
Maikel tertawa-tawa, ikut merauk isi bungkusan. "Gabriel baik deeeh." Cowok berambut merah itu mengedip-ngedipkan mata ke-arah Gabriel yang bergidik.
"Si kutu kasur ini emang baik."
Gabriel melotot ke-arah Evan yang baru bersuara. "Dasar jambret makanan lu!"
"Masih mending jambret makanan, dari pada nanti aku jadi jambret hatimu!" Evan menimpali dengan suara genit persis bencong di perempatan lampu merah.
Maikel kembali tertawa dengan mulut yang penuh. "Entar besok gue bikinin kicrikan deh dari botol dikasih beras." Dia terus tertawa, bersahut-sahutan dengan tawa Evan.
Gabriel bungkam, memilih memutar tutup botol soda yang belum sempat diminum, menyecap isinya yang menyegarkan. Niat hati sekedar busa-basi, malah diseriusi. Cowok berambut pirang itu menatap miris bungkus yang belum lama berada di dalam genggaman, sedikit tidak ikhlas saat Evan merauk kentang spiral lagi dan lagi.
Sherly yang tersinggung dengan kata-kata cowok berkaca mata menelan susah-payah bakso yang sudah halus. Dia menunduk dan beralih menatap Evan ngeri. "Sorry, saya makan ya." Akhirnya perkataan semacam itu yang berhasil keluar dari mulut Sherly. Cewek itu takut jika nanti dia berkata macam perkataan Gabriel, bisa-bisa baksonya bernasib sama.
"Iya. Sans aja Sher." Evan dan Maikel menimpali.
Gabriel bergeming, memakan chikinya dalam diam.
"Gue mau dong!"
Sherly langsung menoleh. Menatap Gagak kaget. Dia pikir tampilan cowok itu yang berantakan, jauh dari kata disiplin, percis berandalan sekolah, memiliki uang. Setidaknya sekedar untuk membeli semangkuk bakso yang harganya tidak sampai harus menjual mobil. Ah! Ternyata dia telah tertipu tampang Gagak yang mirip anak orang kaya.
"I'll buy for you."
Tetapi Gagak menggeleng. "Yang itu aja." Gagak menunjuk mangkuk di depan Sherly menggunakan dagu.
"Ah, mau yang ini ya." Sherly tertawa canggung. Tidak mungkin, kan? Jika dia memberikan orang lain makanan bekas? Bisa-bisa kalau Ella atau Daniel tahu, Sherly akan dimarahi.
"Saya belikan yang baru saja, ya?"
__ADS_1
Gagak menggeleng kembali. Gabriel dan Evan saling melempar pandang dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.
Sedangkan Maikel yang sudah kembali sibuk dengan headset, tidak berniat mencuri dengar percakapan orang-orang di sekitar.
Dengan setengah hati Sherly mendorong mangkuk baksonya tepat di depan Gagak. "Silahkan makan!"
Cowok yang tidak kedip menatap Sherly, menaikan sebelah alis tebalnya. "Terus, lu?"
"Saya bisa pesan lagi."
"Suapin!"
Sherly yang ingin meraih botol, menghentikan gerakan tangan di udara. "Suapin?"
Gagak mengangguk sekali.
Evan dan Gabriel berdeham keras.
"Feed." Gagak menterjemahkannya kedalam bahasa inggris.
Sherly membuka mulut dengan mata yang melotot. Dia kaget, sangat kaget. Tetapi tidak lama ekspresi itu bertahan, sebelum akhirnya Sherly tertawa sumbang. "Sepertinya Evan bisa membantu kamu."
Evan berseru semangat. "Tenang aja Sher. Gue dengan senang hati nyuapin Gagak."
Sebelum Evan berhasil meraih mangkuk, Gagak lebih dulu memindahkan mangkuk itu, meletakannya ke-hadapan sang pemilik. "Sekarang suapin gue!" Gagak membuka mulut lebar-lebar.
"Hallo Mas Broooo!"
Seru Rio dan Etan yang baru tiba.
__ADS_1
Cowok dengan pelester di jidat, menarik kursi di samping Sherly, tempat yang biasanya menjadi kesukaan Gabriel.
Kursi itu berada tepat di sudut ruangan, di belakang tiang besar yang berfungsi sebagai penyanggah. Tempat yang berada tepat di bawah pendingin ruangan, tempat yang tidak terkena silau matahari, tempat yang nyaman untuk membaca buku.
Sedangkan Etan yang tidak kebagian kursi, mengedarkan pandangan. Dia mendekati meja yang tidak jauh, mengusir salah satu siswa.
"Heh! Awas, minggir! Cari tempat lain sana!"
Siswa kelas sepuluh yang sedang asyik mengobrol dengan kedua temannya menghentikan pembicaraan dan terpaksa bangkit berdiri.
"Maaf Kak."
Sherly yang memperhatikan itu, terbengong-bengong. Apa lagi ketika Sherly mendengar suara dan perkataan cowok berambut ungu yang semena-mena. Memangnya cowok itu siapa? Seingatnya Prince Herry saja tidak begitu.
"Bagus." Etan menepuk-nepuk pundak cowok yang tertunduk, tidak berani membalas tatapannya. "Pasti lu salah satu juara di kelas." Etan menebak.
Kedua cowok yang mematung di kursi kompak merapalkan doa. Mereka tidak tahu apa yang sebelumnya diperbuat Tio, sampai bisa berurusan dengan kakak kelas yang sialnya adalah salah satu anak Teksas.
Etan melirik tulisan yang tertera di dada kiri cowok itu. "Semoga hidup lu menyenangkan, Septio Anugraha."
Cowok yang masih setia menunduk, hanya mampu mengangguk saat namanya diucapkan dengan lengkap.
Para murid yang sudah biasa melihat kejadian serupa tampak acuh. Etan mendengus, membawa serta kursi yang sudah kosong, meletakannya di tengah-tengah Rio dan Gabriel.
"Ayo!" Gagak menyadarkan Sherly yang melamun.
Sherly mengerjap-ngerjapkan mata, beralih menatap Gagak kembali.
Evan menimpuk jidat Rio dengan kentang spiral. Mengedipkan sebelah mata, melirik Gagak yang terus membuka mulut.
__ADS_1
****