
Malam harinya Kai mengajak Hans untuk minum di bar.
''Bos, kenapa sih deketin dia? jutek gitu.'' Kata Hans.
''Aku tahu kamu tidak menyukainya tapi apa alasanmu? kamu mau seperti papa dan mama?''
''Bu-bukan begitu bos. Bos kan pengusaha muda, sukses, kaya dan ganteng banget tapi kenapa malah deketin dia?''
''Hans, tugasmu adalah mematuhi semua perintahku. Jadi kamu tidak usah ikut campur terlalu jauh. Aku hanya penasaran, apakah dia sama sekali tidak tertarik padaku atau justru dia akan tertarik pada Yuda. Tapi mustahil sih kalau ada gadis tidak tertarik padaku.''
''Lalu apa yang akan bos lakukan selanjutnya sebagai Yuda? sedangkan Ara menolak bekerja di kantor.''
''Aku besok akan mulai menyamar. Besok aku akan datang ke kantor sebagai Yuda, saat Ara datang membawa pesanan kopi. Sudah pasti security akan mengusirku. Di sana, aku akan melihat respon Ara seperti apa. Jadi aku akan membantunya bekerja dan akan tinggal di dekat rumah Ara.''
''Bos serius akan melakukan ini? apakah tidak berlebihan?''
''Sudah jangan banyak protes. Jangan sampai ada yang tahu penyamaranku ini. Awas saja kalau sampai bocor, kamu akan mati!"
''Siap bos! termasuk tuan dan nyonya juga?''
''Iya termasuk mereka dan juga sepupuku. Yang tahu rencana ini hanya aku dan kamu saja. Besok tolong urus semuanya dan bantu Ara membagikan kopinya. Justru gadis seperti Ara lah yang membuatku penasaran. Oh ya untuk meeting mendadak, kita bisa menggunakan webcam. Yang jelas aku akan jarang di kantor.''
''Baiklah bos! semoga sukses dan cepat nikah ya, bos.''
''Sebaiknya kamu juga segera menjadi jodoh. Jangan sampai ada gosip antara kita.''
''Ya nggak lah, bos. Saya masih normal.''
-
Keesokan harinya, Ara mulai meracik rasa kopi yang di pesan oleh Kai dengan banyak varian rasa. Ara senang sekali mendapat mesin kopi baru itu, meskipun apa yang di lakukan oleh Kai itu berlebihan.
''Sebaiknya aku bertanya pada tuan Hans, berapa harga mesin ini? aku akan mencicilnya.'' Gumam Ara. Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Ara. Ada nama Dinda disana.
Dinda: Ara, aku pesan kopi mu lagi ya. Mochachino latte 25 cup untuk meeting nanti jam 1.
Ara: Oke Dinda sayang.
''Semangat Ara!" seru Ara dengan semangat. Setelah semuanya siap, Ara segera mengantarnya ke kantor Kaisar. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai disana dengan kecepatan pembalap. Sesampainya di halaman depan, Ara melihat seseorang yang mirip Yuda di seret keluar oleh security. Sedangkan Hans, memantau dari balik pintu yang terbuat dari kaca itu.
''Benar-benar keterlaluan security itu. Dulu gue di larang masuk. Kenapa sih orang kaya selalu seperti itu.'' Gerutu Ara sambil bertolak pinggang. Ara lalu berjalan mendekati Yuda yang jatuh tersungkur.
''Sini aku bantu,'' ucap Ara sembari membantu Yuda bangun.
''Ka-kamu sudah sembuh?'' tanya Kai saat melihat Ara.
''Iya. Kamu nggak apa-apa?''
''Nggak apa-apa. Cuma telapak tangan aku sakit.'' Kata Yuda sembari menunjukkan telapak tangannya yang memerah terkena kerikil-kerikil kecil. Ara kemudian mengusap telapak tangan Kai alias Yuda dengan lembut untuk membersihkannya. Kai tersentuh dengan kebaikan hati Ara yang tidak memandangnya secara fisik.
__ADS_1
''Kamu ngapain disini?''
''Aku mau cari kerja jadi apa ajalah. Tapi aku di tolak karena ijazah aku cuma SMP.'' Kata Yuda dengan menunduk sedih.
''Lagian ijazah SMP datangnya kesini, sudah pasti kamu nggak akan di anggap sama mereka. Aku aja yang pengantar kopi aja sempat di larang masuk. Oh ya sebagai balas budi karena kamu udah nolongin aku, kamu mau nggak bantuin aku antar kopi ke dalam? soalnya banyak banget.''
''Kamu serius?''
''Iya aku serius. Nanti aku kasih kamu upah tapi ya nggak banyak.''
''Ya udah deh nggak apa-apa, yang penting aku bisa makan hari ini.'' Kata Yuda sambil memegang perutnya.
''Ya udah ayo! itu motor aku disana!"
''Tapi nanti kita di usir?''
''Tenang saja, aku sudah punya ID untuk masuk.''
''Baiklah. Terima kasih ya, Ra.''
''Sama-sama,'' ucap Ara sambil menepuk bahu Yuda. Hans yang sedari tadi mengintai dari dalam tersenyum melihat sikap Ara yang ternyata sangat baik. Ara dan Yuda pun membagikan kopi itu kepada seluruh karyawan dengan di bantu oleh Hans. Yuda yang sangat semangat membagikan kopi kepada para karyawan. Ara tersenyum senang melihat semangat Yuda.
''Yuda, tolong antar ini keruang tuan Kai, ya.'' Pinta Ara pada Yuda.
''Ruangannya sebelah mana?''
''Kamu dari sini lurus terus belok kiri ya. Ruangannya ada disisi kanan kamu. Ada tulisannya kok, ruang CEO.'' Kata Ara.
''Ihhh gimana sih? kerja yang bener dong!" bentak Alexa.
''Ma-maaf, Mbak. Saya tidak sengaja.''
''Mbak-mbak, panggil gue Nona Alexa.''
''Maafkan saya Nona Alexa. Sekali lagi maaf! saya terlalu semangat kerja.''
''Elo tahu harga baju ini berapa? gaji elo nggak akan cukup buat gantiin baju gue. Elo OB baru? awas ya gue bilangin sama calon suami gue buat pecat elo! Pemilik perusahaan ini calon suami gue.'' Bentak Alexa. Alexa yang kesal mengambil sisa kopi di tangan Yuda dan menyiramkan ke wajah Yuda.
''Alexa! elo keterlaluan!'' gumam Kai dalam hati dengan sangat kesal. Kai benar-benar mencoba menahan amarahnya.
''Apa-apaan ini?'' sahut Hans yang datang bersama Ara.
''Yuda, ada apa?'' tanya Ara yang melihat wajah dan baju Yuda yang kotor.
''Aku tidak sengaja menabrak nona Alexa, sampai minuman ini tumpah ke bajunya. Tapi aku tidak sengaja dan aku sudah meminta maaf. Ya terus nona ini menyiram sisa kopi ini sama aku.'' Kata Kai memelas.
''Mbak, dia kan sudah minta maaf. Nggak seharusnya mbak seperti itu.''
''Siapa sih lo?'' tanya Alexa sinis.
__ADS_1
''Gue pengantar kopi dan ini temen gue.'' Kata Ara sambil merangkul bahu Kai.
''Oh pantas! kalian sama-sama kaum rendahan. Baju gue ini mahal, penghasilan kalian tidak akan cukup untuk menggantikannya.'' Kata Alexa dengan sombongnya.
''Alexa, Alexa, elo nggak tahu aja, siapa yang elo marahin itu. Pantas saja si bos nggak mau,'' gumam Hans dalam hati yang ikut kesal.
''Mbak kan udah tahu kita nggak sanggup dan mbak ini kan orang kaya, ya udah beli lagi aja. Beres kan!" Kata Ara.
''Cukup Nona Alexa. Sebaiknya anda pulang!" kata Hans yang mencoba menahan rasa kesalnya.
''Elo juga siapa?'' ketus Alexa.
''Saya sekretaris pribadi tuan Kaisar. Tuan Kaisar sedang ke luar negeri. Jadi percuma nona kemari.'' Kata Hans.
''Udah sana mbak pulang! jangan dekat-dekat sama kita. Nanti ketularan miskin dan kampungan,'' ledek Ara.
''Awas ya kalian berdua!" kata Alexa sambil menunjuk wajah Ara dan Kai alias Yuda. Alexa pun berlalu meninggalkan kantor Kaisar.
''Tuan Hans, saya pamit ya.'' Kata Ara.
''Sebaiknya bantu teman kamu membersihkan pakaiannya di toilet.'' Kata Hans.
''Iya, Yud. Kamu ke toilet dulu aja, soalnya aku habis ini mau ke butik teman aku antar kopi.''
''Aku boleh ikut?'' tanya Yuda.
''Boleh lah, hari ini aku sangat membutuhkan bantuanmu.'' Kata Ara dengan senyumnya.
''Tuan Hans, toilet sebelah mana?'' tanya Kai.
''Dekat pantry tadi.''
''Oh baiklah.'' Kai pun menuju ke toilet.
''Ya udah, Ra. Aku balik kerja dulu. Makasih ya udah anterin kopinya tepat waktu.''
''Tunggu sebentar tuan,'' kata Ara.
''Ada apa?''
''Kira-kira harga mesin kopi dan blendernya berapa ya?''
''Kisaran 50 juta.''
''Apa? li-lima puluh juta?'' Ara pun tergagap.
''Iya. Itu pesan dari luar negeri dan di datangkan langsung dengan jet pribadi. Baiklah aku permisi karena harus menggantikan tuan Kai.'' Hans pun segera berlalu meninggalkan Ara. Sementara Ara menganga seolah tak percaya.
''Lima puluh juta? gimana gue nyicilnya? yang ada sampai gue beruban, tuh mesin nggak bakal lunas,'' gumamnya.
__ADS_1
Bersambung....