
"Dih gamau!! yaudah deh minggu depan, tapi beneran ya gak boleh di undur - udur, awas aja kalo minggu depan bilangnya sibuk lagi. "
" Iya - iya, udah ah mau tidur lagi gue. "
Tuut!!!!!!
" Dih di matiin. "
.
.
.
Seminggu telah berlalu, hari ini hari dimana Agni, Tirta, daan Kartika akan menemui teman dari temannya Tirta yabg katanya indigo. Selama seminggu ini Agni selalu melihat bayangan yang kadang lewat begitu saja dan juga penampakan berwujud seseorang meski wajahnya tidak menyeramkan itu sangat mengganggu.
di Pagi hari di dalam mobil menuju kampus Agni.
" Kasian banget nenek nya. " Agni melihat nenek itu berjalan dari balik jendela mobil.
" Mana sih kak, nggak ada nenek nenek jalan " saut Bayu sambil melihat sekeliling.
" Dasar buta. " dengan sinis Agni menjawab bayu.
" Emang nggak ada tauk, jangan - jangan kakak indigo terus bisa liat makhluk gaib. " Bayu melontarkan perkataan itu dengan sengaja untuk menakut nakuti kakaknya.
" Gue tampol nih kalo ngomong lagi. " Agni sangat jengkel dengan adik nya itu.
" Udah - udah! Bayu kamu tu jangan mancing kakak kamu marah dong! "
" Papi tu gimana sih, jelas - jelas tadi tu nggak ada siapa - siapa Pi! kakak juga seminggu ini selalu aja bilangnya ada orang lah ada bayangan lah padahal kan nggak ada siapa - siapa! " Bayu mencoba membela diri.
" Papi liat kok tadi ada nenek - nenek jalan di trotoar. "
Bayu memasang wajah cemberut dan kesal karena dia di sudutkan, ia kesal karna Papinya memilih membela kakaknya yang jelas - jelas di trotoar tidak ada satupun nenek - nenek seperti kata Agni.
Ayah Agni berbohong saat ia percaya pada Agni bahwa ada nenek - nenek yang sedang berjalan, ia takut jika Agni akan ketakutan dan menyadari bahwa yang ia lihat akhir - akhir ini adalah mahkluk yang tak kasat mata.
Kini suasana di dalam mobil menjadi hening dan dingin karena perdebatan mereka tadi, hingga sampai di kampuspun mereka saling tidak berbicara. Agni keluar dari mobil itu tanpa ucapan pamit sedikitpun dan ia pergi begitu saja.
" Bayu lain kali kalau kakak gitu lagi kamu tinggal pura - pura percaya aja ya. "
" Kenapa sih Pi kok nyuruh aku gitu sih, kalo gitu kita sama aja bohong dong sama kakak, sebenernya ada apa sih Pi sama kakak kok akhir - akhir ini dia tu aneh. "
Bayu langsung berbicara ke intinya, ia sangat penasaran apa yang membuat kakaknya jadi seperti itu.
" Nanti Papi bakal cerita di jalan, tapi kamu harus janji sama Papi nggak kalo kakak nggak boleh sampek tau hal ini. "
" Iya iya Pi, Bayu janji nggak bakal ngomong sama kakak. "
Dari situ Ayah Agni menceritakan apa yang di ketahui oleh Ayah Agni dan Mami nya di sepanjang jalan menuju sekolah Bayu.
.
.
__ADS_1
○○○○○○○
.
.
Di tempat lain, Agni saat ini berjalan menuju kantin kampus untuk menemui Tirta dan Kartika.
Sebenarnya hari ini mereka tidak ada kelas, namun karna Tirta sudah berjanji pada Agni dan orang yang ingin mereka temui hari ini ke kampus jadi mereka terpaksa masuk hari ini.
Dari kejauhan Agni berjalan menuju tempat duduk Tirta dan Kartika.
" Orangnya belum dateng ya Tir? " tanya Agni begitu ia sampai.
" Belum!" Sambil melihat jam yang ada di tangan kirinya Tirta berkata " kira - kira lima belas menit lagi kelasnya udah berakhir. "
" Yaudahlah Ni! kita sabar aja nungguinnya, kamu kan juga baru dateng, duduk dulu gih. " saut Kartika dengan santai.
" Iya Ni kamu duduk dulu, kamu mau pesen apa biar aku yang perenin nanti. " Tirta menawarkan diri
" Aku mau jus tomat aja, tadi udah makan di rumah. "
" Yaudah tunggu ya aku pesenin dulu. " Tirta beranjak pergi untuk memesan minuman yang di pesan Agni.
Tak butuh waktu lama Tirta kembali dengan satu gelas jus tomat di tangan kanannya.
Tirta meletakkan jus itu di atas meja.
" Nih Ni! "
" Eh Tir kayak nya yang kita tunggu udah dateng deh. " Kartika melihat seseorang berjalan menuju tempat duduk mereka.
" Mana Kar? " tanya Tirta
" Coba lo tengok ke belakang, ada cowok yang jalan ke arah sini. "
Seketika Tirta menoleh ke belakang dan ternyata betul, dia yang sedang di tunggu mereka.
" Kok lo tau Kar, lo kenal ya? " saut Agni
" Yah di lihat aja udah nyeremin gitu, jalannya aja ke sini ya pasti dia lah. "
.
.
○○○○○○
.
.
" Maaf, kalian udah nunggu lama ya. " Suara itu terdengar berat dan cuek.
" Nggak kok! duduk dulu gih " saut Tirta
__ADS_1
Pria ini cukup tinggi, rambutnya sedikit ikal namun rapi, matanya sayup dengan raut wajah yang dingin, kulitnya putih pucat, ia mengenakan baju berwarna gelap.
" Ya ampun pria ini udah kayak es batu ya Ni! " Bisik Kartika kepada Agni.
" Diem ya Kar! kalo dia denger gimana. "
" Iya deh maaf. "
Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
" Nama ku Pratama, panggil aja Tama. "
" Gue Tirta "
" Gue Kartika "
" Panggil aja aku Agni. "
Saat Tama menjabat tangan Agni, tiba - tiba ia tersenyum sekejap, senyumannya membuat Kartika menelan ludah karena itu terlihat menyeramkan.
" Pasti kamu kan ada perlu sama aku. "
Tama langsung berkata seperti itu saat ia berjabat tangan dengan Agni. Kemudian ia duduk dan kembali memasang wajah dingin. Agni hanya terdiam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun
" Jadi apa yang mau kamu tanyakan? "
Tama melihat ke arah Agni dan bertanya kepadanya.
" Jadi kamu udah tahu kalo yang punya masalah tu Agni. " Tirta melihat ke arah Tama
" Tentu saja aku tahu, ada hawa yang berbeda saat aku berjabat tangan dengannya. " Tama berbicara dengan wajah dinginnya itu
" Keren. "
Tirta kagum mendengarkannya dan memasang wajah kekaguman yang konyol melihat wajah Tirta, Kartika sedikit kesal.
" Dasar bodoh!!!"
Seketika Kartika memukul kepala Tirta karena kesal
" Aduh, kenapa sih Kar? sakit tau ! " Tirta memegang kepalanya karna kesakitan.
" Emmm.. sekarang coba kamu ceritain masalah kamu dari awal. "
" Udah ceritain aja ni. " saut Kartika dengan lirih. "
" Aku tahu kok masalah kamu itu berkaitan dengan kalung yang saat ini kamu pakai. "
Tama mencoba mengambil kepercayaan Agni agar mau bercerita. Agni menarik nafas panjang dan membuangnya,suasana menjadi sangat serius , mendengar perkataan Tama, Agni lalu mulai menceritakan kejadian yang dia alami ketika saat menemukan kalung itu hingga peristiwa - peristiwa yang terjadi setelah kalung itu di bawa pulang oleh Agni.
Mereka bertiga mendengarkan cerita Agni dengan serius terutama Tama.
" Jadi gitu ceritanya, menurut kamu yang terjadi dengan ku itu wajar atau nggak sih ?. "
" Sebernarnya sejak kamu memakai kalung itu, pagar di sekelilingmu dan sesuatu yang menutupi matamu itu kini terbuka, dan juga kemampuan itu kini mungkin meningkat dengan bertambahnya umurmu saat ini. "
__ADS_1
" Aku nggak ngerti apa yang kamu omongin."