
"Siapa Gagak?"
Gabriel terkekeh, menatap jauh ke-depan. Di sana, pintu kaca yang terbuka otomatis menampilkan sosok cowok dengan mata tajam. "Bentar lagi orangnya dateng."
Sherly mengangguk-anggukan kepala, tidak menyadari semua pasang mata sedang memperhatikannya.
Gagak langsung mengarahkan pandangan tepat ke-meja di sudut. Tatapan cowok dengan tindik di hidung beradu dengan tatapan Gabriel, mengisyaratkan sesuatu yang tidak dimengerti orang lain. Gagak menyungingkan senyum sinis, beralih menatap punggung cewek yang tertutup rambut.
Gabriel mengacungkan jari tengah, menyambut ke-datangan Gagak.
Maikel yang baru memasuki kantin menyamai langkah sang ketua yang terburu-buru.
"Hallo Bro!" Gabriel bangkit, menepuk lengan Gagak saat cowok bertindik itu berdiri tepat di samping kursi Sherly. Gabriel sudah menduga kejadian semacam ini. Mustahil rasanya jika anak-anak Bakti tidak akan mempotret kebersamaannya dengan Sherly, si cewek bule yang sedang menjadi buah bibir.
Gagak melengos, menempati kursi Maikel.
Cowok belasteran yang kursinya ditempati mendengus. Memilih mengalah, bergeser sedikit menempati kursi Etan.
__ADS_1
"Ini namanya Gagak, Sher." Gabriel memperkenalkan.
Sherly mengangguk, melirik cowok bernama Gagak tanpa minat. Sherly tidak menyangka, cowok yang datang ke-kelas, cowok yang melemparkan gombalan, cowok yang sangat tidak berbobot menurut Sherly, adalah cowok yang diperbincangkan cewek-cewek sombong di tangga, dan sialnya Sherly meminum air cowok itu. Dia akui wajah cowok yang memiliki nama Gagak memang tidak jelek, sedikit tampan, tetapi tetap saja bukan selera Sherly.
"Kalau yang bule ini namanya Maikel."
Sherly yang mulai kembali asyik dengan mangkuk bakso, sontak mengangkat wajah. "Maikel?"
Gabriel tertawa kemudian mengangguk. "Bule gila."
Maikel kembali mendengus. "Sejak kapan lu jadi sok ramah gitu?"
Tetapi Gabriel mengabaikan ocehan tidak bersahabat kedua temannya. Si cowok yang terkenal kutu buku, bertepuk tangan, menyambut kehadiran satu temannya lagi. "Nah. Kalau yang ini namanya Evan."
Cowok yang sedang diperkenalkan, mengangkat alis. "Kaya tour guide aja lu!" Evan menduduki kursinya sendiri. "Kita lagi gak jalan-jalan Bossku."
Gabriel mengangkat pundak, mengabaikan celoteh Evan, dan kembali duduk. "Kita ke-datengan teman jauh, langsung diterbangin dari Eropa .. " Gabriel mengedipkan sebelah mata ke-arah Gagak yang tampak tidak peduli. "Gue sebagai siswa Bakti yang baik, harus menyambut dengan ramah doooong."
__ADS_1
"Banyak ceng-cong lu!" Evan menyeletuk, tampak kesal dengan Gabriel yang berubah alay.
Maikel menghela nafas, begitu pelan tetapi syarat ke-gelisahan. Sejak Gabriel menyebutkan namanya, cewek bule itu menatap tidak kedip Maikel. Dia tidak mengerti dengan tatapan Sherly, tetapi itu cukup mengganggu.
Gagak yang sendari tadi memperhatikan cewek di sampingnya, terbengong-bengong memandangi wajah cantik itu. "Lu turun dari mana sih?"
"Makan yaa."
Suara Gagak yang beradu dengan suara Gabriel terdengar tidak jelas di telinga Sherly. Tetapi cewek itu tidak cukup baik untuk sekedar berbusa-basi atau bertanya ramah, seperti:
Maaf, tadi anda bilang apa ya?" Atau .. apakah bisa diulang kembali Mr. Gagak? Ah! Itu terlalu formal. Mungkin, tadi kamu ngomong apa ya?
Sherly mengalihkan pandangan dari wajah Maikel, si cowok yang sedikit mirip dengan seseorang, cowok yang sayangnya sedang dirindukan Sherly.
Gagak tersenyum saat Sherly membalas tatapannya.
Evan merampas bungkus besar chiki yang di pegang Gabriel lalu meletakannya di tengah-tengah meja. "Nih! Gue kasih tahu. Kalau lu yang megang, namanya bukan nawarin. Nah! Kalau ditaro di sini, baru namanya nawarin." Evan merauk isi dari bungkus itu, memakan lahap kentang kerispi yang ditaburi bumbu balado.
__ADS_1
***