Ya, Lu Milik Gue.

Ya, Lu Milik Gue.
Bagian 3


__ADS_3

"Gila! Tuh cewek cantik banget."


"Tatapan sama bodynya itu loh! Bikin ngiler."


"Lu berdua jalannya cepetan napa! Pelajaran Bu Dandang nih. Abis kita nyampe telat masuk."


Kedua siswa yang dimarahi temannya hanya terkekeh.


"Lu kaya gak suka sama cewek cantik aja," celetuk siswa yang berjalan di sebelah kanan.


Cowok dengan tindik di hidung bersedekap dada, memperhatikan ketiga orang yang melewatinya. Alis tebal yang menjadi ciri khas menukik dalam. "Kata lu, siapa lagi yang jadi trending topik?"


Maikel mengangkat pundak. "Paling mantan lu, Ga."


Dia adalah Gagak. Cowok bertindik yang memiliki alis tebal dan hidung mancung. Bagi Gagak, Catherine adalah cewek yang sangat tidak penting. Pembahasan yang menyangkut Catherine dan teman-temannya selalu berhasil membuat Gagak muak.


"Cabut yuk ke-kantin," Maikel mengajak Gagak yang langsung diangguki cowok itu.


Sesampainya mereka di kantin semua pasang mata kompak melirik dengan penuh minat.


Tetapi Maikel dan Gagak sudah terbiasa dengan atensi berlebihan itu. Mereka tampak acuh, melangkah semakin dalam menghampiri meja di sudut.


"Pada ke-mana yang lain?" Gagak bertanya karena tidak seperti biasa meja yang menjadi tongkrongan terlihat lengang. Meja yang berada di paling belakang dan tersudut, adalah meja yang diklaim milik anak Teksas. Tak ada yang berani menempati meja besar itu selain Gagak dan kelima teman-temannya.


Cowok dengan pelester di jidat, mengangkat pundak.


"Lu pada suka ngerasa aneh gak sih?" Maikel melirik ngeri kumpulan cowok yang berada di meja terdepan, dekat dari pintu. "Mereka kalau gue perhatiin nih, yaaa. Kita di mata mereka kaya makanan tahu." Cowok berdarah campuran Amerika Indonesia itu bergidik saat mengatakannya.

__ADS_1


Gagak terkekeh, merasa lucu dengan perkataan Maikel. "Mungkin muka lu bikin mereka laper." Gagak menarik kursi kosong yang cowok itu klaim menjadi miliknya.


Maikel mendengus dengan mata melotot ke-arah cowok yang melemparinya kulit kacang. Decitan keras terdengar saat Maikel menarik kursi di samping Gagak. "Buanglah sampah pada tempatnya," gerutu Maikel.


"Rio mana ngerti," sahut Gagak yang mulai sibuk dengan ponselnya.


Ya, cowok dengan pelester di jidat adalah Rio. Siswa paling berandalan di SMA Bakti. Cowok berjiwa sosial dan anti penghianatan! Bagi Rio Teksas adalah hidupnya, belahan jiwanya, dan separuh jati dirinya. Rio memiliki prinsip hidup yang dipegang teguh dan selalu digadang-gadang akan menjadi kunci sukses teksas jika semua anggota berprinsip seperti cowok itu.


hidup untuk berantem, damai untuk mati.


Jika simbol teksas seperti prinsip Rio, sama saja seperti memicu perang ke-tiga. Untungnya, ketua teksas yang paling rasional tidak menyetujui prinsip yang seperti moto pereman pasar.


Rio tersenyum geli. Tangan kiri cowok itu yang di gips sibuk membuka kacang kulit, sedangkan di sela jari telunjuk dan tengah tangan kanannya terdapat sebatang rokok yang menyala. "Lu udah tau tentang siswi baru?"


Gagak bungkam, tampak tidak tertarik. Tangan kanan cowok itu bergerak meraih bungkusan di atas meja lalu merauk isinya.


"Weh! Udah pada kumpul aja."


Rio menghembuskan asap rokok tepat di depan wajah. Mata tajamnya menyipit, menatap cowok berambut pirang yang baru datang dengan buku di dalam dekapan. "Abis dari mana lu? Tumben telat."


Cowok berambut pirang meletakan tumpukan buku yang dia bawa ke-atas meja. "Biasa."


"Ah! Kaya gak tahu Gabriel aja lu." Maikel menceletuk dengan suara yang tidak terlalu jelas karena terhalang permen.


Gabriel mengabaikan ocehan kedua temannya. Cowok itu melirik sekilas Gagak yang duduk di samping. Dia melambaikan tangan ke-arah pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan.


Wanita paruhbaya yang memakai seragam petugas kantin, berjalan menghampiri gabriel dengan nampan di tangan. "Eh! Mas Gabriel mau pesan apa?"

__ADS_1


"Bakso sama lemon tea satu, Bu Jem."


Wanita parubaya yang biasa dipanggil Bu Jem oleh anak-anak Bakti mengangguk. Tangan Jem yang besar meraih secarik kertas dan pulpen dari kantong celemek yang dipakai. "Ada lagi?" tanya Jem masih sibuk menyatat.


Gagak mengunyah kacang terakhir. Tangan cowok itu meraih ponsel di atas meja yang sempat diabaikan. "Saya salad buah satu."


"Ada lagi?"


"Saya juice stobery satu."


Jem mencatat pesanan dengan kilat. "Mas Rio gak mesen lagi?"


Rio menekan ujung rokok yang menyala pada dinding asbak lalu membuangnya. "Boleh, kuacinya empat sama air mineral satu."


Jem mengangguk dan mengulangi daftar pesanan.


Rio mengangguk. "Iya, itu aja."


Jem memasukan kertas dan pulpennya lalu pamit menyiapkan pesanan.


tidak berselang lama datang kedua siswa berwajah mirip, mendekat ke-arah meja di sudut.


Rio melirik malas wajah saudara kembar yang tampak sumringah. "Abis nyari info tentang anak baru?" tebak Rio.


Saudara kembar itu terkekeh lalu menarik kursi di samping Maikel dan Rio. "Ajib gila tuh cewek."


****

__ADS_1


__ADS_2