Ya, Lu Milik Gue.

Ya, Lu Milik Gue.
Bagian 6


__ADS_3

Jam istirahat kedua sudah berbunyi membuat lorong-lorong, kantin hingga lapangan menjadi ramai.


"Di mana sih kelas anak barunya?" Rio terus mengoceh membuat Maikel yang berjalan di sisinya menyumpal kuping dengan headset.


Gagak yang berjalan paling depan melirik sekilas tulisan yang tertera di daun pintu.


XII IPA.


Pintu yang tertutup setengah memperlihatkan sesosok cewek berambut hitam yang tertunduk, membaca buku di atas meja. Posisi cewek itu yang berada di sudut membuat wajahnya tak begitu jelas terlihat.


Rio yang ingin melewati Gagak di tahan Etan. "Sabar Boss! Biar Pak ketu dulu."


Rio mendengus, tetapi menurut.


Maikel maju selangkah, bersisian dengan ketiga temannya, sedangkan Gagak melangkah semakin masuk.


"Permisi!"


Sherly menghentikan guliran mata. Cewek itu mendengak, menatap tubuh Gagak yang menjulang di depannya. "Ada apa?"


Suara Sherly yang masih kental dengan aksen barat terdengar imut di telinga Gagak. Dia mengulas senyum memperhatikan wajah polos Sherly.


"Lagi apa?"


Pertanyaan Gagak malah membuat Sherly mengerutkan alis, bingung. Sherly melirik lembar buku yang terbuka.


"Oh, lagi baca yaa?" Gagak tampak kikuk.


Keempat orang yang mencuri-curi dengar saling mendorong dan menyikut satu sama lain. Pintu yang hanya setengah terbuka, tak cukup untuk keempat tubuh.

__ADS_1


"Eh setan! Kecilin dong perut lu!" Rio memprotes. Posisi mereka yang miring membuat perut dan punggung saling menempel.


"Enak aja! Perut gue udah kecil! Badan lu aja ketebelan." Etan mengaduh saat Rio menyikut perutnya.


"Baca apa?" Gagak masih berusaha.


"Bastard Imortal."


"Oh imortal. Suka fantasi emang?"


Sherly mengangguk, kembali membaca buku.


"Di rumah gue banyak buku fantasi, mau?"


Hening!


Gagak menghela nafas. Dia masih belum menyerah, bahkan tidak akan menyerah. Sikap cewek di depannya sangat berbeda dengan cewek-cewek lain. Itu membuat Gagak tertantang menaklukannya.


Saudara kembar yang melihat itu, kompak tersenyum senang. Pintu kesempatan mereka semakin terbuka lebar. Meskipun untuk masalah tampang Etan dan Evan sudah pasti kalah, mereka punya penangkal ampuh. Sejauh ini tidak ada yang berhasil lumput dari terik keramat milik mereka, bakat yang murni diturunkan keluargat.


"Lu suka cowok yang kaya gimana?"


Sherly mendengus. Dari tadi dia sudah mencoba bersabar dan konsentrasi, tetapi novel yang dibacanya sedang berada di titik terseru! Sherly tidak bisa diganggu karena itu akan menghilangkan rasa saat membayangkan adegan di buku.


"Suka yang romantis, apa humoris?"


"Tidak dua-duanya." Sherly menjawab ketus.


Gagak tertawa sumbang, begitu tidak enak didengar Sherly. "Biasanya cewek milih cowok yang humoris."

__ADS_1


Sherly mencoba kembali konsentrasi membaca novel dari penulis kesukaannya. Tetapi, semakin diabaikan, semakin Gagak menjadi-jadi.


"Mau coklat?"


Lagi-lagi Sherly tidak menjawab. Tetapi Gagak, tetaplah Gagak.


"Kamu orang eropa asli?"


Masih tidak ada jawaban, hal itu membuat Gagak terdiam beberapa detik.


Cara biasa tidak mempan bagi Sherly. Kalau begitu Saatnya Gagak mengeluarkan jurus pamungkas terakhir. Dia bersiul meminta perhatian Sherly, tetapi tetap tidak ada respon. Tidak mau ambil pusing, Gagak menarik nafas, mulai melancarkan terik berikutnya.


"Bidadari tak bersayap datang padaku, dikirim Tuhan dalam wujud cantik kamu ... "


Maikel terkekeh melihat usaha Gagak. Jika sudah seperti itu, temannya benar-benar menginginkan Sherly. Gagak cowok yang super-duper keras kepala! Etan, evan, dan Rio tidak akan memiliki kesempatan jika Gagak sudah seperti itu.


"Diam-diam aku memandangi wajahnya, oh Tuhan kusayang sekali wanita ini ... "


"Salah gak sih tuh lirik?" Evan bertanya di tengah-tengah Gagak yang sedang bernyanyi.


Rio berpikir keras. "Kayanya Gagak salah ngurutin lirik."


Evan hanya mengangguk-anggukan kepala. Untuk Gagak apapun menjadi benar, meskipun suaranya membuat orang sakit perut.


Sherly bangkit dan menutup buku novelnya, meletakan benda yang jauh-jauh dibawa di dalam kolong meja kemudian berlalu melewati Gagak yang termangu.


Keempat orang yang tidak menyangka Gagak akan ditinggal, menatap miris, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak munafik juga jika secuil hati mereka bersorak senang.


"Permisi!"

__ADS_1


Keempat orang yang beralih fungsi menggantikan pintu, kompak menyingkir, memberi ruang untuk Sherly lewat. Mereka terpaku, merasakan sesak saat menghirup wangi parfum cewek itu.


Sherly menghela nafas saat berhasil keluar dari kelas. Dia menggeleng heran dengan orang-orang di Indonesia. Apa semua cowok seperti itu? Terlalu menggelikan dan ... sedikit aneh. Sherly melangkah menuju anak tangga, menitinya, membiarkan tatapan macam-macam orang menghujani.


__ADS_2