
Di Halaman kampus terlihat banyak mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang termasuk Agni. ia berjalan menuju koridor di kampusnya, ia berjalan tanpa menghiraukan yang lain karena ia terus memikirkan kenapa kalung itu melingkar di lehernya padahal ia tidak pernah memiliki keinginan untuk memakainya.
Saat Agni terus berfikir, di tempat duduk sebelah kiri Agni berjalan ada Tirta dan Kartika duduk di situ, Tirta menyapa Agni namun Agni tidak mendengarnya dan melewati mereka bedua tanpa sadar.
Kartika dan Tirta berdiri menghampiri Agni yang terus berjalan dengan tatapan kosong. Tirta menepuk pundak Agni dari belakang, Agni terkejut.
" Hey Ni, lu nggak denger ya kita panggilin dari tadi. " kata Tirta,
" Iya nih, mana lewat aja gitu nggak ngeliat kita segede gini. " saut Kartika
" Maaf ya😧, gue lagi banyak pikiran nih. " jawab Agni dengan lesuh.
" Kalo ada masalah tu cerita sama kita,kan kita temen lu. " kata Tirta
"Nanti deh pulang kuliah kita bicarain. "
" Yaudah deh, yang penting lo mau cerita nanti. " saut Tirta.
••••☆••••••☆•••••••••
Waktu telah berlalu begitu cepat, jam kuliah telah berakhir mereka bertiga pergi ke kedai kopi tempat biasa yang sering mereka kunjungi. Tempat itu seperti telah menjadi titik kumpul mereka setiap saat.
" Gimana nih, jadi cerita atau nggak? " Kartika begitu penasaran dengan kisah yang ingin Agni ceritakan.
" Dih kepo banget lo Kar! " saut Tirta.
" hmm.. udah - udah, ini gue mau cerita. "
" Kalian nggak ngerasa kalo ada yang beda dari penampilan gue? " tanya Agni untuk memulai ceritanya.
" nggak tu biasa aja. "
" Emang mata kalian tu dah minus parah!"
" Nih liat di leher gue ada kalung yang gue temuin itu. " Agni menyodorkan lehernya sambil menunjukkan kalung itu.
" Wah gilak lo Ni! kalo yang punya sampe tau lo makek kalungnya gimana tuh? bisa - bisa lo di tuduh maling tau nggak. " Kartika reflek ngomong ke Agni dengan nada tinggi karena kaget.
" Sejak kapan lo suka pakek kalung Ni? setau gue lo nggak suka pakek perhiasan kayak gitu! " saut Tirta dengan tenang.
" Nah itu dia Tir! seinget gue tu, gue nggak pernah makek kalungnya . gue nggak sadar kalo kalungnya tu udah ngelingkar di leher gue. "
" Lah terus? masak kalungnya jalan sendiri trus ngelingker ke leher elu sih. Kan serem kalo beneran. " saut Kartika
" Eh mulutnya di jaga. Jangan nakut - nakutin deh. "
" Kenapa nggak lo lepasin aja tu kalung! ngeri tau kalo yang punya tau trus nuduh elu yang enggak - enggak. " Tirta memberi saran untuk Agni namun jawaban Agni mengejutkan Tirta dan Kartika.
" Gue udah coba ngelepasin ni kalung waktu ke toilet tadi, tapi nggak bisa di lepas. " saut Agni dengan raut putus asa.
"Lah, kok aneh banget sih. Pas waktu lo mau nemuin kalung itu, lo juga ngalamin kejadian aneh. pasti kalung itu ada apa - apanya deh. " Tirta mengira - ngira kejadian aneh yang Agni alami saling berkaitan.
" Kita harus ke paranormal Ni! " ucap Kartika dengan raut muka serius dan matanya yang melotot menoleh ke Tirta dan Agni yang duduk bersanding di depannya.
" Nah! bener banget tu kata Katika.Nggak ada salahnya kalo kita coba, kan kita gatau asal usul tu kalung. Gimana kalo besok pulang kuliah kita ke paranormal buat nanyain kalung lo itu? "
Tirta setuju dengan ide Kartika. Mendengarkan saran dari Tirta dan Kartika itu Agni berfikir mungkin tidak ada salahnya kalau ia mencoba saran dari Tirta dan Kartika.
••••••☆•••••☆••••••
Mereka bertiga berbincang sangat lama, tidak hanya masalah Agni yang mereka bicarakan, semua hal mereka bahas. Tidak ada satupun rahasia di antara mereka.
Kadang mereka membicarakan hal seriur dan kadang juga tentang hal yang konyol yang membuat mereka tertawa terbahak - bahak hingga pengunjung lain sampai melihat mereka dengan tatapan heran.
Pengunjung lalu lalang keluar masuk bergantian, tetapi mereka tetap tidak beranjak dari tempat mereka duduk.
Sampai saat mentari condong ke Barat, sinar senja menembus masuk dari jendela tempat mereka duduk Barulah mereka mengenal waktu dan berhenti bercerita.
Mereka berpisah di depan pintu kedai berjalan berlawanan arah.
•••••☆•••••☆•••••
__ADS_1
Posisinya Agni saat ini sangat sempurna,
terbaring dan terlentang dengan peraasan lega karena kegelisahannya bisa teredam setelah ia menceritakan semua masalah yang ia pendam dengan teman kepercayaannya.
" haaaaahhhh.... lega banget deh bisa cerita sama mereka, se enggaknya gue gak ngerasa sendiri ngadepin masalah ini. "
Karena kesenangan tadi telah berlalu dan suasana sangat sunyi dan tenang. Sekejap Agni kembali terngiang kegelisahannya.
Ia berbaring dan tangannya memegang kalung yang melingkar di lehernya.
" Gue penasaran sama misteri yang ada di balik kalung ini. mungkin saran Kartika sama Tirta tu ada benernya. "
••••••••☆••••••☆•••••
Agni turun dari kamarnya menuju meja makan dan Agni melihat hanya ada Bayu yang sedang makan malam dengan pakaian rapi dan ada tas ransel di tempat duduk sebelahnya.
Agni menggeser mundur kursi yang ada di depan Bayu dan duduk di kursi itu membalikkan piring yang terletak di atas meja.
" Lah kok sepi banget, yang lain kemana Bay. "
" Papi lagi lembur lagi, trus mami lagi ke rumah tante, katanya sih tante lagi sakit gitu. Tadi mami juga pesen kalo sampe jam 9 belom pulang berarti mami nginep di rumah bibi. "
Bayu menjelaskan dengan sangat jelas.
" Trus lo rapi kek gitu mau kemana coba? "
" Oh iya, kakak belom aku kasih tau ya! Jadi aku tu mau ke kota A. karena jauh mungkin pulangnya besok malem."
" Jauh amat, mau ngapain sih ke kota A? "
" Di sana tu lagi ada acara festival music, terus aku sama grub band ku mau perform di sana, keren kan!!"
" Idiiih! "
" Trus gue di rumah sendirian gitu? pada tega banget deh. "
" Lah kan ada bibi! "
Bayu meletakkan sendok dan garpunya di atas piring makannya yang sudah kosong, tangannya meraih teko dan gelas kaca yang ada di depannya. Saat Bayu menuangkan air ke dalam gelas, HP nya yang ada di samping piring itu menyala membawa pesan.
Taakkk!.... gelas itu di letakkan oleh Bayu, ia meraih ransel itu.
" Aku berangkat dulu ya kak, udah di tungguin temen - temen di depan. "
" Pergi sono yang jauh, ga pulang sekalian juga gapapa!"
" Dih ngambek. " Bayu berjalan menuju keluar rumah.
Dari jauh terlihat wanita paruh baya yang sedikit gemuk dengan gelungan serta baju polos dan rok hitamnya berjalan menuju tempat duduk Agni.
" Non! kepala bibi sedikit pusing, bibi izin istirahat lebih awal ya non setelah beres - beres meja?. "
" Iya bi gapapa kok. Bibi udah minum obat kan? "
" Udah kok non. Kalau perlu apa - apa panggil bibi aja ya non."
" Yaudah ya bi, Agni ke atas dulu. "
Bibi menjawabnya dengan mengangguk sambil tersenyum.
Saat Agni melangkah menaiki tangga, ia merasa ada angin tertiup melewati sebagian leher belakang nya sekejap Agni berhenti melangkah dan menyentuh leher bagian belakangnya, ia mencoba tenang dan berjalan kembali menuju kamarnya.
Agni di sibukan dengan tugas - tugasnya yang begitu banyak, tanpa sadar Agni tertidur dengan posisi duduk kepalanya tergeletak di atas buku - buku itu.
>>>>>><<<<<<
Agni merasa ia tidur di atas ranjang dengan mengenakan selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebahu, ia merasa selimutnya semakin turun kebawah dengan perlahan, tangan Agni meraih selimut itu kembali ke atas namun selimut itu kembali turun secara perlahan.
Agni kesal dan sangat terganggu dengan selimut itu.
" hiih apa - apaan sih! ganggu banget. "
__ADS_1
Agni menarik selimut itu dengan tenaga kuat lalu ia duduk melihat sosok yang mengganggunya. Sosok itu memunggungi Agni, dari postur dan rambutnya terlihat seperti laki - laki, tidak terlihat jelas karna gelap, baju abu - abu itu terdapat seperti bercak darah, jari-jari yang menyentuh selimut itu terlihat membiru,perlahan ia menengok ke belakang perlahan.
Agni terdiam membeku penasaran, betapa terkejutnya ia melihatnya. Wajahnya penuh luka, dari kepalanya perlahan mengalir darah, matanya sayup, raut mukanya begitu sedih tapi semua itu terlalu mengerikan.
AAAAARRRKK!!!
Tubuh Agni berkeringat,nafasnya tak teratur, perasaan takut dan yang dilihat Agni terlihat sangat nyata. Ia mencoba tenang, ia ingin menenangkan dirinya namun air di atas meja terlihat kosong.
Agni turun dengan gelas di genggamannya, keadaan rumahnya sedikit gelap dan sunyi.
Agni melihat sesuatu yang melintas melewati tangga.
" bi! bibi belum tidur?." tidak ada sautan
Saat Agni menuangkan air, terdengar seperti TV di ruang tengah menyala sendiri. Ia tidak merasa curiga sedikit pun, mencoba untuk tenang dan menghampiri sumber suara itu. TV itu telah di matikan namun seketika lampu - lampu rumah berkedip dengan sendirinya, yang semula peraasanya tenang menjadi kacau balau.Beberapa barang seperti terhempas berjatuhan, rasa takut itu mulai muncul, tubuh itu sulit untuk bergerak tertimbun ketakutan tapi harus bisa melangkah.
Agni melangkah dengan kewaspadaan menuju kamarnya, saat di bawah tangga terdengar langkah kaki yang begitu lambat terdengar semakin jelas. Badan Agni berhenti melangkah seketika, entah apa yang menggerakkan tubuhnya, Agni menoleh perlahan ke arah tangga. Tubuh bekunya tak mampu melangkah lagi rasanya campur aduk, takut, ingin berteriak namun tidak ada daya sama sekali, tubuh itu bergetar. Mata itu melihat kenyataan dari mimpinya, sosok menyeramkan dari mimpinya muncul di depan matanya, lebih menyeramkan. wajahnya menatap Agni sangat tajam, penuh darah melangkah menuju Agni.
Kaki kaki itu tak mampu menahan ketakutan, Agni terduduk di lantai, tak mampu melakukan apapun, ia hanya bisa menutup matanya dan berharap semua ini juga mimpi. Agni merasa semakin dekat dengan sesuatu, benar saja, ada tangan yang menjulur menuju pundaknya.Saat tangan itu secara perlahan.
"Aaaaaarrrrkkk.. jangan sentuh aku, pergi sana jangan ganggu aku. " seketika Agni berteriak sekeras - kerasnya.
" Ada apa Ni? ini ayah. "
Agni perlahan membuka matanya dan melihat sosok yang memegangnya, seketika ia memeluknya dan menangis sekeras mungkin.
" Ayah!! Agni takut sekali."
" Memangnya apa yang terjadi sebenarnya dan kenapa rumah terlihat berantakan? "
" Dia yang melakukan semua ini Yah, aku takut sekali."
" Dia siapa?"
" Hantu itu, hantu itu yang melakukannya."
" Hantu!." Ayah Agni terdiam sejenak memikirkan perkataan Agni, ia curiga kejadiannya akan sama waktu ia masih kecil. `tapi kemampuan itu sudah tertutup dan membatasinya, bagaimana hal seperti ini mendekatinya lagi'.
" Sudah tidak apa - apa. Ayah akan mengantarmu ke kamar."
Ayah Agni mencoba menenangkan Agni dengan menyuruhnya tidur,Agni berbaring di ranjangnya terdiam.
Saat Ayah Agni beranjak meninggalkan kamar, tangan Agni memegang kemeja Ayahnya.
" Jangan tinggalin Agni, Agni takut."
" Yaudah, Ayah bakal nemenin Agni sampe tidur ."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
●●●●●●●●
Di sini aku bakalan kasih tau nama Ayahnya Agni nih.
__ADS_1
Namanya adalah Pak Hendra ( 45 ) pegawai kantor biasa, sering lembur biar dapet bonus. Seorang Ayah yang hebat dan sangat penyayang.
●●●●●●●●●