Ya, Lu Milik Gue.

Ya, Lu Milik Gue.
Bagian 8


__ADS_3

"Iya. Anak kelas dua belas."


"Cantik yaaa."


"Anak teksas udah pasti ngincer tuh."


"Ya iyalah. Mereka semua gak bisa lihat cewek bening dikit."


Kelima cowok yang baru dilewati Sherly kompak meledakan tawa, cukup keras sampai membuat cewek itu tersentak. Tetapi Sherly terus berjalan menghampiri meja satu-satunya yang kosong. Awalnya Sherly ragu. kenapa meja dengan enam bangku yang ditujunya kosong? Sedangkan orang-orang bersusah-payah membawa pesanan keluar?


Lagi-lagi Sherly mengabaikan kejanggalan itu. Dia berpikir, mungkin ada lokasi yang lebih nyaman ketimbang makan di kantin. Sherly duduk di salah satu kursi dekat jalan. Jika saja Sherly sedang bersama Emma, dia yakin, cewek belanda itu sudah pasti akan menolak menempati meja di depan Sherly. Emma akan berseru-seru!


"Oh no no no! O my God! Sherly, it's table not good!" Dengan suara yang mendramatisir, seolah Emma sedang memerankan film horor. "You know vampir? They are on the table."


(Oh tidak tidak tidak! O Tuhanku! Sherly, meja itu tidak baik! Kamu tahu vampir? Mereka ada di meja."

__ADS_1


Sherly mengulas senyum mengingat salah satu keanehan Emma. Ternyata cewek Belanda itu bisa membuat orang lain merindukan keanehannya.


Gabriel yang sedang memegang botol sprit dan sebungkus chiki, menghentikan langkah di belakang Sherly. Mata cowok itu mengamati rambut panjang Sherly yang berwarna hitam, terlihat seperti arang terkena pantulan cahaya. "Permisi."


Sherly menoleh, bertepatan dengan Jem yang membawa pesanan.


Wanita paruhbaya itu meletakan mangkuk beserta sumpit dan sendok di depan Sherly. Jika anak-anak Bakti yang asli dari pribumi menghindari sumpit dan memilih garpu sebagai jalan pintas, Jem yakin Sherly akan memilih sumpit untuk menjadi alat makan. Jem sudah berbelas-belas tahun menjadi pelayan, dia cukup mengerti bagaimana cara makan bule, apa lagi yang baru datang dari negara bagian barat.


"Thanks Mbak."


"Oh, sorry." Sherly tersenyum. Cewek itu sudah terbiasa memanggil pelayan di rumahnya dengan sebutan mbak, atau bi. Dia pikir, sebutan ibu hanya ditunjukan untuk guru atau orang tua saja."


Jem ikut tersenyum dan pamit. "Nanti kalau mau tambah jangan sungkan ya, Neng."


Sherly menatap tempat Jem yang berdiri, menyisakan dinding kosong dengan tulisan teksas yang diukir menggunakan spidol. Sherly mengamati tulisan estetic di hadapannya, begitu jelas, melengkung-lengkung, namun indah. Siapa yang membentuk tulisan itu? Sherly tersentak saat sebuah bayangan melewati. Apa yang baru dilihatnya? Apa omongan Emma sebuah kebenaran? Ah! Bukannya vampir hanya mitos? Dan bukannya mitos itu berkembang di tanah eropa? Mungkinkah, bayangan barusan genderuwo? Atau yang lebih parah ...

__ADS_1


"Hallo!"


Sepertinya Sherly sudah tertular racun Emma. Mana ada vampir memiliki suara cool seperti yang baru didengarnya? Tetapi Emma bilang, vampir itu menakjubkan, dang mampu membuat orang jatuh cinta dengan sekali tatap.


Gabriel mengernyit, menatap cewek di hadapannya yang terpaku entah menatap apa. Gabriel mengikuti arah pandang Sherly, semakin mengernyit karena tidak ada satu pun hal yang menarik untuk diamati.


Bau harum bakso menggelitik hidung Sherly, membuat perutnya bersuara.


Gabriel yang mendengar suara cacing demo, mengulum senyum. "Laper?"


Pertanyaan Gabriel membuat Sherly langsung menoleh. Cewek itu melotot, memperhatikan seksama wajah tampan Gabriel.


"You human?"


Senyum Gabriel luntur sudah. "Apa gue kelihatan kaya bukan manusia?"

__ADS_1


***


__ADS_2