Ya, Lu Milik Gue.

Ya, Lu Milik Gue.
Bagian 1


__ADS_3

"Oma, hari ini Sherly akan pergi ke Indonesia. Nanti jika hari libur Sherly akan menyempatkan waktu menjenguk Oma." Cewek berambut sepinggang, menggenggam tangan wanita tua yang terbaring di berangkar rumah sakit. "Oma lekas sembuh."


Katty yang merasa diperhatikan tersenyum bahagia menatap Sherli, sang cucu. Wajah cantik itu semakin terlihat mengerut dan pucat. Meski pun terlihat rentan Katty tidak ingin melihat Sherly khawatir. Tangan kanannya yang tidak tertusuk jarum infus mengelus kepala Sherly. "Iya Sherly. Oma juga sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, apa lagi mendengar cucu Oma yang cantik akan sering datang menjenguk."


Sherly memeluk tubuh tua Katty. Meski pun oma-nya sudah tua, wanita itu adalah sosok hebat yang tidak pernah tergantikan.


"Maafkan Oma ya."


Sherly meletakan kepala-nya di dada Katty. "Minta maaf untuk apa? Oma tidak punya salah. Sherly yang banyak salah sama Oma, sering merepotkan Oma ... "


Katty mengelus puncak kepala Sherly. "Siapa yang berani mengatakan hal bodoh macam itu pada cucu kesayangan Oma?"


Sherly bungkam. Cewek itu semakin dalam menyembunyikan wajah-nya di dada sang oma.


"Sherly itu cahaya untuk Oma." Katty melanjutkan. "Maaf Oma belum bisa merawat Sherly sampai lulus sekolah."


Sherly mendengak, menatap wajah pucat Katty. "Mengapa Oma menangis? Kata Oma kita tidak boleh cengeng." Tangan Sherly bergerak menghapus air mata yang membasahi pipi sang oma.


Katty terkekeh. "Cucu Oma sekarang sudah besar ya?" Katty mencoba bangkit duduk yang langsung dibantu Sherly.


"Oma tiduran saja."


"Oma lelah jika harus tiduran terus."


Sherly kembali bungkam. Cewek itu memilih naik ke-atas berangkar, duduk di samping wanita tua yang selalu menatap hangat. Sherly memijit kaki Katty dengan hati-hati, seolah itu adalah benda yang mudah pecah jika terlalu kasar. "Oma harus janji sama Sherly! Oma tidak akan melupakan jam minum obat!."


Katty mengulum senyum merasa lucu. Rasanya kalimat itu terdengar tidak asing. Dulu, sudah lama sekali saat Daniel remaja, anak menyebalkan itu selalu saja berkata seperti itu pada Frans.


"Oma harus cepat sehat agar kita bisa mengunjungi festifal topeng kembali."


Rasa sesak menghimpit dada. Katty tahu cucu-nya sedang bersedih. Bagaimanapun festifal topeng adalah perayaan di London yang begitu Sherly sukai.


"Sherly janji! Kalau Oma sudah sembuh dan sudah boleh pulang, Sherly akan kuliah di London. Tinggal bersama Oma lagi!"Sherly mengatakannya dengan semangat.


Katty mencubit pipi Sherly. "Memangnya Sherly tidak mau kuliah di Jakarta? Tinggal bersama dedy dan momy disana?"


Sherly menggeleng tegas.


"Sherly mau menjaga Oma, seperti Oma menjaga Sherly waktu kecil."


Wanita tua itu terkekeh. "Wah! Cucu Oma yang satu ini baik sekali. Terima kasih ya sayangg." Katty terharu.

__ADS_1


Sherly mengangguk. Kini cewek itu beralih memijat tangan kanan sang oma.


"Tapi kalau nanti cucu Oma yang cantik ini jatuh cinta dengan orang sana bagaimana?"


Sherly mengerucutkan bibir.


Kekehan renyah keluar dari mulut Katty melihat ekspresi sang cucu. "Kenapa? Wajar 'kan kalau cucu Oma suka dengan lawan jenis?"


"Oma." Sherly merajuk, semakin menggemaskan.


Katty mengulum senyum. "Apa Sherly?"


Cewek itu mendengak, menatap wajah pucat sang oma. "Apa yang Oma katakan?"?"


"Sherly kan, sudah besar, wajar bila nanti Sherly jatuh cinta ... "


Sherly memotong ucapan Katty. "Oma tenang saja ya!" Sherly mengedip-ngedipkan mata, berucap antusias. "Sherly sudah pernah jatuh cinta kok."


"Dengan siapa?" Katty mengulum senyum. "Dengan Maik? atau ... "


Sherly merona. Wajah anak sulung Om Sam terlintas di ingatan Sherly. Mata coklat cowok itu yang selalu menyorot teduh, garis rahang yang tegas, dan ... suara bas yang selalu menjadi candu Sherly.


"Hayooo! Mikirin Axel yaa?"Katty mengedipkan sebelah mata, menggoda.


"Good morning!"


Suara hangat wanita terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka.


Katty dan Sherly kompak menoleh.


"Momy!" Sherly turun dari berangkar dan berhambur ke-dalam pelukan Ella yang berdiri di ambang pintu. "Bagaimana kabar Momy?"


Ella mencium kening putri yang dirindukannya. "Momy baik sayang."


"Yang dipeluk Momy aja? Dedy tidak?"


Sherly tertawa menangkap suara cemburu seseorang. Cewek itu menoleh ke-samping menatap wajah tampan Daniel. "Dady!" seru Sherly, gantian memeluk sang ayah.


"Apa kabar anak Dady? Makin cantik saja." Daniel mencubit hidung bangir putrinya.


"Baik Dad."

__ADS_1


"Ella!"


Suara lemah wanita mengintruksi keluarga kecil yang sedang melepas rindu.


"Mom!" Daniel berjalan mendekati sang ibu yang terbaring lalu mencium punggung tangan wanita tua yang telah melahirkannya.


Ella menyusul sang suami dengan Sherly di sisinya dan memeluk tubuh tua sang mertua.


Sherly yang mengerti, menyingkir memberi ruang untuk kedua orang tuanya. Cewek itu duduk di sofa samping berangkar Katty.


***


Sherly menitikan air mata mengingat kejadian tadi pagi bersama sang oma. Baru tadi pagi Sherly bercengkrama dengan Katty, kini cewek itu sudah berada di Indonesia.


Malam semakin larut, lampu-lampu berwarna merah menyebar, menghias aspal hitam.


Sherly menghela nafas. Rasanya cewek itu sudah lama terjebak macet tetapi Mobil sang ayah masih saja belum bisa bergerak siknifikan. Satu hal yang selalu Sherly ingat dari Indonesia, jalanan Ibu Kota yang selalu ramai setiap waktunya.


"Sherly!"


Cewek itu mengalihkan pandangan dari kaca mobil menatap Ella yang sibuk dengan ponsel. "Ada apa, Mom?"


"Sudah mengantuk?"


Ella menoleh ke-belakang, menatap putrinya.


Sherly menggeleng. "Belum Mom."


Ella mengalihkan pandanganmenatap jalanan yang mulai sedikit lengang dari kaca depan.


"Dady dan Momy sudah mengurus surat perpindahan kamu ke-sekolah yang baru. Seragam dan buku sudah ditata bibi."


Sherly mengangguk kecil, masih fokus menatap mobil yang berada tepat di samping mobil orang tuanya.


"Besok Momy dan Dady mau ke Bali sebentar, ada proyek yang bermasalah di sana. Tetapi, kami usahakan malam sudah sampai rumah."


Sherly mengangguk kembali, tidak banyak bertanya. Tetapi mata adalah jendela hati, semua orang akan tahu ketika melihat mata Sherly yang berkaca-kaca.


"Maaf ya Nak. Momy sama Dady belum bisa nemenin kamu."


Sherly terdiam beberapa detik sebelum tersenyum. "Bukan masalah. Sherly tahu Momy dan Dady kerja juga untuk Sherly."

__ADS_1


***


__ADS_2