakukan peninjauan hotel milik perusahaan papanya, Pak Kusuma mengajak Kai untuk minum kopi bersama di restoran hotel.


"Apa yang terjadi denganmu, Kai? daritadi papa perhatikan wajahmu tampak kesal." Kata Pak Kusuma sembari menyeruput secangkir kopi di hadapannya.


"Mama memperkenaljan seorang gadis untukku."


"Lalu apa kamu menyukainya?"


"Aku tidak tertarik dengan wanita," celetuk Kai yang membuat Pak Kusuma tercekat.


"Kai, kamu serius tidak menyukai wanita?" kata Pak Kusuma pelan, mengulang ucapan Kai.


"Bukan seperti itu maksudku, pah."


"Oh syukurlah! hampir saja papa terkena serangan jantung!" kata Pak Kusuma sambil mengusap dadanya.


"Untuk saat ini aku tidak tertarik berhubungan dengan seorang gadis. Dan aku tidak tertarik dengan gadis pilihan mama."


"Lalu bagaimana tipemu? siapa tahu papa bisa mencarinya untukmu."


"Tidak perlu! papa dan mama tidak perlu mencampuri urusan pribadiku. Biarkan aku sendiri yang memilih pendamping hidupku."


"Papa hanya khawatir kamu salah pilih!"


"Lalu papa dan mama selama ini tidak khawatir, membiarkan aku melewati masa kecilku seorang diri? saat aku dewasa, kalian berlomba-lomba ingin mengatur hidupku."


Deg! Ucapan Kai, benar-benar menusuk hati Pak Kusuma. Ia merasa bersalah karena sering mengabaikan Kai yang masih kecil demi mengejar karir. Pak Kusuma menyadari betapa labilnya dirinya dan juga Bu Mirna saat memutuskan untuk menikah muda.


"Baiklah. Papa tidak akan mengaturmu. Kamu sudah dewasa, apapun keputusanmu papa akan selalu mendoakan yang terbaik." Kata Pak Kusuma.


-


Malam harinya Kai sedang sibuk membuat penyamaran yang pas untuk dirinya. Ia sudah meminta Hans untuk menyiapkan wig, kacamata tebal dan juga kawat gigi. Hans dan Kai kini berada di kamar Kai. Ia sedang sibuk membantu Kai untuk mempersiapkan penyamarannya.


''Bos, untuk apa repot-repot melakukan ini semua? kalau bos suka, dekati saja langsung.'' Kata Hans sembari membantu Kai, memakai wig.


''Kamu bilang dia tidak suka pria tampan. Makanya aku jadi jelek. Kalau aku menyamar seperti ini, apa dia masih mau berteman denganku.''


''Kalau bos menyamar seperti ini. Bagaimana urusan kantor?''


''Tenang saja, sepupuku akan kembali. Dia akan membantuku selama aku disana. Tapi jangan bilang tentang rencana ini.''


''Memangnya kenapa bos?''

__ADS_1


''Sudah aku katakan jangan bilang ya jangan bilang!" kata Kai dengan membentak.


''I-iya bos, maaf." Akhirnya penyamaran pun selesai. Rambut mangkok, kacamata hitam tebal dan kawat gigi.


''Wah, sempurna! ini bukan anda bos! Aku yakin Ara tidak akan mengenali bos. Lalu kapan kita mulai drama ini?''


''Kapan Ara ada balap motor lagi?''


''Besok bos.''


''Baiklah, aku akan menolongnya dan menyamar seperti ini. Tunggu saja besok malam bagaimana.''


''Bos ini benar-benar aneh. Disaat semua orang bersusah payah untuk glow up tapi dia malah jadi dark up. Aduh, susah nebak pikiran si bos." Batin Hans sambil menggaruk kepalanya frustasi.


-


Ara sedang sibuk di dapur, meracik menu minuman baru. Ia begitu semangat mengerjakan dagangan onlinenya.


''Sedang sibuk apa, Ra?''


''Eh nenek. Ara sedang sibuk meracik minuman kekinian. Kopi kekinian, nek.''


''Kopi kekinian bagaimana? bukanya kopi itu hitam saja?''


''Bedalah, nek. Ini ada susu dan creamernya. Ara lihat-lihat di internet tadi resep-resepnya. Dan rencanaya untuk promo, Ara ingin memberikan free brownies, nek. Nek, kalau usaha Ara lancar, nenek tidak perlu jualan lagi ya. Cukup temani kakek dan Ara saja.''


''Nenek jadi karyawan Ara saja ya,'' kata Ara dengan senyum lebarnya.


''Memangnya kamu sanggup menggaji nenek berapa?'' goda nenek.


''Semua penghasilan Ara untuk nenek.'' Ara lalu menghentikan aktivitasnya dan memeluk neneknya.


''Tanpa kamu minta, nenek akan membantu kamu, nak.''


''Terima kasih ya, nek. Ara sayang banget sama nenek.''


''Apalagai nenek, amat sangat sayang sama kamu.''


''Rudy, kamu sungguh keterlaluan. Tidak kah kamu mengingat putrimu disini,'' gumam nenek dalam hati sembari menahan tangisnya.


...****************...


Pagi-pagi sekali, Ara sudah bangun. Ia sibuk membuat brownies karena sudah ada 50 orderan kopi yang masuk. Ara dengan semangat membuatnya.


''Ara, kamu sudah bangun?'' sapa kakek yang baru saja bangun.

__ADS_1


''Eh kakek. Iya, Ara mendapat orderan kopi 50 cup.''


''Tapi kenapa pagi sekali? memang pesannya subuh-subuh begini?''


''Hehehe tidak, Kek! Untuk penjualan pertama, Ara membuat promosi. Setiap pembilan satu cup kopi, Ara memberinya free mini brownies.''


''Kakek tidak paham, Ra. Promosi apa itu. Tapi kakek doakan laris manis ya. Kakek mau sholat subuh dulu.''


''Amin. Makasih ya, kek.'' Kakek hanya bisa menyunggingkan senyumnya saat melihat cucunya itu. Berusaha tegar di hadapan cucunya, meskipun hatinya sangat perih melihat kehidupan cucunya yang jauh dari kata bahagia.


-


Selesai membuat pesanan, Ara dengan semangat mengantarnya. Mulai dari pemilik toko bunga, kantor instansi, bank dan terakhir ke sebuah butik.


''Permisi!" sapa Ara. Butik itupun tampak ramai, banyak karangan bunga ucapan selamat di depan halaman butik. Seorang gadis sebaya dengan Ara menyambut Ara.


''Ara!" seru Dinda.


''Dinda!"


''Mbak, tolong bawa masuk semua pesanananya.'' Kata Dinda pada pegawainya. Ara dan Dinda kemudian saling berpelukan erat. Dinda lalu mengajak Ara menuju ruangannya.


''Ini butik elo, Din.''


''Iya, Ra. Ini butik gue. Dan minuman ini punya elo?''


''Iya.''


''Wah, hebat ya elo udah bisa bikin cafe.''


''Bukan cafe, Din. Gue jualan online. Mana ada modal, Din. Elo yang hebat bisa buka butik.''


''Ya, ini karena hobi shoping dan hobi mendesain saja, Din. Akhirnya pinjam modal papa sama mama deh buat buka butik. Kabar elo gimana? sudah tiga tahun sejak lulus SMA kita tidak bertemu.''


''Gue masih seperti ini saja, Din. Gue masih tinggal bersama kakek dan nenek juga. Elo yang kemana?''


''Sejak lulus SMA, papa ada pekerjaan si Singapura. Jadi gue sama ikut terus gue sekolah fashion designer disana deh. Dan pulang-pulang buat ginian. Ra, gue kangen banget sama elo. Mama kangen sama elo, kalau ada waktu main ke rumah ya.''


''Iya pasti. Gue juga udah kangen sama masakan tante Nita. Oh ya, nomor hape elo ganti ya.''


''Iya, Ra. Mana hape lo, gue masukkin nomor gue.'' Ara kemudian mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Dinda. Dinda lalu menyimpan nomor ponselnya di kontak Ara, begitu juga sebaliknya.


''Elo masih suka balapan juga?''


''Hehehe iya. Kakek sama nenek sampai detik ini juga belum tahu.''

__ADS_1


''Dasar lo, Ra.'' Kedua sahabat lama itu akhirnya saling bercanda dan bercengkrama. Dinda adalah sahabat Ara sejak SMP. Hubungan mereka sangat dekat, bahkan orang tua Dinda pun sangat menyayangi Ara. Karena orang tua Dinda sendiri, mengetahui betapa malangnya nasib Ara. Bahkan sering kali, orang tua Dinda memaksa Ara untuk menginap di rumah mereka. Tapi Ara tidak pernah mau memanfaatkan kebaikan atau merepotkan mereka.


Bersambung....


__ADS_2