Ya, Lu Milik Gue.

Ya, Lu Milik Gue.
Bagian 7


__ADS_3

Sherly menoleh ke-kanan dan kiri. Cewek itu mencari apapun yang dapat menunjukan letak kantin. Tetapi para siswi yang dilewati Serly, seperti menjaga jarak. Mereka seperti pura-pura tidak melihat kehadiran Sherly yang datang menghampiri.


"Permisi!" Sherly menyapa salah satu cewek yang bersandar di sisi tangga, bersama ketiga temannya. "Boleh bertanya?"


Tidak ada jawaban, keempat siswi itu masih sibuk membahas sesuatu yang tidak dimengerti Sherly.


"Iya. Gue lihat tuh pas Gagak ngibulin Bu Gendang."


"Apa lagi si Rio. Bisa-bisanya dia sempet ngeledekin Pak Heru."


Keempat siswi itu tertawa, membuat Sherly yang mendengarnya menekuk wajah.


"Ngapain sih masih di sini!"


Sherly menaikan satu alis. Cewek berambut sepundak dengan mata belo sedang menatap garang ke-arahnya. Bando kelinci cewek itu bergerak kecil tertiup angin.


"Udah biarin aja Ul," sahut salah satu temannya.


Maulida, cewek yang biasa dipanggil Maul, adalah mantan ketua OSIS sekaligus ketua padus. Dari awal terciumnya kabar kedatangan Sherly, Maul sudah tidak menyukainya! Apa lagi saat dia tidak sengaja bertemu Sherly yang sedang bersama Noor. Wajah dan tubuh Sherly membuat Maul iri!


"Saya mau bertanya." Sherly menarik nafas, menebalkan kesabaran.


"Nanya apaan sih?" Maul masih bersuara ketus, tidak sama sekali berniat bersikap melunak.


"Kantin di mana?"

__ADS_1


"Cari aja sendiri sih!"


Maul melirik Amey yang baru menyahut.


Cewek berponi yang memiliki nama Amey, terdiam mengerti dengan tatapan temannya. Amey juga tidak menyukai wajah Sherly yang menurutnya sok polos, tetapi polos-polos tai kucing.


"Lurus aja! Ada tangga nanti turun!"


Sherly mengangguk mengerti dan mengikuti arahan cewek berbando kelinci.


"Ngapain dibantu sih Ul." Cewek yang dikuncir tinggi, merasa keberatan, menatap tidak suka Maul.


"Kasihan, Rine."


Catherine bungkam, tidak ingin membesarkan masalah dengan kedua temannya.


***


Sherly mengedarkan pandangan. Rambut cewek itu yang panjang, bergoyang tertiup angin pendingin ruangan yang berada tepat di atas kepala. Meja-meja dan kursi terisi penuh, beberapa murid terlihat membawa pesanannya keluar. Sherly tidak membawa makanan, dia lapar tetapi tidak ada tempat untuk duduk.


"Eh Neng! Mau makan?"


Sherly memperhatikan wanita paruhbaya yang berdiri tepat di depannya. Ya, wanita itu adalah jem.


"Ada stick?"

__ADS_1


Jem menggeleng. "Makanan kaya begitu mah gak ada Neng."


Gabriel yang sedang berdiri mengantri, sontak menoleh saat mendengar suara cewek beraksen barat. Gabriel melotot, dia melihat Sherly! Cewek bule yang sedang menjadi trending topik. Gabriel berpikir, Gagak berhasil membawa Sherly makan siang.


"Mau pesen apa Mas Gabriel!" Pelayan yang berdiri di balik meja, menyapa hangat.


Cowok berambut pirang itu menoleh, mengalihkan pandangan. Dua siswi yang tadi berada di depannya sudah tidak terlihat, menyisakan Gabriel. "Ada sprit?"


"Ada."


"Yang kaya biasa satu."


Sherly yang berada di tengah-tengah pintu, terdiam, berpikir keras mengingat nama makanan yang disukainya dari Indonesia. "Ada kuah, bentuknya bulat, pakai saus, dan kecap." Sherly memberikan Clue makanan kesukaannya.


Senyuman Jem berubah lebar. "Oh, bakso."


Sherly mengangguk semangat. "Ya, itu!"


"Ok deh, duduk dulu Neng!"


Sherly meninggalkan Jem di belakang. Cewek itu melewati barisan meja-meja, melangkah semakin dalam, mencari tempat kosong.


"Itu bulenya?"


****

__ADS_1


__ADS_2