
" Kapan kau akan bangun dari posisi tiduran yang tengkurep seperti itu?" Tanya Reyz kepada Ardan.
" Kata dokter ini sudah lebih baik, dokter bilang aku bisa tidur miring mulai besok." Jawab Ardan.
" Ini sakit ?" Tanya Reyz sambil mencoba menekan bagian bokong Ardan.
" Awwww sakit boss " Jerit Ardan yang kesakitan.
" Pantatku masih sakit bos bahkan ketika aku batukpun sakit." Keluh Ardan yang meringis kesakitan.
" Ahh aigoo, bagaimana ini? " Ucap Reyz
" Kau tau bos apa hal hebat nya? Orang-orang yang dihajar Megan berada di dua lantai dibawah kamarku. Tapi yang paling mengejutkan satu dokter Residen disini adalah kembarannya Megan ! Bukankah seperti ini seolah-olah Megan adalah pusat alam semesta?" Ucap Ardan.
" Jadi kakaknya yang memberikan rasa sakit dan adiknya yang mengobati. Kombinasi yang menarik sekali." Komentar Reyz.
Tiba-tiba Mirza menemui Megan
" Apa kau tau berapa banyak pasien yang kami terima disini karenamu? Hati-hati loh kak ! Belakangan ini, kenapa sering buat masalah terus." Protes Mirza kepada kakaknya.
" Ahhhh, kenapa kamu juga seperti ini kepadaku? Aku sudah berhati-hati. Tapi belakangan ini, rasanya sangat sulit untuk mengontrol kekuatanku." Kata Megan juga yang merasa kesal.
" Yaa sudah, kakak berhati-hati saja dan tahan emosi ya itu saranku. Aku pergi dulu karena pacarnya Bisma ada disini." Ucap Mirza lalu pergi.
Megan kaget mendengar pacarnya Bisma ada disini lalu diapun mengikuti adiknya berjalan.
Mirza menyapa Bisma dan Hani yang sudah berada diruang tunggu untuk menunggunya.
__ADS_1
" Maaf ya sudah menunggu." Ucap Bisma
" Ouh iyaa gak apa-apa ko. Kita ngerti ko kamu pasti sibuk." Ucap Mirza.
Megan melihat pacar Bisma yang terlihat cantik dengan rambut panjangnya.
" Kalian harus menunggu 30 menit lagi kalau mau bertemu dengan Profesor. Aku akan mengantarnya keruangan Profesor." Ucap Mirza
" Baik aku akan menunggu nya disini." Jawab Bisma sambil memegang tangan Hani pacarnya.
Megan melihat Bisma memegang tangan pacarnya. Megan sangat patah hati dan kecewa. Tiba-tiba Bisma kaget dan bingung karena Megan ada dirumah sakit.
" Lohh Megan.. Kenapa kamu ada disini lagi? Tanya Bisma.
Suara Bisma mengagetkan lamunan Megan yang sedari tadi melihat genggaman tangan Bisma pada Hani.
" Huhhh anuu, jari kakinya bosku terluka. Jadi aku datang bersamanya. " Jawan Megan yang gugup.
" Hallo, namaku Hani. Aku sudah banyak mendengar tentang kalian." Sapa Hani kepada Megan dan Mirza.
" Aku akan mengantarmu ke ruanganku saat ini . Ku rasa, kita lebih baik melakukan X-ray/ CTSCAN dulu bertemu dengan Profesor." Ucap Mirza
" Baiklah " Jawab Hani
" Sayang aku mau CTSCAN dulu tunggu ya". Ucap Hani yang meminta izin pada Bisma lalu meninggalkan Bisma dan pergi keruangan praktek Mirza.
" Iya " Jawab Bisma singkat karena Bisma sudah sangat penasaran pada Megan dan ingin segera mengintrogasinya.
__ADS_1
Setelah Hani pergi dengan Mirza, Bisma langsung menarik tangan Megan.
" Ikut aku sebentar." Ucap Bisma.
Megan hanya pasrah dan mengikuti Bisma.
** Di Ruang Praktet Mirza.
Hani duduk di tempat tidur pasieun lalu Mirza memeriksanya.
" Apa gelajanya?" Tanya Mirza
" Aku terlalu banyak latihan, karena aku akan mengadakan konser dan pergelangan tangan dan jari-jariku terasa sakit. Dan rasa sakitnya sudah menyebar kesikut. Itulah sebabnya tanganku terasa lemas, sampai aku tidak bisa memegang apa-apa". Jawab Hani dengan menjelaskan.
" Kau bilang, kau adalah pemain biola kan?" Tanya Mirza lagi
Hani hanya mengangguk.
" Ada kemungkinan besar bahwa saraf jari-jari mu telah rusak. Kerusakan saraf yang terkadi ketika otot jari-jarimu digunakan terlalu sering. Kami hanya akan tahu pasti setelah kami melakukan tes darah dan mengambil Scan." Kata Mirza.
Hani teruz menatap Mirza saat sedang menjelaskan.
" Mana tanganmu yang sakit? " Tanya Bisma
" Tangan kiriku yang sakit." Jawab Hani
" Oh tangan kiri mu " tiba-tiba Mirza memegang tangan Hani sambil mencari-cari yang sakitnya.
__ADS_1
Hani hanya menatap Mirza. Mirza mulai menyadari kalau dari tadi Hani sudah menatapnya.
Lalu Hani kaget karena Mirza menyentuh jarinya yang sakit. Mirza dan Hani saling menatap. Tiba-tiba keduanya seperti merasakan sesuatu lalu menjadi canggung dan mereka menjadi salah tingkah.