
Saat itu Edgar terdiam sejenak mendengar perkataan dari Agni. Harapan Edgar saat itu runtuh, ia berfikir bahwa Agni tidak akan mau membantunya menemukan apa yang ada di balik kematiannya.
" Aku tau apa yang akan kamu pilih. " saut Egdar dengan nada kecewanya.
" Kamu pasti tidak akan mau membantuku karna wujud ku ini kan! " tambah Edgar.
" Kamu salah jika mengira aku berfikir seperti itu, yang membuatku ragu untuk membantumu adalah latar belakang mu yang sulit. " jawab Agni dengan lantang.
Edgar menarik nafas panjang dan berkata
" Aku tidak tahu sikap ku yang mana yang membuat orang sangat ingin melenyapkan ku. Bahkan aku tidak menyinggung orang lain, setidaknya aku ingin mati dengan tenang dan bertemu ibu ku, tidak seperti sekarang . "
Agni hanya terdiam sejenak menatap Edgar yang bercerita dengan hangat, kalimat yang di keluarkan Edgar begitu halus tak seperti sebelumnya .
" Lalu kenapa kamu tidak menerima kematian mu yang memang sudah di takdirkan seperti ini ?". Agni bertanya dengan begitu mudahnya.
" Jika kamu mati dengan cara yang sama seperti ku, apa kamu menerima itu dengan mudah ?." Edgar melempar pertanyaan kembali ke pada Agni dengan raut sinis dan nada suara yang tinggi.
" Mungkin " saut Agni dengan lirih.
" Hey! apa hatimu terbuat dari batu?" saut Edgar terheran - heran dengan jawaban Agni.
" Ya, dari pada jadi hantu yang ga tau mau kemana, mending nerima kematian sendiri, ya meski nanti ke neraka dulu. " celetuk Agni.
" APA KAMU BILANG?."
__ADS_1
" Kamu nyindir ya!. "
Dengan raut kesal Edgar memalingkan wajahnya dari Agni.
" Hey, kamu marah seperti anak kecil." Agni tersenyum kecil.
" Ternyata seorang Edgar Saputra yang terkenal itu memiliki sikap seperti anak kecil berumur 5 tahun. " Agni terus menggoda nya
Edgar masih terlihat marah dan pastinya bertambah marah ketika Agni menggoda nya.
"Hentikan omong kosong mu itu atau kamu akan ku hantui setiap malam sehingga kamu tidak bisa tidur sama sekali." dengan raut sombong Edgar mengancamnya.
" Wkwkwkwk " Tawa Agni.
" Apa yang kamu tertawakan, aku serius dengan ancaman ku mengerti!" saut Edgar.
" Ya ya ya, aku yang salah. Tenanglah aku hanya bercanda tidak usah seserius itu. " jawab Agni.
Dari situ mereka berbincang tentang segala hal yang menyangkut Edgar, mereka berbincang sangat serius meski sesekali mereka tertawa bersama. Tanpa sadar hari mulai sore dan kampus sudah sepi, mereka berdua berbincang cukup lama sampai lupa melihat arah matahari.
" Hmmm, hari ini cukup sampai di sini udah sore." kata Agni sambil beranjak berdiri dari posisi duduknya .
" Ya ya ya , lagi pula aku juga sudah tau tempat tinggal mu." saut Edgar
" Kamu jangan coba - coba untuk menghantui rumahku ya, awas aja. " Ucap Agni mengancam.
__ADS_1
Agni pun pergi dari tempat itu, Edgar menatapnya daei bawah pohon melihat Agni yang berjalan semakin jauh dari pandangannya.
"Manusia aneh." seru Edgar dengan senyum tipis lalu ia menghilang menjadi angin yang tak terlihat .
Keesokan harinya, masih di kantin yang sama dan dengan orang - orang yang sama Agni berkumpul dengan mereka.
" Jadi kamu dapat apa setelah berbicara dengan setan Edgar itu Ni? " tanya Tirta sambil memakan snack kentang kesukaannya.
" Setan setan, kelakuan lo tu kayak setan. " saut Kartika dengan sinis.
" Ye nyaut, orang gada yang ngajak ngomong ih, malu dong. " celetuk Tirta
Tama tersenyum tipis melihat kelakuan Tirta dan Kartika.
" Wow wow wow, gilak gue merinding ngeliat lo senyum Tam." ucap Tirta.
" Emang gue seserem itu ya? " saut Tama.
" Nggak kok nggak serem cuma kamu kan orangnya tertutup dan jarang ada ekspresi jadi ngeliat hari ini lo senyum agak aneh sih. " jawab Tirta.
" Jadi kemaren gimana Ni hasilnya? " tanya Tama.
" Kemarin aku udah bicara sama Edgar lumayan lama sih." jawab Agni.
" Terus hasilnya? " tanya Tirta.
__ADS_1
" Ya emang bakal susah sih! tapi gue tetep mau bantu Edgar. " jawab Agni.
" Mau gimana lagi, besok kita mulai. " saut Kartika dengan semangat .