Who Changes

Who Changes
Mencari


__ADS_3

Tama menyerahkan semua di tangan Agni. Saat itu Agni hanya terdiam dan termenung karena masih belum percaya dengan semua kejadian yang ia alami ternyata saling berkaitan. Ia begitu dilema dengan pilihan itu, ketika mengingat lagi dan saat itu juga ada Edgar yang muncul di pikirannya.


.


.


●●●●●●●


.


.


Setelah pembicaraan mereka berempat, Agni yang paling terbebani di situ. Hingga pulang pun ia hanya diam dengan tatapan kosong, ia tak seperti biasanya. Ia memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun , Mami dan Ayahnya melihat itu sangat khawatir begitu pun dengan adik nya juga sangat khawatir karena ia sudah tau dari Ayahnya.


" Kak Mami masak makanan kesukaan kaka lo, nggak kecium apa?"


Bayu mencoba menggoda kakaknya, namun tak sepatah kata pun dari Bayu yang terdengar oleh Agni, pikirannya kacau saat ini ia hanya terdiam dan terus berjalan menuju kamarnya.


.


.


○○○○○○


.


.


Pikiran Agni kini kalut dengan masalah yang sedang ia hadapi, masalah ini sangat mempengaruhi Agni.


Terdengar langkah kaki menaiki tangga, semakin jelas terdengar dari kamar Agni, langkah itu berhenti di depan pintu. Pintu kamar Agni tidak terkunci, tanpa ketukan atau suara pintu itu di buka dengan perlahan.


" Kak ! " seru Bayu


Seketika Agni menoleh dari posisi nya yang dimana ia sedang berdiri menghadap luar jendela


" Ngagetin tauk, kalo ke kamar orang jangan langsung masuk aja dong. "


" Sapa suruh pintu nggak di kunci ! "


" Ya kan bisa manggil atau ketuk pintu dulu gitu. " saut Agni.


" Iya iya gitu aja baper ! "


" Hmmm "


" Kakak tadi kok nggak makan bareng kita kenapa? kakak sakit? " Bayu sedikit khawatir dengan kakaknya.


" Tumben perhatian! pasti ada maunya yaa. "


" Nggak kok, aku kan sebagai adik yang baik wajar dong khawatir. Aku tau kakak punya masalah. "


" Duuuh gemess deh. " Agni mencubit pipi adiknya itu karna sikapnya yang berubah.


" Aku bukan anak umur 5 tahun ya! " Bayu menjawabnya dengan wajah kesal.


" Aku gapapa kok! cuma lagi banyak tugas aja. "


" Yaudah deh aku mau keluar, mata ku sakit ngeliat kamar kok kayak perpustakaan kota. "


Bayu mengatakannya sambil berlari keluar dari kamar kakaknya itu


" Dasar adek nggak tau diri! "


Agni memasang wajah kesalnya itu mendengar ledekan dari adik lelakinya, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum. Meski dia kesal dengan perkataan adiknya itu, ia sedikit terhibur dan sejenak melupakan masalahnya itu.


.


.

__ADS_1


○○○○○○○


.


.


tok tok !!!


terdengar suara ketukan di pintu kamar Agni.


" Agni!! Mami sama Ayah mau ngomong bentar bisa? "


itu suara Mami nya yang mengetuk pintu. Agni saat ini sedang duduk di meja belajarnya, mendengar Mami nya itu, ia menutup buku yang sedang ia baca.


" Masuk aja mi! nggak aku kunci kok. "


" Mami masuk ya! "


Pintu itu di buka oleh Mami nya, mereka menghampiri Agni yang sedang membereskan buku - buku di mejanya itu.


" Kamu lagi belajar ya? Ayah sama Mami mau ngomong penting sebentar aja, nanti kamu lanjutin baca buku nya. "


Sangat tidak biasa Ayah dan Mami nya masuk ke kamar Agni untuk berbicara, wajah mereka terlihat serius bercampur dengan kecemasan.


" Mami sama Ayah mau ngomong apa? Agni belajarnya udah selesai kok. "


" Sini duduk sama Mami. " kini Mami nya sedang duduk di ranjang.


Tentu Agni langsung beranjak menghampiri Mami nya dan duduk di sebelahnya sedangkan Ayahnya berdiri di sisi lain Maminya.


" Ada apa sih Mi kok mukanya pada serius banget. "


" Ayah mau jujur kalo sebenernya saat kamu ngeliat sesuatu dan Bayu nggak ngeliat sebenernya Ayah juga nggak liat tapi Ayah nggak mau kamu cemas jadi Ayah bohong sama kamu, maafin Ayah ya Ni! "


" Hih Papi ini gimana sih, langsung diomongin gitu. "


Mami Agni sedikit kesal dengan sikap suaminya itu yang langsung terus terang di hadapan Agni.


" Iya Yah, gapapa Agni udah ngerti kok maksud Ayah itu baik sama Agni. "


" Kamu nggak takut atau cemas gitu Ni? "


" Nggak kok Yah, lagian Agni udah cari tau sendiri. "


" Yang bener? kok bisa nyari tau sendiri. "


Tanpa berfikir panjang Ayah Agni mengatakan semua itu pada Agni. Diantara percakapan antara Agni dengan Ayahnya tiba - tiba Ayah Agni merasakan hawa panas sesaat.


" Ni AC nya nyala kan? kok Ayah ngerasa kayak panas ya! " sambil celingukan


" Udah kok Yah, perasaan Ayah aja kali!. " Agni bingung dengan perasaan Ayahnya itu.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤


" Papi..! "


Suara itu terdengar sedikit seram. Seketika Ayah Agni menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tatapan pembunuh itu menembus mental Ayah Agni, istrinya kini memberi tatapan mengerikan yang membuatnya menelan ludah dan berdebar.


" Emmm Ayah sedikit haus, Ayah turun dulu ya mau minum. Kamu ngobrol aja sama Mami mu, Ok!. "


Ayah Agni melontarkan kalimat itu sambil tersenyum palsu dan beranjak pergi keluar kamar.


" Ayah kenapa sih Mi, kok tiba - tiba aneh gitu? "


" Udah biarin aja, Mami mau kasih tau kamu saat kamu umur 5 tahun. Ini berkaitan dengan yang kamu lihat akhir - akhir ini. "


Agni mengangguk dan itu sama dengan iya. Mami Agni menceritakan kejadian saat Agni berumur 5 tahun yang sering sakit - sakitan.


" Jadi gitu ya Mi ceritanya. "

__ADS_1


Dengan bersikap tenang Agni menanggapi cerita Maminya itu.


" Kalau memang kamu cemas dengan keadaan itu, Mami bakal cariin orang yang hebat yang bisa menutup kemampuan itu. "


Mami Agni mengatakan itu sambil memegang tangan Agni untuk meyakinkan Agni.


" Agni gapapa kok Mi, Agni mau nyoba membiasakan diri Agni dengan kemampuan ini, mungkin ini sudah jadi takdir Agni. Dan juga akan sangat bagus jika Agni bisa membantu orang lain dengan kemampuan Agni. "


Agni mencoba meyakinkan Maminya lewat kalimat yang dia ucapkan sambil tersenyum di hadapan Maminya.


Mendengar perkataan anak perempuannya serta senyumnya yang tulus itu, Mami Agni sangat tersentuh dan seketika ia memeluk Agni dengan lembut. Setelahnya Mami Agni memegang pipi Agni dengan kedua tangannya.


" Apapun keputusan Agni Mami bakal dukung Agni asal itu untuk kebaikan dan kebahagiaan Agni. "


" Makasih ya Mi. " Agni menjawabnya di sertai senyumannya.


" Ya udah kamu cepet istirahat ya, Mami keluar dulu. "


.


.


○○○○○○○


.


.


Agni kini berbaring menghadap langit - langit kamarnya, pikirannya kini penuh.


Tangannya mencoba meraih Handphone di samping kepalanya itu, diraih lah HP itu. Dia membuka kontak bernama Kartika, kini HP itu berdering memanggil Kartika.


" Ada apa Ni? ada yang mau di ceritain lagi ya? "


Dengan sangat lantang suara Kartika hingga membuat Agni harus menjauhkan telinganya dari Handphone nya.


" Bisa nggak kecilin dulu volume nya, spiker ku nanti rusak. "


" Dih lo nelfon gue cuma mau ngeledek ya! "


" Ya abis suara lo tu kenceng banget tau nggak. "


" Hadeh ni kayak baru kenal berapa hari aja, kan lo tau orang rumah gue tu suara nya kek apa semua, ya wajar dong kalo suara gue kayak gini. "


" Iya iya, gue cuma mau minta tolong sama lo bisa?"


" Minta tolong apaan dulu nih? "


" tolong absenin gue ya besok ! "


" Lah emang besok lo nggak ke kampus ? "


" Nggak dulu Kar, gue butuh waktu sendiri. Gue masih bingung mau ambil keputusan. "


" Denger ya Ni, apapun pilihan lo gue sama Tirta bakal ada di sisi lo. Kalo soal absen besok itu gampang." Kartika mengatakannya dengan nada yang serius.


" Makasih ya Kar, gue bersyukur banget punya temen kayak kalian, kalian tu emang ter the best deh pokoknya, yaudah ya aku matiin bye. "


" Ok ! "


Tuuut!!!!


.


.


○○○○


.

__ADS_1


.


Agni sangat bersyukur memiliki teman dan keluarga yang selalu mendukungnya, Agni begitu sangat tersentuh dengan sikap teman dan keluarganya. Dari masalah ini Agni baru sadar jika orang - orang di sekitarnya sangat peduli dan selalu mendukungnya.


__ADS_2