Ya, Lu Milik Gue.

Ya, Lu Milik Gue.
Bagian 13


__ADS_3

Sherly menghela nafas, melanjutkan meraih botol yang tinggal separu isinya.


Rio menggeleng heran. Dia meraih kentang spiral yang tergeletak di atas meja, melemparkannya ke-dalam mulut Gagak, menyentuh ujung kerongkongan.


Gagak melotot, tersedak karena lemparan tiba-tiba yang cukup mengagetkan. Gagak terbatuk, mengeluarkan apapun di dalam mulut.


Sherly yang sedang menenggak air minumnya, merasakan jijik teramat saat kentang berbentuk spiral yang patah menjadi beberapa bagian teronggok di atas meja. Tampak mengilat, basah, dan ... mungkin, bau.


Semua orang di meja itu sontak tertawa, kecuali Sherly dan Maikel.


"Emang b*ngsat lu ya pada!" Gagak menatap Etan tajam.


Cowok berambut ungu langsung menghentikan tawanya. "Apa? Bukan gue."


"Makannya punya tangan itu gunain yang bener." Gabriel menceletuk.


"Diambil Tuhan aja tangan lu." Rio menimpali, matanya menatap Sherly.


Evan menghentikan tawa, kembali memakan kentangnya.


"Jam istirahat kedua sudah habis! Jam istirahat kedua sudah habis! Pelajaran selanjutnya akan segera dimulai!"


Gagak mendengus, mendengar pengeras suara yang berada di langit-langit. "Berisik banget bapak lu." gerutunya asal, menatap cowok berambutmerah yang sibuk dengan ponsel.


Maikel melepas headsetnya, membalas tatapan Gagak malas. "Bapak gue lagi di Amrik."


Gagak mengangkat pundak acuh. Mulutnya bergerak-gerak mengeluarkan gumaman tak jelas.

__ADS_1


"Kenapa harus Pak Sugeng sih!?" Rio memperotes suara yang masih saja terdengar dari pengeras. Cowok itu mendengus sebal, merasa terganggu dengan logat medok salah satu guru geogravi SMA Bakti.


"Kalau Bu Dandang yang ada anak-anak pada goyang," celetuk Etan yang mengundang tawa Evan dan Maikel.


Gabriel menggeleng heran mendengar percakapan teman-temannya. Dia melemparkan botol sprit yang telah kosongg ke-tong sampah dekat kaki meja.


Gagak kembali menatap Sherly. Cowok itu mengatupkan mulut menahan kesal saat lagi-lagi Sherly mencuri pandang kearah cowok di sampingnya. Gagak tidak buta, dia juga tahu ada tatapan yang beda saat Sherly menatap Maikel. Dia membuang wajah, tak sengaja menangkap sebungkus permen karet.


Sherly yang ketangkap basah, membuang pandangan. Tetapi tatapannya tak sengaja malah bertubrukan dengan mata ... coklat? Ya, Maikel memiliki mata yang begitu mirip dengan seseorang.


Cowok berambut merah lebih dulu memutus kontak mata yang membuat Sherly memajukan bibir tanpa sadar. Reflek yang selalu saja keluar saat cewek itu kesal atau sedang merajuk.


Rio melotot memperhatikan Gagak yang membuka bungkus permen karet miliknya. Isinya yang berbentuk kotak kecil berwarna ping, masuk dengan sempurna ke dalam mulut Gagak. Lagi-lagi dia menyesali sesuatu, kenapa dia harus menulis peraturan seperti itu? Rio menunduk, membaca dalam hati tulisan yang sedikitt tertutup sampah kuaci.


"Makanan atau minuman yang berada di atas meja auto milik bersama.'"


"Suara bapaknya Maikel." Gagak menjawab, menatap Sherly yang menjulang di sampingnya, percis duplikat Dewi Afrodite.


"Biasa pemberitahuan masuk." Maikel membenarkan, masih sibuk menatap layar ponsel.


Sherly mengangguk. "KAlian tidak ada kelas?"


Semuanya kompak menggeleng kecuali Gabriel. Cowok kutu buku itu meraih tumpukan buku di dekat Rio. 'Lu apal jalan ke-kelas gak?"


Belum juga Sherly menjawab, Gagak sudah lebih dulu menyela.


"Biar gue yang anter." Cowok bertindik itu bangkit dan menggenggam pergelangan tangan Sherly.

__ADS_1


'Saya masih ingat jalan menuju kelas." Sherly menolak halus.


Gabriel mengangkat pundak. Cowok itu bangkit dengan tumpukan buku di dalam dekapan. "Gue duluan Sher."


"Makanan lu?"


Gabriel melirik sekilas Etan. "Ambil aja." Dia menjawab ketus, sedikit merasa kesal.


Rio yang masih sibuk mengunyah menatap punggung Gabriel yang menjauh. Dari tatapan dan tingkah laku cowok kutu buku itu, dia tahu Gabriel juga menyukai Sherly.


"Pak ketu semangat banget."


"Udahlah terima kenyataan aja."


Rio mengedarkan pandangan mendengar percakapan dua kembar. "Mana Sherly?" Rio bertanya, sedikit kaget. Rasanya baru sebentar dia tidak melihat Sherly, tetapi cewek itu sudah tidak terlihat keberadaannya.


"Balik ke-kelas dianter Gagak," jawab Etan lesu.


Rio tertawa sumbang memperhatikan wajah masam dua kembar. Perasaan Etan dan Evan mungkin tak jauh berbeda dengan perasaannya, patah hati. Rio akui Sherly telah berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Hayalan dan angan untuk membahagiakan Sherly dan kedua orang tuanya lebur seiring kenyataan yang semakin jelas. Rio tidak akan sanggup jika harus bersaing dengan teman-temannya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


Tetapi dia juga tidak bisa tinggal diam jika kelima orang bodoh itu menghancurkan Teksas. Perebutan cewek dan ego yang tinggi biasanya menjadi salah satu persoalan pelik, konflik kecil yang dapat menghancurkan pertemanan.


Meskipun Maikel belum menunjukan tanda-tanda seperti Gabriel, Rio harus sedia payung sebelum hujan. Cowok dengan pelester di jidat itu tidak ingin sampai kecolongan. Bisa saja Maikel yang diam, tidak menunjukan ketertarikan berlebihan, bergerak di belakang. Dan sialnya mana tahu Sherly menyukai type cowok seperti itu. Rio menghela nafas.


Rasanya Teksas sudah lama tidak diuji. Tidak ada permasalahan besar selain bocah sialan itu Dan entah mengapa Rio meyakini sesuatu.


Kejayaan seseorang pasti karena kesulitan dan kegagalan. Tetapi Rio juga meyakini bahwa Teksas tidak akan pernah sampai ketitik gagal! Appppa lagi kehancuran. Rasanya jika hal itu sampai terjadi Rio bisa gila.

__ADS_1


****


__ADS_2