Xiao Heiven : New Genesis

Xiao Heiven : New Genesis
Ch. 29 —Keadaan Berbalik.


__ADS_3

Hawa panas yang memancar dari pusaran api hitam itu mampu menekan pergerakan puluhan tombak cahaya milik Heiven agar tak melangkah lebih jauh lagi mendekati tempat keberadaan Lin Yao.


Ke-dua serangan dahsyat itu saling memblokir dan berusaha menghancurkan satu sama lain seolah-olah masing-masing serangan memiliki niat untuk tak membiarkan serangan lain mengenai penggunaannya.


Langit yang berusaha menahan tekanan energi dari ke-dua serangan ini, mulai bergemuruh dengan dahsyat seakan-akan mau runtuh.


Badai petir menyambar-nyambar tak terkendali menambah nuansa kengerian saat seseorang menatap ke arah langit.


Akan tetapi, takdir tampak lebih berpihak pada Heiven untuk saat ini. Pusaran api Hitam yang tercipta dari mantera sihir Lin Yao secara perlahan mulai melemah dan akhirnya menghilang tanpa jejak saat kekuatan elemen cahaya yang memancar dari masing-masing tombak cahaya saling terhubung satu sama lain.


“Ternyata kau adalah pewaris kekuatan dari Dewa Waktu. Pantas saja aku sempat merasakan adanya fluktuasi energi hukum waktu yang memancar dari tubuhmu saat kau bermeditasi di ruang tamu Kerajaan waktu itu.” Lin Yao menatap tajam ke arah Heiven saat ia merasakan adanya fluktuasi energi hukum waktu yang samar di masing-masing tombak cahaya saat semua tombak cahaya itu saling terhubung.


Lin Yao akhirnya mengetahui rahasia dibalik semua mantera sihir yang dimiliki Heiven. Sebab, semua orang yang hidup di zaman ini telah mengetahui bahwa warisan yang ditinggalkan oleh Dewa Waktu dijaga oleh Dewi Nuwa.


Jadi, orang yang memiliki warisan Sang Dewa Waktu pasti juga akan mendapatkan warisan berbagi mantera sihir dari Dewi Nuwa untuk melindungi diri sampai orang itu berhasil sepenuhnya memahami tentang kekuatan hukum waktu.


“Kekuatan waktu yang kau miliki memang cukup mengesankan. Tapi, aku juga tahu bahwa kau belum mampu mengeluarkan kekuatan penuh dari warisan itu. Aku akan membunuhmu sebelum kau menjadi bertambah kuat.”

__ADS_1


Dendam yang ada di hati Lin Yao tampaknya sudah mengambil alih cara berpikirnya. Ia sama sekali tak tertarik dengan warisan yang ditinggalkan oleh Dewa Waktu dan tetap ingin membunuh Heiven.


Heiven yang memang hanya bisa menggunakan sebagian kecil dari kekuatan hukum waktu, hanya bisa terdiam mendengar ucapan Lin Yao. Jika ia dapat sepenuhnya menguasai hukum waktu maka hal seperti ini tidak akan mungkin pernah terjadi.


Lin Yao langsung bergegas terbang ke langit dan menyerang semua tombak cahaya yang ada di hadapannya. Ia ternyata sangaja membuat Heiven menjadi bimbang agar Heiven tak memiliki waktu untuk memperkuat pertahanan dari masing-masing tombak cahaya saat ada serangan yang mendekat.


Dan …


Usaha Lin Yao itu tampaknya membuahkan hasil. Walaupun ia hanya menyerang seorang diri, tapi tekadnya yang kuat telah memberikan kekuatan tambahan pada dirinya.


Boom ....


Raut wajah Heiven langsung berubah menjadi suram saat melihat beberapa tombak cahaya miliknya dihancurkan dengan sangat mudah oleh Lin Yao yang telah berubah menjadi seorang penyihir kegelapan.


Meskipun Heiven tidak memiliki kekuatan sebesar Dewa, tapi mantera sihir dan teknik tombak yang ia gunakan seharusnya tidak bisa dihancurkan semudah itu oleh seorang manusia.


Apakah mungkin tingkat kekuatan yang ia miliki saat ini memang benar-benar masih terlalu lemah jika dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh para peryihir kegelapan sama seperti yang dikatakan Yu Hao sebelumnya?

__ADS_1


Lin Yao yang melihat Heiven sedang tidak fokus dalam pertarungan ini, segera melemparkan sebuah serangan sihir tingkat tinggi ke arah Heiven.


Boom ...


Suara ledakan yang sangat keras kembali bergema di udara saat serangan sihir Lin Yao menghantam tubuh Heiven dengan telak.


Heiven pun langsung terpental dan menabrak dinding pembatas istana. Ia mengalami rasa sakit yang sangat luar biasa di bagian dadanya. Untung saja organ bagian dalam tubuhnya sama sekali tak terdampak serangan ini.


Namun, tongkat sihir yang merupakan senjata andalannya saat ini telah terlepas dari tangannya.


Aliran Qi yang ada di dalam tubuh Heiven menjadi kacau setelah terkena serangan ini. Ia tak dapat lagi menggunakan kekuatan penuhnya.


Lin Yao tersenyum licik saat melihat Heiven menahan rasa sakit. “Saat kematianmu sudah dekat. Apakah kau tidak memiliki permintaan terakhir?”


Heiven tak menanggapi ucapan Lin Yao. Ia berusaha meraih kembali tongkat pusakanya yang tergeletak di atas tanah tak jauh dari tempatnya saat ini.


Lin Yao mengamati setiap gerakan Heiven. Ia tersenyum lepas karena tiba-tiba terpikir sebuah rencana lain untuk menyiksa Heiven. Sebab, sebuah kematian menurutnya terlalu ringan jika dijadikan sebagai sebuah hukuman untuk kejahatan besar yang telah dilakukan Heiven para Ayahnya.

__ADS_1


“Bagaimana jika kau bersumpah setia padaku dan mengabdi sebagai budakku. Dengan begitu maka aku bisa membiarkanmu hidup dengan nyaman layaknya seekor …”


__ADS_2