Who Changes

Who Changes
Belum tahu


__ADS_3

Ia seketika tediam mematung, mata mereka saling bertukan pandang. Warna baju itu, rambut itu, mata sayup itu sama seperti sosok yang menyeramkan di mimpinya, namun di depan matanya saat ini bukan sosok yang menyeramkan melainkan sosok yang terasa hangat dengan hanya memandangnya.


" Kamuu? "


dengan sangat lembut Agni melontarkan satu kata itu. Namun laki - laki itu hanya tersenyum.


" Kamu siapa? "


Agni melontarkan pertanyaan karena dia penasaran siapa sebenarnya laki - laki ini, kenapa bisa orang yang tidak ia kenal bisa ada di mimpinya.


" Yakin ga kenal aku? coba kamu perhatikan serius muka ku! pernah liat dimana. "


laki - laki ini berbicara dengan posisi tetap duduk dan Agni yang masih berdiri di hadapannya.


" Mana aku tahu kalau kamu aja nggak ngasih tau. "


Dengan ketus Agni menjawab omongan laki - laki yang ada di depannya.


Laki - laki itu tertegun karna Agni tidak mengenalinya padahal dia termasuk siswa terkenal yang ada di kampus pada saat dia masih hidup.


" Ok! namaku Edgar Saputra!! pernah denger? " dengan bangga lelaki ini menyebutkan namanya.


" Ooh Edgar. "


dengan santainya Agni menjawab.


" Gimana udah tau kan siapa aku! emang sih di kalangan cewe namaku tu udah terkenal. "


dengan lagak sombong ia berkata seperti itu.


" Diih! sok narsis banget sih! ketemu aja baru kali ini, kenal juga baru kali ini, sok kecakepan banget. "


Agni sangat sinis menjawabnya karna baru kali ini Agni bertemu seseorang yang begitu narsis selain adik laki - laki nya.


" Udahlah ga penting! " saut Edgar


Lelaki itu bangkit dari duduknya, berdiri dan mendekati Agni. Agni membeku terdiam juga sedikit waspada. lelaki itu meraih tangan Agni, menarik dan mendorongnya ke pohon. tangan kanan laki - laki itu menyandar di pohon tepat di sebelah kiri telinga Agni, tangan kirinya meraih kalung yang ada di leher Agni. Ia memandang kalung itu lalu beralih memandang Agni.


" Jadi kamu yang nemuin kalungku! "


dengan lembut Edgar melontarkan kalimat itu lalu ia tersenyum tipis.


" Jadi kamu yang punya kalung ini ? " Agni menjawabnya dengan gugup karena takut di kira mencuri.


Edgar kembali melempar senyumnya, dan Agni hanya terdiam membeku, bagaimana tidak terdiam semua wanita terpana dengan hanya melihat wajah Edgar semasa ia hidup, dan kini ia ada di depan mata Agni tersenyum begitu dekatnya.


Edgar menyentuh rambut Agni yang terurai itu, mengangkatnya dan menaruhnya di belakang telinga. Lalu kepala Edgar semakin maju mendekat dengan wajah Agni, sontak Agni memjamkan matanya. Edgar Semakin dekat, namun ia hanya ingin membisikkan kalimat dari mulutnya.


" Tentu itu punyaku! karna ibuku sendiri yang mendesainnya untuk ku. "


Bisiknya dengan lirih.


Agni seketika membuka matanya, ternyata Edgar tidak melakukan apa yang ada di pikirannya saat itu. Edgar kembali ke posisinya namun Agni sesegera memalingkan wajah dan tidak berani menatap Edgar karena malu, saat ini wajah Agni memerah.


" emmmzz... a.aku nggak sengaja nemuin ini di bawah pohon ini trus aku bawa pulang biar nanti waktu ada yang nyari aku kasih. " Agni berbicara dengan gugup


" Lalu kenapa kalung ini ada di lehermu? apa kamu menginginkannya. "


" Tidak - tidak bukan seperti itu! aku tidak sadar kalau kalung ini ada di leherku, dan sudah aku coba untuk melepaskannya tapi tetap tidak bisa lepas. "


" Baiklah itu tidak penting! aku bisa menunggu sampai kalung itu lepas dari lehermu tapi.."


Sebelum Edgar selesai berbicara Agni memotong kaimat itu.


" Apa syaratnya? aku akan lakukan! "


" Kamu cepat tanggap ya. "


" Cepat katakan. "


" Aku ingin kita berteman dan kamu harus mau membantu ku. Gimana? "


" Ok ! "


" emmzz.... aku harus segera pergi, lain hari kita akan ketemu. "

__ADS_1


Agni berlari pergi dari tempat itu, dari belakang Edgar hanya terdiam melihat Agni berlari menjauh dari bawah pohon itu, tiba - tiba Edgar kembali menunjukkan senyum tipisnya tanpa sadar.


Gadis bodoh yang menarik!.


...


ucapnya dalam hati juga dengan senyuman yang sama.


.


.


○○○○○○○


.


.


" Haduuh lupa deh kalo janjian ama mereka.. Pasti udah lumutan mereka nungguin. Harus cepet - cepet nih. "


Agni begegas menuju kedai kopi depan kampus dengan tergesa - gesa.


Sesampainya di tempat dengan nafas terengah - engah ia menghampiri menja yang di sana tampak Tirta dan Kartika bermuka lesuh dengan gelas minum yang sudah habis.


" Duuh maaf ya lama!!! "


" Kok lama banget sih Ni!! tau nggak kita di sini nunggu kamu tu sampek kering. " Ujar Katika sedikit kesal.


" Maaf - maaf, tadi tu buku yang aku cari sulit nemunya jadi ya lama banget. "


" Yaudah deh kita maafin karna kepo banget sama certa lo Ni. "


" Aku dah cape banget ni, apa gue pulang duluan aja ya. " saut Tirta dengan dingin.


" Dih ga bisa gitu dong Tir, nggak seru banget sih lo. " Kartika sangat kecewa dengan perkataan Tirta


" Sumpah Capek banget gue!! nanti gue juga ada acara! oh ya ni temennya temen gue ada yang indigo gitu, kalo lo pengen hubungin gue aja nanti trus kita cari dia pas waktu senggang . "


Tirta beranjak dari kursi itu meninggalkan beberapa lembar uang di meja lalu ia pergi dari kedai kopi itu.


" Dih si Tirta nggak asik banget, pergi gitu aja. "


" Yaudah deh!! sekarang coba lo ceritain sama gue apa yang terjadi sama lo. "


Agni pun mulai menceritakan setiap detail kejadian yang ia alami saat malam itu, Kartika mendengarkan cerita Agni dengan serius. Sesekali raut wajah kartika berubah mendengar cerita Agni itu, ia merasa cerita Agni di bagian tertentu sangat menakutkan.


Setelah memakan waktu yang cukup lama dan semua yang Agni rasakan sudah tercurahkan, Kartika menyarankan agar Agni mencoba menemui seseorang yang di rekomendasikan oleh Tirta tadi .


.


.


.


○○○○○○○○○


.


.


.


" Haaaaah capek banget. "


Agni merebahkan dirinya di atas ranjang, posisinya terlentang menghadap langit - langit kamarnya. Ia memejamkan matanya, dan tanpa sadar di dalam pikiran Agni sekarang sedang memikirkan Edgar, wajahnya muncul di benaknya sontak Agni terkejut dan membuka matanya.


" Idiiih kok gue mikirin cowok narsis itu sih! kenapa coba mukanya muncul tiba - tiba di pikiran gue. Emang sih tampangnya tampan tapi sikapnya itu loh iih. "


.


.


○○○○○○


.

__ADS_1


.


Waktu telah berganti malam, namun Agni hanya melakukan kegiatannya di dalam kamar.


" Agni turun cepet!! makan malem dulu giiih. "


suara Mami Agni yang berteriak memanggil Agni dari tangga untuk menyuruhnya turun dan makan malam bersama.


" Iya mi!! Agni turun abis ini. "


Agni pun turun menuju meja makan, di meja makan itu sudah ada Ayah dan Mami nya. Agni duduk di sebelah kiri ibu nya, mereka kekrurangan satu anggota keluarga yaitu adiknya yang sedang ada job manggung.


" Haduh nggak ada Bayu sepi juga ya Pi! " kalimat yang keluar dari mulut Mami Agni


" Lah iya ya Mi, nggak ada suara ribut. "


" Apaan si Mami sama Ayah ini! "


" Ya kan tiap hari denger kalian ribut, trus sekarang jadi nggak ada yang ribut. "


Saat mereka semua membicarakan Bayu yang belum pulang dari kota A dari acara festival musik,terdengar pintu depan terbuka perlahan dan juga langkah kaki.


" Selamat malam keluargaku yang tercinta. " teriakan yang begitu keras hingga terdengar di seluruh rumah.


Bayu !!!! kedua orang tuanya gembira mendengar suara Bayu yang baru pulang,


Bayu bergegas menuju meja makan.


" Nah kan panjang umur, baru diomongin udah nongol. " dengan ketus Agni berbicara dan tidak mempedulikannya.


" Pada kangen kan sama aku! "


" Dih PD banget!! "


" Udah! Bayu kamu ke kamar dulu sana, mandi trus makan ke sini. "


" Ok Mi !. "


Mendengar peritah itu Bayu pergi meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya sesuai perkataan Mami nya itu.


Mereka berkumpul di meja itu, suasana terasa hangat, terkadang terlihat senyuman dari wajah keluarnga itu,malam itu menjadi malam yang hangat.


.


.


○○○○○○


.


.


Di dalam kamar Agni.


Agni bediri menatap langit dari jendelanya, melamunkan semua peristiwa yang terjadi sejak kalung Edgar ia temukan, ia juga memikirkan tentang saran yang di berikan oleh Tirta dan Kartika, setelah di pikir - pikir saran dari kedua temannya itu ada benarnya juga. Lalu Agni berbalik dari posisi itu melangkah mengambil ponsel nya di atas ranjang, kini ia duduk di ranjangnya dan mencoba untuk menghubungi Tirta.


" Tir kok lama sih ngangkat telepon gue. "


" Duh Ni, aku tu udah enak banget tidurnya, ga bisa besok apa kalo mau ngomong. "


" Ga bisa pengennya ngomong sekarang. "


" Yaudah mau ngomong apaan? awas aja kalo hal ga penting yang di omongin. "


" Emmm... gue mau nemuin temennya temen lo yang indigo itu besok, bisa nggak? "


" Kalo besok gue nggak bisa, sibuk banget gue , minggu depan aja gimana? "


" Lama bener! "


" Gue sibuk kalo minggu ini, apa gue suruh temen gue aja yang nganterin. "


" Dih gamau!! yaudah deh minggu depan, tapi beneran ya gak boleh di undur - udur, awas aja kalo minggu depan bilangnya sibuk lagi. "


" Iya - iya, udah ah mau tidur lagi gue. "

__ADS_1


Tuut!!!!!!


" Dih di matiin. "


__ADS_2