
Mereka duduk berjajar di atas ranjang Agni menghadap laptop yang ada di depan mereka, mencari kisah di balik Edgar yang membuat hidup Agni kini menjadi rumit penuh pertanyaan.
.
.
" Ketemu " saut Agni
" Coba bukak web yang ini. " tunjuk Tirta
" Naas! salah satu mahasiswa universitas ternama di kota S meninggal dengan sangat tragis mengapung di danau area kampus dengan keadaan mengenaskan. " baca Agni
" Korban di temukan mengapung di tengah danau oleh salah satu mahasiswa yang kebetulan berada di TKP, di duga korban di bunuh lalu di buang ke sungai tersebut. Masih belum jelas motif pembunuhan oleh pelaku terhadap korban, pelaku melakukan pembunuhan dengan sangat bersih hingga pihak polisi sangat sulit untuk menemukan pelaku, bahkan sidik jari pelaku pun tidak ada. " sambung Kartika
" cuma gitu doang mah semua juga tau. " saut Tirta.
" Coba liat web yang lain Ni. " kata Kartika sambil menunjuk layar laptop itu.
Web itu pun terbuka.
" Nah coba baca itu. " saut Tirta
" Dari tadi cuma nyuruh - nyuruh doang, gantian dong yang baca. " gumam Kartika.
" minggir sono " saut Tirta sambil mendorong Kartika
" Edgar Saputra. Anak dari presdir Rangga Putra seorang pengusaha nomer satu di kota S meninggal mengenaskan. "
" Stop Tir! jadi Edgar tu anaknya orang tajir mlintir se kota" dengan muka kaget Kartika memotong perkataan Tirta.
" Bagus dong! kan jadi mudah nyari informasi si Edgar tu. " saut Tirta
" Bagus pala kau! coba lo pikir, kematian Edgar tu misterius dan dia kan pewaris keluarga Putra. Pastilah pembunuhannya berkaitan sama harta tahta keluarga Putra. " jelas Kartika.
" Tumben Kar omongan lo bener, pasti lo lagi banyak duit nih! " saut Tirta dengan muka kagum
" Gue tu ngomong serius lo malah bercanda! " jawab Kartika dengan muka kesal.
" Tapi yang di omongin Kartika tu bener sih Ni kalau lo sampe ikut campur masalah ini, lo bisa dalam bahaya tau, anaknya seorang Rangga Putra aja bisa di bunuh. " saut Tirta
" Mending lo suruh Tama bantu ngelepasin ikatan lo sama Edgar itu. "
.
.
.
Agni saat itu hanya bisa terdiam mematung dengan pikiran yang kalut dalam masalah saat itu. Melihat ekspresi Agni yang seperti itu saat mencari informasi tentang Edgar, Tirta dan Kartika merasa khawatir dengan kondisi Agni maka dari itu mereka memutuskan menyudahi pencarian informasi tentang Edgar dan mencarikan topik lain untuk Agni agar perasaan dan pikirannya dapat menghilangkan hal - hal yang berkaitan dengan Edgar.
Mereka melakukan berbagai kegiatan di kamar Agni saat itu sampai mentari codong ke Barat dan berubah warna.
" Udah mau gelap nih, pulang yuk." ajak Kartika setelah melihat jendela kamar Agni
" Yang bener? wah gue kelewatan dong buat latihan Karate. "
" Lah iya ya Tir. " saut Agni
" Yaudah kita pulang dulu. Lo pikirin yang bener ya Ni. " saut Kartika
" Iya deh.! "
.
.
__ADS_1
○○○○○○○
.
.
1 hari kemudian, di kantin kampus.
" Tama tu bener - bener ya, suka banget bikin kita nunggu. " gerutu Kartika dengan wajah kesal
Mereka bertiga menunggu Tama di kantin kampus sudah setengah jam lebih.
" Sabar dong! yang punya masalah aja sabar kok lo malah kesel. " saut Tirta.
" Nah itu Tama jalan ke sini. " tunjuk Agni ke arah Tama yang sedang berjalan menuju meja mereka.
" Sorry ya lama. " sapa Tama sambil menarik kursi dan duduk di meja yang sama.
" Jadi gimana Ni ? " tanya Tama menatap Agni
Saat itu Agni terdiam sejenak membuat temannya menunggu jawaban Agni.
Agni menghela nafas lalu melontarkan kalimat dari mulutnya itu.
" Gue bakal bantu Edgar. " jawab Agni.
" Lo udah gila ya Ni! jadi orang tega dikit napa jangan baik - baik sama orang. " saut Kartika karena terkejut dengan pilihan Agnu itu.
" Lah Edgar kan setan Kar bukan orang. " saut Tirta
" Diem lo Tir, gue lagi serius nih. " jawab Kartika sambil menatap Tirta dengan kesal.
" Jadi apa rencanamu selanjutnya Ni saat kamu memilih untuk bantu Edgar. " tanya Tama dengan serius sambil menatap Agni.
" Lo mau tanya apa sama Edgar Ni? " tanya Tirta.
" Ya mau tanya soal dia dan hal - hal yang ada kaitannya sama pembunuhannya. " jawab Agni.
" Terserah lo deh Ni, kita bakalan bantuin lo sebisa kita. " saut Kartika.
" Kalau kalian butuh bantuan bilang aja, aku bakalan bantu kok." saut Tama.
" Makasih ya Tam, kamu udah mau bantu kita meski kita nggak temenan. " saut Agni.
" Siapa bilang Tama bukan temen kita. Mulai sekarang Tama itu temen kita. " saut Tirta
" Lo mau kan Tam jadi temen kita bertiga?. " tambah Tirta.
Mendengar perkataan Tirta, hati Tama merasa tersentuh hingga tanpa sadar ia tersenyum tipis kepada 3 orang di depannya.
Saat itu Tama hanya bisa tersenyum dan mengangguk kecil.
.
.
.
○○○○○○○○○○
.
.
.
__ADS_1
Agni berjalan menuju pohon di dekat danau untuk mencari Edgar.
" Edgar!! " teriak Agni.
" Aku tau kamu pasti denger kan! tunjukin wujud kamu sekarang. " Agni berteriak agar Edgar mau muncul.
.
.
.
Di waktu yang sama tiba - tiba datang hembusan angin dimana angin itu seperti menembus tubuh Agni saat itu.
Saat itu Agni merasa seperti ada seseorang di belakangnya, dengan perasaan gelisah Agni berbalik ke belakang dan Agni pun terdiam sejenak. Di depannya saat ini berdiri sosok Edgar.
.
.
○○○○○○○○
.
.
" Jadi apa jawabanmu?. " tanya Edgar kepada Agni yang berdiri mematung menatapnya.
" Akuu. . " dengan wajah gelisah dan bimbang, Agni hanya mampu mengeluarkan satu kata dari mulutnya saat itu.
Keduanya kini hanya diam mematung menatap satu sama lain, sorot mata mereka penuh dengan pertanyaan.
Saat itu Agni berbalik melangkah ke bawah pohon dan terduduk menghadap danau.
Melihat Agni, Edgar pun menyusulnya, Ia bersandar di pohon menatap danau tanpa melirik Agni sekalipun.
" Jadi gimana ? " tanya Edgar lagi.
" Masih ragu. " jawab Agni.
" Ragu ? "
" Ya, karena kamu bukan seseorang tapi kamu sesosok. Bagaimana bisa aku membantumu !. " jawab Agni dengan tenang.
" Apa maksud dari perkataanmu itu ?." tanya Edgar penasaran.
" Aku sudah tahu siapa kamu. " Agni menjawabnya dengan percaya diri.
" Kamu Edgar Saputra kan, anak dari orang nomer satu di kota S. "
" Kamuu. " Edgar tertegun mendengarnya
" Dan kamu yang saat ini berdiri dan berbicara dengaku bukan lah manusia melainkan arwah penasaran yang belum tenang dengan kematiannya, kita berbeda alam Edgar, bagaimana caraku untuk membantumu. " Jelas Agni.
Saat itu Edgar terdiam sejenak mendengar perkataan dari Agni. Harapan Edgar saat itu runtuh, ia berfikir bahwa Agni tidak akan mau membantunya menemukan apa yang ada di balik kematiannya.
" Aku tau apa yang akan kamu pilih. " saut Egdar dengan nada kecewanya.
.
.
.
○○○○○○○○○○○
__ADS_1