
“Benar sekali. Aku adalah Divine Beast Shen Long penguasa dan penjaga Benua Atlantis ini.” Shen Long menjawab dengan suara yang sangat khas dan memancarkan aura kewibawaan tersendiri. Ia lalu balik mengajukan pertanyaan pada Heiven. “Karena aku sudah menjawab pertanyaanmu tentang identitasku, maka sekarang giliranku yang bertanya. Apakah kau bukan makhluk yang berasal dari zaman ini?”
“Dari mana anda tahu?” Heiven menjadi terkejut dan langsung menatap Divine Beast Shen Long dengan sedikit bergetar seolah-olah ia sedang melihat suatu makhluk yang sangat mengerikan.
“Itu bukanlah hal yang sulit. Di dalam tubuhmu memancar sebuah kekuatan aneh yang seharusnya belum ada di dunia ini. Kekuatan itu adalah Qi.” Divine Beast Shen Long lalu mengalihkan pandangannya pada Meylin yang saat ini berada di sampingnya. “Muridku ini juga sama sepertimu. Dia bukan berasal dari zaman ini, tapi aku tidak tahu apakah dia berasal dari zaman yang sama denganmu atau tidak.”
Meylin menganggukkan kepala sebagai isyarat bahwa semua yang dikatakan Divine Beast Shen Long tentangnya adalah suatu kebenaran.
Heiven tidak dapat berkata apa-apa lagi saat mendengar identitas sebenarnya dari wanita yang telah menolongnya itu. Saat ini ia hanya bisa menatap Meylin dengan lebih teliti lagi. Sebab, ia merasa bahwa wajah wanita yang ada di hadapannya itu terasa sangat familiar. Namun, ia tidak dapat mengingat dengan jelas dimana ia pernah melihat Meylin.
“Apakah Dewi Nuwa yang membawamu pergi ke zaman ini?” tanya Divine Beast Shen Long yang langsung memecah lamunan Heiven.
“Bukan.” Heiven menggelengkan kepala. “Aku pergi ke zaman ini setelah aku mendapatkan senjata pusaka milik Sang Dewa Waktu.”
Heiven segera mengeluarkan tombak pusaka miliknya dan memegangnya dengan erat di depan Divine Beast Shen Long dan juga Meylin. Ia lalu lanjut berkata. “Aku baru bertemu dengan Dewi Nuwa setelah aku sampai dan zaman ini. Ia memberiku sebuah tugas yang sangat berat yaitu menghancurkan semua penyihir kegelapan yang ada di zaman ini. Namun, ia juga memberiku pengetahuan tentang berbagai macam mantera sihir sebagai hadiah karena mau menerima tugas itu.”
Divine Beast Shen Long menganggukkan kepala. “Aku mengerti sekarang. Sepertinya Dewi Nuwa telah memilih orang yang sangat tepat.”
Divine Beast Shen Long merasa senang dengan pilihan Dewi Nuwa. Sebab, Dewa Waktu sebenarnya adalah murid pertama dari Divine Beast Shen Long. Jadi, bisa dikatakan bahwa Heiven masih memiliki hubungan dengan Divine Beast Shen Long. Dan, di Planet ini tidak ada seorang Dewa pun yang memahami hukum waktu lebih baik daripada Divine Beast Shen Long.
__ADS_1
Akan tetapi, Divine Beast Shen Long merasa bahwa Heiven saat ini belum cukup mampu untuk memahami hukum waktu yang lebih dalam lagi. Karena itu, ia lalu memberi perintah pada Meylin.
“Meylin, aku ingin memberimu sebuah tugas tambahan. Apakah kau bersedia?”
Meylin langsung maju ke hadapan Divine Beast Shen Long. “Murid siap menerima tugas itu dan akan berusaha menyelesaikannya sebaik mungkin agar tidak membuat guru kecewa.”
Divine Beast Shen Long merasa cukup senang saat mendengar jawaban Meylin. “Selain mengolah Mana di dalam tubuhmu, aku juga tahu bahwa kau juga dapat mengolah Qi dengan baik di dalam Dantianmu. Itu adalah keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh penduduk di zaman ini. Karena itu, aku ingin kau mengajari Heiven agar dia bisa menstabilkan dan memperkuat Qi yang ada di dalam tubuhnya.”
“Baik, Guru,” jawab Meylin tegas tanpa banyak bertanya karena perintah dari gurunya adalah sebuah kewajiban yang harus ia selesaikan.
“Apakah anda yakin memerintahkan gadis ini untuk melatihku memperkuat Qi?” tanya Heiven sedikit curiga.
“Benar. Mulai hari ini, dia yang akan melatihmu selama kau tinggalkan di tempatku,” jawab Divine Beast Shen Long.
“Kenapa?” Heiven masih tak dapat memahami tentang jalan pikiran Divine Beast Shen Long.
Melihat kebimbangan yang terpancar dari mata Heiven, Divine Beast Shen Long akhirnya menceritakan kisah tentang murid pertamanya yaitu Sang Dewa Waktu.
Heiven pun akhirnya mengerti bahwa Divine Beast Shen Long saat ini adalah Kakek Gurunya karena ia telah menerima warisan dari salah satu muridnya yaitu Sang Dewa Waktu dan telah menjadikan Sang Dewa Waktu sebagai gurunya walaupun mereka berdua sebenarnya belum pernah bertemu.
__ADS_1
Divine Beast Shen Long pun langsung pergi meninggalkan Istananya setelah memberikan beberapa nasihat para Heiven dan Meylin. Tampaknya Divine Beast Shen Long memiliki sebuah masalah penting yang harus segera ia selesaikan. Karena itu, ia pergi meninggalkan istana ini dengan sedikit terburu-buru.
Setelah Divine Beast Shen Long pergi, Meylin berjalan menghampiri Heiven untuk mengenal dia lebih dekat lagi. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah kau bersedia menjawab pertanyaanku ini?”
“Kata'kan saja, tidak perlu sungkan. Saat ini kita berdua sudah seperti keluarga. Aku akan menjawab semua pertanyaan yang kau ajukan dengan jujur jika aku tahu jawabannya,” jawab Heiven dengan ramah.
“Aku ingin tahu tentang asal-usulmu dan dari tahun berapa kau berasal? Mungkin saja kau dan aku sebenarnya pernah berjumpa di masa depan.” Meylin merasa bahwa wajah Heiven ini sedikit mirip dengan wajah seorang pria yang selama ini selalu ia rindukan.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Heiven segera menceritakan pada Meylin tentang asal-usul dirinya dan semua anggota keluarga yang ia miliki. Termasuk di tahun berapa dia dilahirkan dan tahun terakhir ia berada di masa depan.
“Tadi kau mengatakan bahwa ibu kandungmu bernama Bianca. Dan, kau juga memiliki beberapa orang ibu tiri. Bisakah kau katakan padaku siapa saja nama ibu tirimu itu?” lanjut Meylin bertanya setelah mendengar cerita Heiven. Ia seakan-akan bernostalgia dengan masa lalunya saat mendengar nama Bianca terucap dari mulut Heiven.
“Tentu saja.” Heiven menganggukkan kepala. Ia tak merasa keberadaan sedikitpun untuk mengungkapkan asal-usulnya para Meylin mengingat wanita ini adalah penolong nyawanya.
“Aku memiliki empat orang Ibu Tiri. Mereka adalah Bibi Xin Ye, Bibi Xue Xian Hou, Bibi Mao Shizi dan Bibi Feng Tzuyu.” Heiven menyebut ke-empat nama itu dengan sangat fasih seolah-olah sudah hafal diluar kepala.
Mata Meylin menjadi berkaca-kaca saat mendengar nama-nama itu. Sebab, Ia tiba-tiba merasakan kerinduan yang sangat dalam. Namun, ia berusaha keras menahan agar air matanya tidak jatuh dan lanjut bertanya. “Apakah di dalam anggota keluargamu ada seorang pria yang bernama Heilong?”
“Tentu saja ada. Dia adalah Ayahku,” jawab Heiven dengan bangga walaupun ia sendiri belum pernah bertemu langsung dengan Heilong sejak ia dilahirkan ke dunia ini.
__ADS_1