
''Terima kasih ya sudah membantu membelikan bensin,'' kata Kai pada Jeki.
''Sama-sama tuan."
''Sekalian saja aku mengantarmu pulang.''
''Na-naik mobil ini?''
''Iya lah!"
''Wah, pertama kalinya saya naik mobil mewah.'' Kata Jeki dengan senyum lebarnya. Selama dalam perjalanan, mereka berdua terlibat obrolan.
''Apa gadis tadi pacarmu?''
''Bukan. Kami hanya berteman, saya sendiri sudah punya calon suami. Memangnya kenapa tuan? apa anda suka sama teman saya itu?''
''Dia unik. Di saat semua gadis mengagumiku tapi dia malah bersikap sebaliknya.''
''Seperti yang saya bilang tadi, dia itu nggak pernah tertarik sama cowok, tuan. Bahkan punya pacar saja belum.''
''Lalu lelaki seperti apa yang teman kamu itu sukai?''
''Yang jelas bukan cowok tampan dan kaya. Dia lebih suka lelaki yang tidak tampan, tak rupawan dan tak juga bergelimang harta.'' Jelas Jeki.
''Kok aneh banget sih seleranya,'' gumam Kai yang merasa heran dengan sikap Ara.
''Tolong berikan nomor ponselmu,'' pinta Kai pada Jeki.
''Ba-baik tuan.'' Jeki lalu menuliskan nomor ponselnya di layar ponsel Kai. Kai memberikan beberapa lembar uang lima ratus ribuan pada Jeki.
''Uang apa ini tuan?''
''Uang terima kasih. Kamu bisa dapat uang lebih lagi kalau mau membantuku dekat dengan Ara.''
''Serius tuan? saya mau sekali. Saya juga pingin dia cepat laku tapi sebaiknya anda menyamar. Saya jamin seribu persen, dia tidak akan mau dekat dengan anda selama anda seperti ini.''
''Baiklah kita bicarakan nanti. Sudah sampai di depan rumahmu.''
''Terima kasih tuan.'' Pamit Jeki sembari keluar dari mobil Kai. Kai lalu melanjutkan kembali perjalanannya untuk menuju rumah. Sesampainya di rumah, Kai selalu terbayang wajah Ara. Ia tampak gelisah dan untuk pertama kalinya, ia memikirkan seorang wanita. Kai kemudian menyambar ponsel yang ia geletakkan di meja di begitu saja. Kai kemudian menekan nomor Hans.
''Halo Hans tolong cari tahu tentang gadis ini?''
''Ga-gadis siapa bos? apa dia seorang model? wah perkembangan yang bagus,'' kata Hans di seberang sana.
''Kamu masih berpikir buruk tentangku, Hans?'' ketus Kai.
''Ti-tidak bos. Aku sangat senang kalau bos akhirnya memikirkan seorang gadis. Siapa gadis beruntung itu?''
''Aku tidak punya fotonya tapi tolong besok pesankan jus untuk semua staf di kantor.''
''Nyari info tapi tidak tahu wajahnya. Gimana maksudnya bos?''
''Sudah jangan banyak tanya, aku akan mengirimkan pesan padamu.'' Kata Kai mengakhiri panggilannya begitu saja.
''Emang kebiasaan si bos ini. Ngomong velum selesai, di matiin gitu aja.''
-
Keesokan harinya, mata Ara terbelalak mendapati sebuah pesan. Sebuah pesan yang membuat Ara, seketika membuka mata saat ia baru saja terbangun dari mimpi panjangnya.
''Ini serius nih? seratus botol jus segar ke kantor Techno Group. Nggak bohong kan ini?'' gumam Ara seolah tak percaya dengan apa yang ia baca. Ara kemudian membalas pesan itu.
__ADS_1
-Apa ini serius? bukan pesanan bodong kan?
-Ini serius, tolong antar jam 11 ya. Karena untuk acara meeting. Semua varian rasa ya. Tolong jangan sampai telat.
-Siap tuan!-
Setidaknya Hans lah yang menjadi pengirim pesan itu. Ara segera beranjak dari tempat tidurnya dan memanggil neneknya.
"Nenek! nenek!" seru Ara yang membuat pagi itu menjadi heboh.
"Ada apa, Ra?" sahut Nek Inah yang sedang sibuk menyapu halaman depan rumah.
"Nek aku dapat pesanan jus seratus botol lho."
"Alhamdulillah. Ya udah ayo nenek bantu kupas buahnya. Nenek jadi semangat juga nih," kata Nek Inah yang tak kalah gembira.
"Ra, bisa ikut gue nggak?" sahut Joni tiba-tiba saat melintas di depan rumah Ara.
"Sorry Jon. Gue mendadak ada pesanan jus nih, seratus botol lho."
"Ah serius lho?"
"Iya, Jon. Mending sini deh, bantuin gue. Kalau pekerjaan gue udah selesai, nanti gue mau ikut sama elo."
"Oke, siap!" jawab Joni yang langsung melipir ke rumah Ara. Ara sangat senang karena mendapat orderan yang sangat banyak. Bagaikan mendapat durian runtuh.
...****************...
Ara dan Joni di buat menganga saat mereka sampai di kantor Techno Group.
''Ra, serius ini kantornya yang pesen?'' tanya Joni seolah tak percaya.
''Elo tahu nggak? ini itu kantirnya technogram. Aplikasi yang tiap hari kita pakai upload.''
''Serius lo, Jon?''
''Iya, Ra. Wah rezeki buat elo nih. Cepet sini gue vidioin, habis itu elo upload. Biar jus elo makin ramai dan elo bisa berhenti balapan lagi.'' Kata Joni dengan semangat.
''Elo gaya kayak youtubee gitu ya,'' imbuh Joni. Ara lalu memberikan ponselnya pada Jonu. Ara kemudian mulai berakting di depan kamera.
''Halo guys, gue lagi di depan kantor Techno Group. Kantor yang punya technogram, aplikasi media sosial yang lagi hits nih. Coba tebak buat apa gue disini? ini nih buat anterin pesanan jus buah segar buatan gue. Techno Group aja udah pesan, masak kalian nggak? buruan order ya? bisa delivery lho. Di jamin aman sampai rumah. Gue tunggu ya,'' kata Ara mengakhiri vidionya.
''Gimana Jon? keren nggak gue? udah kayak youtuber kan?''
''Siip! elo keren banget.''
''Ya udah ayo masuk! jangan lupa fotoin juga ya.'' Ajak Ara. Rupanya Hans sudah menunggu mereka di depan pintu masuk.
''Ara juice ya?'' tanya Hans.
''Tuan Hans?'' tanya Ara balik.
''Iya, saya Hans.''
''Tuan kita foto sebentar ya. Nanti mau saya masukin ke medsos, biar jus saya makin laris manis. Boleh kan?''
''I-iya boleh,'' jawab Hans terbata.
''Ayo Jon, fotoin kita.'' Pinta Ara. Ara meminta Hans untuk memegang dua botol jus di tangannya sembari tersenyum.
''Serius nih gadis incaran si bos?'' gumam Hans dalam hati seolah tak percaya dengan selera bosnya. Joni lalu mengambil foto Ara dan Hans bersama. Kemudian Hans meminta Ara untuk membagi-bagikan jus kepada seluruh staf dan juga staf yang sedang melakukan meeting. Dengan ramah, Ara menyapa mereka semua dengan bantuan Joni. Sedangkan Hans membantu mendampingi Ara membagikan jus.
__ADS_1
''Yang terakhir adalah ruangan Big Bos. Kamu langsung masuk sendiri saja ya. Sekalian ambil uangnya sama bos,'' kata Hans.
''Saya masuk sendiri nih, tuan?''
''Iya, kamu masuk sendiri.''
''Saya nggak boleh ikut? dia kan sahabat saya?'' sahut Joni.
''Tidak bisa! Kamu tunggu di luar,'' kata Hans dengan tegas.
''Ya udah Jon, elo tunggu di luar aja ya. Gue bisa masuk sendiri kok.'' Kata Ara yang berusaha meyakinkan Joni. Hans dan Jonu kemudian berlalu meninggalkan Ara.
''Tok tok tok tok tok!" suara Ara mengetuk pintu ruangan Kai.
''Masuk!" sahut Kai dari dalam.
''Permisi, tuan. Ini minum.......'' Ara sangat terkejut melihat seseorang yang ada di hadapannya.
''Elo? elo cowok pemabuk itu kan?'' kata Ara terperanjat kaget.
''Iya. Sekali maaf untuk kejadian waktu itu.''
''Jadi elo bos disini? hebat juga ya? tahu gitu minta ganti rugi yang banyak,'' celetuk Ara yang bersikap santai pada Kai. Kai cukup terkejut karena Ara bicara begitu santai padanya bahkan terkesan tidak sopan.
''Ya udah ini minuman pesesan elo, bos. Sekarang mana uangnya. Ini bonnya,'' kata Ara tanpa basa-basi sambil menyidorkan bon pada Kai.
''Nggak mau duduk dulu. Kita ngobrol?''
''Ah sorry bos, gue banyak kerjaan. Beda kan sama elo. Tinggal duduk dapat uang. Gue nggak suka basa-basi, sorry ya.'' Lagi-lagi ucapan Ara hanya bisa membuat Kai menggeleng heran. Kai lalu menyodorkan uang pada Ara.
''Kembaliannya ambil aja,'' kata Kai.
''Yaelah bos, kembalian cuma 500 perak aja mau elo ambil ya, berarti elo pelit banget,'' ceplos Ara dengan tawa kecilnya.
''Eh kita foto dulu yuk! nanti biar gue upload di medsos.'' Kata Ara.
''Bo-boleh!" kata Kai tergagap. Ara lalu meminta Kai membawa botol jus di tangannya. Ara lalu mengalungkan tangan kirinya pada bahu Kai. Kai sangat terkejut dengan sikap Ara yang benar-benar di luar dugaannya. Tidak ada rasa canggung sama sekali justru Kai yang merasa canggung dengan sikap Ara.
''Oke, makasih ya bos. Jangan lupa order lagi.'' Kata Ara sambil mengerlingkan matanya lalau berlalu meninggalkan ruangan Kai. Selepas Ara pergi, Kai menghela nafas panjang sambil memegangi dadanya.
''Gila! gila tuh cewek! baru kali ini gue ketemu cewek sesantai itu sama gue. Huft!" kata Kai.
''Bos? cewek itu bos?'' tanya Hans yang masuk begitu saja ke ruangan bosnya.
''Dada ku sakit Hans. Nafasku terasa sesak,'' keluh Kai.
''Apa bos butuh oksigen? kita ke rumah sakit ya bos?''
''Tidak usah! aku butuh istirahat saja, Hans.''
''Jangan-jangan bosa jatuh cinta ya?'' celetuk Hans.
''Hah? jatuh cinta? nggak tahu. Aku tidak pernah jatuh cinta. Sekarang cari tahu gadis itu dan laporkan secepatnya padaku.'' Kata Kai.
''Si-siap bos!"
''Awas ya, jangan lagi kamu ngadu sama papa dan mama. Kalau sampai ngadu, aku pecat kamu!" tegas Kai.
''Iya bos! mulut saya aman! permisi bos,'' kata Hans sembari undur diri dari ruangan Kai. Sementara Kai masih mengusap dadanya sembari menenggak jus dari Ara.
Bersambung....
__ADS_1