
"Sialan!" Gagak mengumpat langsung bangkit dari duduknya dan bergegas menuju satu tempat.
Evan memukul pundak Maikel. "Ada apan sih?"
"Udah ikut aja!" Maikel berlalu mengikuti ketiga temannya yang lebih dulu keluar.
Evan yang tidak mengerti, akhirnya memilih diam, menerka-nerka dalam hati sambil berjalan keluar.
Semua murid Bakti yang tidak sengaja berpapasan dengan anak-anak Teksas kompak menyingkir memberi jalan.
Amey yang berada di dekat tangga mendengar kerusak-kerusuk langkah kaki, langsung mendengak sekedar memastikan siapakah orang yang terburu-buru meniti tangga. Tetapi belum Amey bersuara, kelima anak Teksas sudah berada begitu dekat.
Maul, Gres, dan Catherine kompak menoleh memperhatikan kelima cowok Famous yang memiliki repotasi buruk.
"Ga!" Catherine berseru saat Gagak berjalan begitu saja.
"Pagi para bidadari!" Etan menyapa keempatĀ cewek dengan wajah masam.
Maikel tertawa geli, menepuk pundak Etan dari belakang menyemangati cowok yang biasa dipanggil jamet Teksas lalu kembali berjalan mengikuti Gagak.
__ADS_1
Maul melirik tanpa minat cowok yang sedang melebarkan senyum. Dia memperhatikan arah yang dituju ketua Teksas, mencoba menganalisa, dan tak butuh waktu lama cewek berbando kelinci itu mengangguk mengerti. "Gagak mau ke-kantin?"
Pertanyaan Maul yang lebih tepatnya seperti pernyataan, menyadarkan Catherine. Cewek kuncir tinggi itu mulai mengerti dengan kondisi yang terjadi. Dia meremas kedua tangan, sebagai bentuk reflek dari rasa marah yang menguncak.
Rio juga menghentikan langkah, berdiri tepat di samping Etan. "Selamat pagi para putri!" Rio menyapa sambil membungkuk, seolah dia adalah kesatria di buku dongeng yang sering dibaca Marsya.
Evan yang baru menginjakan kaki di anak tangga terakhir melirik sekilas kedua cowok yang sedang melancarkan usaha. Cowok dengan kaca mata kotak itu masih tidak habis pikir dengan Etan, sang kakak yang lahir lebih dulu lima menit. Etan tampak seperti cowok yang baru turun dari goa! Etan memiliki sifat yang mirip Rio. Andai saja wajah keduanya tidak mirip, mungkin semua orang akan mengira kembaran Etan adalah Rio. Evan merasakan tubuhnya panas, seperti sedang dikuliti. Dia menoleh, langsung bersitatap dengan Gres. Evan memalingkan wajah, lebih dulu memutus kontak mata, dan berlari kecil mengejar punggung Maikel yang hampir tertelan dinding.
"Ngapain sih lu pada di sini?" Amey menatap garang Rio.
"Eh! Mey, Mey. Bagaimana kabar Annchi?"
Annchi adalah sebutan untuk perempuan China. Amey yang memiliki darah China dari sang kakek, memanggil saudara perempuan satu-satunya dengan sebutan Annchi.
"Jangan begitu Adik Ipar!" Etan menegor Amey. "Sebentar lagi Rio akan menjadi kekasihmu, perlakukanlah dia dengan baik."
"Apan sih lu! Jijik banget." Amey berdecih, menunjukan rasa jijiknya.
Rio menggaruk kepala, melemparkan cengiran saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan mata Gres. "Hallo Opung! Apa kabarmu?" Rio berkata dengan logat batak yang membuat Maul menyemburkan tawa.
__ADS_1
"Ko pikir Opung itu untuk sebutan cewek?" Maul membalas dengan logat batak yang fasih.
Etan ikut tertawa, mendaratkan kepalan tangannya ke-kepala Rio.
Cowok dengan pelester di jidat menoleh. Tangan yang dibalut kayu, melayang menghajar tubuh samping Etan membuat cowok dengan rambut ungu mengaduh.
Catherine berkacak pinggang, menatap bergantian ke-dua cowok yang saling beradu tatap. "Pergi! Atau gue sambit lu pada!" Dia mengedarkan pandangan, mencari benda apapun yang dapat mengusir ke-dua cowok aneh.
"Jangan galak-galak dong Bee." Etan melembutkan suara, berusaha meredam amarah Catherine.
Amey yang paham dengan tatapan Catherine, meraih sapu yang tidak jauh dari tempatnya membawa benda itu lalu mengacungkan tepat di wajah Rio.
Etan tertawa sumbang. Dia mengacungkan jari telunjuk dan tengah di atas kepala. "Oh. Iya, gue nyusul Gagak dulu yaaa."
Rio mundur selangkah, takut gagang sapu itu mengenai wajah. "Ah! Maafkan aku yaa Mey cantik."
Maul dan Gres kompak menggeleng heran, sedangkan Catherine memilih melihat pemandangan lapangan basket di bawah.
****
__ADS_1