
Sherly gelagapan. "Ah! Itu. Saya kira tadi siapa."
Anggukan samar Gabriel menjawab. Cowok itu tidak memperpanjang hal yang menurutnya tidak penting, meskipun baru kali ini ada orang yang menanyakan hal bodoh macam pertanyaan Sherly! Kamu manusia? Memangnya ada makhluk tampan selain Gabriel? "Gagak ke-mana?"
Sherly yang sedang mengaduk bakso menghentikan gerakan tangannya, menatap bingung Gabriel. "Gagak?"
Cowok berambut pirang itu mengangguk dan merobek bungkus chiki. "Emang lu ke-sini sama siapa?"
"Sendiri." Sherly memasukan bakso yang telah dipotong ke-dalam mulut. Wajah cewek itu berubah merah, merasakan panas yang teramat bersemayam di mulutnya.
Gabriel meraih botol air yang masih disegel, menyodorkannya pada Sherly. "Pelan-pelan! Tiup dulu kalau mau makan."
Dengan kilat Sherly menenggak isi dari botol yang baru beralih tangan. Tanpa tunggu lama, setengah botol itu masuk dengan lancar ke-dalam kerongkongan Sherly bersama bulatan bakso. "Very hot and spicy."
Tawa geli keluar dari mulut Gabriel begitu saja. Tawa yang jarang terlihat dan terdengar keberadaannya, tetapi hadir dengan mudah hanya karena seorang cewek seperti Sherly.
__ADS_1
"By the way, thanks for your water."
Gabriel mengangguk. "Air itu bukan punya gue." Dia sedikit merasa tidak enak ketika melihat mata Sherly yang membulat.
"So?"
"Punya Gagak."
Sherly terdiam. Nama itu lagi? "Siapa Gagak?"
***
Setelah Sherly sudah tidak terlihat, keempat orang itu langsung menghampiri Gagak yang terduduk lesu.
Jujur saja, sebenarnya Rio sedikit takut mendekati Sherly. Gagak yang terkenal tampan, banyak duit, sedikit bodoh, tidak berhasil menaklukan Sherly. Apa lagi Rio? Urakan, berantakan, berandal jalan, dan masih banyak lagi sebutan orang-orang yang terselip di balik nama Rio Anggoro! Cowok yang selalu menggunakan plester di jidat. Rasanya harapan memenangkan hati Sherly semakin kecil.
__ADS_1
Rio hanya bisa berdoa semoga Sherly menyukai type cowok sepertinya, agar segala yang terdengar mustahil, berubah menjadi berhasil. Setidaknya dengan itu Rio bisa sedikit berbakti terhadap kedua orang tuanya.
Maikel yang ingin mengganti lagu, mengurungkan niat, mengetuk salah satu notif yang sedikit mengganggu. Maikel berseru dan tanpa sengaja menyentuh tangan Rio yang digips. "Eh, gak sengaja gue." Cowok belasteran itu melemparkan cengiran, menatap wajah masam Rio.
"Belum pernah dihantem tuh lengan kayu lu ya." Etan menceletuk sambil tertawa.
Maikel mendengus. "Awas! Entar gue aduin lu ...."
"Aduin aja! Emang gue takut? Salam buat Oki!" Etan menimpali.
Maikel, Etan, dan Evan kompak meledakan tawa. Percakapan itu adalah percakapan Rio dengan salah satu anak Warior beberapa bulan lalu.
Rio yang baru mengalami kecelakaan saat bermain bola mengakibatkan tangan kanannya patah dan harus digips. Meski begitu Rio tak kapok, malah memanfaatkan kayu yang melindungi tangannya untuk senjata. Manusia bodoh macam apa yang mampu menandingi kesangaran dan kenakalan Rio?
Gagak terdiam dengan pikiran yang melayang-layang. Baru kali ini seorang Gagak, ketua Teksas, rajanya para cewek, diabaikan dengan satu cewek bule bernama Kayona Sherly Marlyne. Gagak membaca dalam hati tulisan yang tertera di atas selembar kertas catatan. Kertas yang berisi jawaban dari soal-soal fisika yang Gagak sendiri tak mengerti. Dia terlalu bodoh untuk memahami rumus fisika.
__ADS_1
"Ah! Gue lupa!" Maikel berseru, mengetuk layar ponselnya sekali, dan menyodorkan benda pipih itu tepat di wajah Gagak.
***