Ya, Lu Milik Gue.

Ya, Lu Milik Gue.
Bagian 4


__ADS_3

Saudara kembar itu terkekeh lalu menarik kursi di samping Maikel dan Rio. "Ajib gila tuh cewek!"


Maikel melirik cowok di sampingnya. "Cewek yang mana lagi? Catherine?"


Rio menggeleng heran. Mata cowok itu menatap wajah acuh Gagak. Dari tatapannya, jelas sekali cowok dengan pelester di jidat itu sedang meledek Gagak. "Ga, Catherine noh Catherine."


Gagak bungkam, malas menanggapi sesuatu yang sangat tidak penting. Dia masih fokus menatap layar ponsel yang menampilkan model-model seksi dari salah satu aplikasi sosial media.


Etan menggeleng dengan senyum yang tercetak jelas." Rambut cowok itu yang berwarna ungu mengilat terkena pantulan cahaya mentari yang terlihat dari balik jendela kaca. "Yang ini lebih aduhai, bro!"


Evan mengangguk, menyetujui perkataan saudara kembarnya.


"Lu ganti warna rambut lagi?" tanya Maikel, mengamati rambut Etan.


"Gimana bagus, kan?"


"Makin kaya jamet lu!" Rio menyahut dengan ekspresi menahan tawa.


Maikel bungkam. Cowok itu menatap miris Etan yang begitu menyukai warna-warna nora. Semua orang tahu, salah satu anggota teksas yang paling narsis, selalu Aptudet, memangĀ  gemar menggunta-ganti warna rambut. Tetapi, bisakah? Etan menggunakan warna-warna sewajarnya?


Gabriel yang sedang membaca buku, melirik sekilas rambut Etan. "Lu gak kasihan sama Kakak lu?"Gabriel menatap Evan yang sedang menahan tawa.


"Kasihan sebenernya ...." Perkataan Evan terpotong karena tatapan galak Etan.


"Permisi!"


Keenam siswa kompak terdiam ketika petugas kantin meletakan nampan berisi pesanan mereka.


Setelah pelayan itu pergi, Etan meletakan kepalanya di atas meja, sedangkan Evan merampas sebungkus kuaci di tangan Rio.

__ADS_1


Gagak mematikan ponselnya lalu meletakan benda pipih itu di atas meja. "Emang siswi barunya kaya gimana?" Gagak mengaduk salad buah pesanannya.


Etan memejamkan mata, mengingat-ingat wajah cantik cewek yang tidak sengaja bertemu di lorong. "Pokoknya indah kaya bidadari."


Maikel memutar bola mata jengah. Cowok belasteran itu menyeruput juice stoberynya.


Rio mengangkat alis menatap Etan. "Belum aja mereka liat tuh cewek."


"Emang lu udah ngelihat ceweknya? Etan bertanya kaget, mengangkat sedikit wajah.


Rio menggeleng. "Cuma denger anak-anak yang pada ngegosip doang."


"Yeeeeh!" Etan dan Evan kompak berseru.


Gabriel menutup buku yang dibaca. Cowok itu meraih mangkuk bakso lalu mengaduk kuah yang belum rata dengan sambal. "Gue udah lihat." Gabriel menyahut, masih sibuk dengan mangkuk bakso.


Gagak menatap serius Gabriel. "Terus gimana?" Gagak bertanya penasaran. Pasalnya, cowok bertindik itu percaya pada selera Gabriel yang tinggi. Tidak seperti dua bersaudara atau Rio yang tidak bisa melihat cewek cantik sedikit. Gagak yakin jika saja Bu Jem belum menikah, ketiga temannya sudah pasti akan menggombali wanita paruhbaya itu.


Rio melotot. "Emang ada?"


Anggukan samar dari Gabriel membuat kelima temannya sigap meraih ponsel masing-masing.


Benar saja yang dikatakan Gabriel. Siswi baru itu langsung menjadi perbincangan hangat di SMA Bakti. Ada yang memujinya, ada juga yang menjelekinya.


Evan menggerakan jempolnya, menggulir layar. "Mana sih, kok di hp gue gak ada?"


Rio menyentil jidat Evan. "Makannya kaca mata itu makenya yang bener!"


Evan membenarkan kaca mata kotaknya yang sedikit turun. Cowok itu menyodorkan ponsel ke-arah Rio.

__ADS_1


Cowok dengan pelester di jidat, mendengus. Jari telunjuknya bergerak menyentuh layar, menampilkan foto sesosok cewek bule. "Nih!"


Evan menarik ponselnya kembali. Mata cowok itu yang terlindungi kaca mata terlihat tak berkedip mengagumi maha karya sang pencipta.


Gagak memperbesar foto yang dikirim teman-temannya. "Cantik juga."


Rio terkekeh. "Mau lu embat?"


Sontak Etan dan Evan melotot.


"Enak aja lu! Itu punya gue duluan." Evan melemparkan kuaci hasil rampasannya ke-kepala Rio.


"Heh! Tuh kuaci juga punya gue," ucap Rio tidak terima kepalanya ditimpuk kuaci. "Lagi juga bukannya lu suka sama Catherine?"


Evan menggeleng tegas. "Itu cewek masih ngarep sama mantannya."


Gabriel melirik Gagak yang masih fokus menatap layar ponsel. Cowok itu kembali membuka bukunya sambil mengunyah bakso.


Rio tertawa. Mata cowok itu menatap serius kuaci yang belum bisa dibuka. "Kayanya Gagak tertarik." Rio terkekeh ketika berhasil membuka kulit kuaci yang hampir lima menit menyita waktu.


Sedangkan Etan dan Evan menatap Gagak penuh harap.


Maikel menghela nafas setelah menyeruput juice stoberynya hingga tandas. "Gue juga kayanya berminat."


Etan dan Evan sontak menekuk wajah. Harapan saudara kembar semakin pupus ketika Gagak menganggukan kepala.


"Boleh juga tuh cewek." Gagak bergumam, tetapi masih dapat didengar kelima temannya.


"Asik! Makin banyak saingannya aja gue."

__ADS_1


Semua melirik Rio kecuali Gabriel. Cowok berambut pirang itu masih sibuk menatap lembar buku yang terbuka.


***


__ADS_2