Ya, Lu Milik Gue.

Ya, Lu Milik Gue.
Bagian 2


__ADS_3

Sherly baru saja berganti pakaian saat jam beker di atas nakas menunjukan:


05.45


Cewek berseragam SMA dengan rok seatas lutut berjalan menghampiri meja rias di sebrang. Dia menuangkan isi dari botol yang diambil lalu meratakannya pada permukaan wajah. Tidak sampai di situ tangannya kembali meraih benda yang lebih kecil, memutar pangkalnya, dan mengoleskan ujungnya ke-bibir. Terasa seperti jell dan sejuk saat menyentuh kulit.


Mata tajam Sherly memperhatikan botol kaca yang berada di antara botol lainnya. Bagaimana kabar Katty? Botol itu pemberian dari sang oma, diracik langsung oleh orang hebat di Landen. Cewek itu meraihnya, menekan bagian atas, dan mengarahkan pada pakaian putih abu-abu yang dikenakan. Setelah merasa cukup, dia meraih tas di atas kasur sambil menggunakan jam tangan.


Sherly menatap pantulan tubuhnya dari kaca meja rias, memastikan semua berjalan baik, dan melangkah menghampiri pintu lalu menariknya.


"Eh, Non Sherly." Wanita paruhbaya yang bekerja sebagai pembantu di rumah Ella dan Daniel bergerak salah tingkah di bawah tatapan Sherly.


Tetapi cewek belasteran itu menatap tak berminat dan menarik kembali pintu di belakangnya. "Ada apa?"


"Emmm, anu. Non, tadi dipanggil Nyonya buat sarapan." Suara pembantu itu terdengar gugup.


Sherly melengos begitu saja. Kaki cewek itu berjalan menghampiri anak tangga yang tepat di depan kamar kemudian bergegas turun.


"Morning Mom, Dad." Sherly menyapa Ella dan Daniel, bergantian mendaratkan kecupan ringan di pipi keduanya.


"Morning juga sayang." Ella membalas menyapa.


Daniel memperhatikan Sherly yang sedang menarik kursi. "Seragamnya cantik, sangat cocok sekali."


Cewek yang sedang diperhatikan tampak acuh, duduk tepat di sebrang Ella. Tangannya meraih gelas kaca berisi susu coklat lalu menyecap isinya. Merasa tenggorokan sudah tak kering, dia meletakan gelas itu kembali.

__ADS_1


Wanita cantik yang selalu mengulas senyum meletakan sepotong sandwich di atas piring Sherly. "Cantiklah Dad. Kan anak kitta juga cantik."


Sherly terdiam, tak menanggapi pujian yang terlontar untuk cewek itu. Dia sibuk memotong daging untuk di masukan kedalam mulut. "Momy dan Dady masuk kerja jam berapa?" Sherly masih sibuk mengunyah, matanya menatap kedua orang di depannya bergantian.


"Jam 10. Kami menunda rappat karena ingin menemanimu."


Cewek itu mengangguk mengerti, tidak bertanya lagi.


***


Sherly menatap plang di pinggir jalan yang bertuliskan SMA Bakti. Mata Sherly yang tajam menyapu sekeliling saat mobil Daniel mulai memasuki kawasan sekolah.


Banyak murid yang diantar menggunakan mobil membuat jalanan di luar sekolah macet mendadak. Tidak sedikit juga murid yang memilih mengendarai sepeda motor, bergerak lincah menyelip mobil-mobil yang kesulitan bergerak.


Parkiran di SMA Bakti begitu luas, seluas lapangan bola. Di pinggir-pinggir jalan ditumbuhi tanaman hijau yang menyejukan mata.


Sherly yang masih menatap keadaan luar dari jendela, mengangguk, dan mendorong pintu di sebelahnya. Saat keluar Sherly langsung disambut tangan wanita cantik.


Ella mengulas senyum. "Sini Nak!" Ella menggandeng tangan Sherly, mengajak cewek itu menepi di bawah pohon rindang sambil menunggu Daniel. "Dulu sekolah ini sekolah Momy menimba ilmu. Dari Momy masih sekolah di sini, SMA Bakti sudah bertaraf internasional. Hampir semua murid yang lulus dari SMA Bakti menjadi orang sukses di dalam bidangnya masing-masing. Semua orang tua pasti menginginkan anak mereka bisa bersekolah di sini."


Sherly mengangguk. Cewek itu mengedarkan pandangan, memperhatikan mobil-mobil mewah yang berbaris. 'Momy kenal sebagian guru?"


Ella mengangguk sambil mengelus kepala Sherly yang tertutup rambut.


Setelah mengunci mobil, Daniel menatap istri dan anaknya yang sudah menunggu dari kejauhan.

__ADS_1


Ella dan Sherly tersenyum menyambut Daniel yang berlari kecil menghampiri mereka.


"Maaf Dedy lama."


Ella masih mempertahankan senyumnya. "Tidak kok mas. Sini biar aku yang bawa berkasnya."


Pria tampan yang menggunakan jas menggeleng. "Sudah biar aku saja." Daniel meraih tangan Ella yang menadah untuk digandengnya.


Sherly yang memperhatikan interaksi kedua orang tuanya sontak membuang wajah. Pipi cewek remaja itu memerah merasakan panas yang menjalar memenuhi wajah. Dia tersipu. Memang bukan Sherly yang diperlakukan manis. Tetapi mengingat usia pernikahan Ella dan Daniel yang hampir menginjak 18 tahun masih saja mengumbar keromantisan membuat cewek itu sedikit geli sekaligus senang.


Keluarrga kecil itu berjalan menuju ruang kepala sekolah.


Jam masuk yang belum berbunyi membuat lorong yang dilewati tampak ramai dengan gelak tawa. Para murid yang sedang berkumpul dengan kelompoknya masing-masing mengisi tiap-tiap kursi panjang yang tersedia di sepanjang lorong. Hari ini semua murid kompak membahas Pak Sugeng yang berhasil dikelabuhi anak-anak Teksas. Tingkah lugu dan ceplas-ceplos pria paruhbaya yang terkenal karena belangkonnya, selalu menjadi topik hangat yang asyik diperbincangkan warga SMA Bakti.


Dengan sekejap mata perhatian semua orang teralihkan. Sherly yang menjadi pusat perhatian, tampak tidak nyaman.


Di London semua orang terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing. Tidak ada waktu untuk mencari tahu, apa lagi menggosipkan sesuatu yang tidak menguntungkan. Sepertinya, hampir semua teman-teman Sherly memiliki sikap individualis, terkecuali Emma. Cewek asli Belanda itu selalu saja bersikap seperti saudara kepada semua orang (ingin tahu).


"Orang-orang Indo memang begitu, sayang." Ella berbisik, seolah dapat mengerti kecemasan Sherly. "Tetapi Momy yakin tidak lama lagi kamu pasti memiliki banyak fans."


Sherly menoleh, menatap wajah jenaka Ella dari samping. "Semoga mereka tidak kepo," sherly membalas, ikut berbisik. Menghadapi makhluk ciptaan Tuhan seperti Emma saja sudah membuat kepala cewek itu pusing. Apa lagi jika harus menghadapi ribuan orang yang sikapnya seperti Emma?


Daniel terkekeh. "Sepertinya rumah tidak akan sesepi biasanya."


Ella tertawa menyambut gurawan sang suami, sedangkan Sherly memajukan bibir.

__ADS_1


****


__ADS_2