
"Semoga kamu betah ya di sekolahan ini."
Sherly mengangguk sambil tersenyum. Ruangan kepala sekolah yang didominasi warna hitam dan putih membuat cewek itu betah berlama-lama. Apa lagi barang-barang antik milik pria botak yang memperkenalkan diri sebagai kepala sekolah SMA Bakti. Dari yang berbentuk estetic sampai aneh, berjejer rapih di lomari kaca.
"Titip Sherly ya Pak Agus."
Agus tersenyum berwibawa, kepala botaknya mengkilap terkena pantulan cahaya lampu. "Tenang aja Ella."
Suara yakin mantan kepala sekolahnya, membuat Ella ikut mengembangkan senyum. "Terima kasih Pak."
"Tidak usah sungkan. Kamu salah satu mantan murid yang sudah saya anggap seperti anak sendiri."Agus beralih menatap Sherly. "Ibumu ini selain cantik dan sopan, beliau juga sering membawa nama baik sekolah membuat saya bangga sebagai kepseknya."
Sherly mengulum senyum. Cewek belasteran itu merasa bangga terhadap kedua orang tuanya. Sherly bersyukur bisa terlahir dari rahim seorang wanita seperti Ella. Hidup di dalam keluarga pebisnis, tidak membuat Ella dan Daniel yang sibuk, melupakan kehadiran Sherly.
"Bapak bisa aja. Ella malu-malu saat mengatakannya. Kenangan masa lalu wanita itu masih terukir jelas di setiap jengkal dinding sekolah.
Daniel menyentuh tangan Ella yang duduk di sampingnya.
"Saya ingat sekali. Kamu dan kedua temanmu yang selalu menyabet juara umum sering sekali mengunjungi saya di ruangan kepsek lama." Agus tertawa kecil mengingatnya.
Ella juga ikut tertawa. Wanita itu melirik Daniel yang tersenyum ke-arah Agus.
"Ayo! Udah jam setengah sembilan." Daniel mengingatkan. Pria itu menunjukan jam yang melingkar di pergelangan tangan.
Ella mengangguk. "Maaf Pak. Saya sama suami mau ada jam terbang ke Bali jam sepuluh. Jadi kami tidak bisa berlama-lama."
Kepala sekolah tersenyum mengerti. "Padahal masih banyak yang ingin saya tanyakan."
"Nanti lain waktu saya bisa berkunjung ke-rumah bapak," Ella menawarkan, langsung mendapat anggukan semangat pria tua di depannya.
"Saya tunggu."
__ADS_1
Daniel bangkit berdiri yang disusul Ella dan Sherly. "Kami pamit dulu Pak."
Agus mengangguk. Mata sayup pria tua itu menatap Sherly. "Kamu sudah hafal rute sekolah belum?"
Sherly mengangguk. "Sudah sedikit."
"Kalau ke-kelas sudah hafal?"
Sherly mengangguk kembali.
"Pas banget lagi jam istirahat. Nanti ditemani Bu Noor keliling ya?"
"Iya Pak."
"Ya sudah bapak tinggal sebentar cari Bu Noor." Agus berjalan keluar ruangan dengan bantuan tongkat di tangan kanan.
Ella menatap pintu yang tertutup. Tangan wanita itu terulur mengelus kepala putrinya sayang. "Momy sama Dady berangkat dulu ya. Sherly mau nitip apa?"
Daniel terkekeh mendengar suara manja sang putri. "Belum juga berangkat, udah disuruh cepet pulang."
Sherly melepaskan pelukan. Bibir cewek itu mengerucut sebal, membuat Ella dan Daniel sontak meledakan tawa.
"Sherly!" Agus memanggil dari luar, mendorong pintu.
Ella dan Daniel menghentikan tawa mereka yang sempat menggema di dalam ruangan minimalis kepala sekolah.
Agus berjalan mendekat dengan wanita muda di sanpingnya. "Ini namanya Bu Noor, selaku guru bahasa Inggris kelas sepuluh."
Ella dan Daniel bergantian menjabat tangan guru bahasa SMA Bakti.
Sherly yang belum terbiasa, menggaruk kepala tampak kikuk.
__ADS_1
"Sherly! Ayo cium tangan Bu Noor!" Ella menarik lengan kanan putrinya.
"Oh, iya."
Noor mengangguk. Garis wajah wanita muda itu begitu tegas, menandakan kedisiplinan. "Namanya siapa, cantik?"
"Sherly."
"Anak saya pindahan dari Landen," Ella memberitahu. "Jadi Sherly belum terbiasa dengan budaya Indonesia."
Noor tersenyum memaklumi. "Di sini juga banyak murid dari luar negri. Kami sudah biasa menanganinya."
Agus berdeham menyela pembicaraan. "Nanti ajak Sherly berkeliling ya Noor!"
"Siap." Noor mengangguk patuh.
"Dady sama Momy kerja dulu ya." Daniel menepuk puncak kepala Sherly. "Titip Sherly Bu Noor."
Guru bahasa itu mengangguk kembali.
****
Noor dan Sherly sedang berjalan santay di lorong, terowongan panjang yang bercabang dengan kursi-kursi panjang di setiap sisi pintu. Di setiap jengkal dinding terdapat lukisan dari pelukis hebat Indonesia, tidak jarang karya murid SMA Bakti yang terpilih tampak ikut menghias. Mading-mading yang memuat kabar terkini terlihat di setiap ujung dinding. Tangga dan persimpangan tidak sulit ditemukan, membuat SMA Gemerlang terlihat aksesibel dengan lift darurat di tiap-tiap titik penting sekolah.
"Sherly mau ke-mana dulu?" Noor menatap cewek belasteran di sampingnya.
Sherly terdiam. Mata cewek itu menyapu sekeliling memperhatikan murid-murid yang diam-diam memotretnya. Sherly tahu, tetapi memilih diam. Apa di Indonesia menjadi selebriti semudah itu? Sherly menghela nafas. Hampir semua siswi yang bersitatap dengannya mengeluarkan aura permusuhan. Di mana salah cewek belasteran itu? Apa yang telah diperbuat siswi baru seperti Sherly sampai membuat cewek-cewek SMA Bakti memusuhinya?
"Kita keliling lantai satu aja dulu ya? Nanti Sherly bisa minta anter temen buat liat-liat lantai yang lain."
Sherly mengangguk.
__ADS_1
****