
Dum!
Dum!
Dum!
Suara dentuman musik yang begitu keras terdengar dalam suatu ruangan dengan sedikit cahaya remang-remang nya, langkah kaki seorang wanita dengan heels merah tingginya terus menyusuri sebuah lorong-lorong tempat itu.
Lampu-lampu yang tak begitu terang menyulitkannya untuk menemukan suatu ruangan, dimana teman-teman nya berkumpul. Setelah yakin pada salah satu pintu, wanita itu lantas membukanya.
"Duh! Kenapa hari ini tempat ini sangat sibuk?!" Oceh Wendy yang lantas segera duduk.
"Kalau kau ingin ke tempat yang sepi, sana pergi ke perpustakaan!" Ledek teman Wendy, yang bernama Nora.
Wendy menenteng tas branded yang beberapa hari lalu dibelikan oleh Lucas. "Eh! Coba lihat, aku mendapatkan tas ini loh"
"Wah!!! Dasar tukang pamer!" Seru teman-teman Wendy. "Coba sini lihat! Apa beneran asli?"
"Tentu saja! Pacarku kan kaya raya" Wendy tersenyum sumringah, terlihat ponselnya mendapat satu panggilan namun tak dihiraukannya, wanita itu malah mematikan ponsel miliknya agar tidak ada yang mengganggu waktu senang-senang nya.
Para wanita itu saling menceritakan pengalaman masing-masing selama tak saling bertemu, mereka tertawa riang bersama dan saling bergurau, begitu juga Wendy, dia sangat senang bertemu dengan teman-teman yang sejak lulus SMA itu langsung berpisah.
Tak disangka, bukan hanya para wanita yang datang. Beberapa pria datang ke VIP room mereka, pria-pria itu merupakan teman mereka juga saat sekolah. Salah satu diantaranya pernah berpacaran dengan Wendy saat masa sekolah.
"OMG!! Siapa yang mengundang mereka?" Celetuk Wendy yang terkejut. Tak disangka, tatapan Wendy mengarah pada pria yang berstatus mantan tersebut, pria itu kini telah berubah, ia terlihat tampan dengan gaya berpakaiannya yang keren.
"Tentu saja kami! Bukankah ini reuni yang indah?" Tanya Nora dengan kedipan matanya, Nora tahu Wendy pasti syok dengan kedatangan Gabriel, mantannya itu. "Eh! Ingat loh... Kau sudah punya pacar yang super kaya dan ganteng"
"Eh?? Apa sih?" Wendy menepuk bahu Nora, seolah ingin mengatakan 'jangan bahas pacarku di tempat ini'. "Kenapa mulut ini suka sekali bicara ngawur!" Ucap Wendy sambil menutup bibir Nora dengan jari telunjuknya.
"Hei, Wen! Apa kabar?" Sapa Gabriel dan langsung duduk di dekat Wendy.
Wendy yang kaget, malah termenung menatap wajah ganteng Gabriel. Heran, tentu saja Wendy heran. Kenapa Gabriel tidak merasa canggung ketika mendekati dirinya? Apa mungkin Gabriel sudah punya kekasih baru setelah putus dengannya dulu, padahal dulu Gabriel bilang tidak akan pernah bisa menemukan gadis yang seperti dirinya.
Gabriel yang melihat Wendy tak merespon pertanyaan darinya, segera mengusap kepala Wendy lembut seperti yang dulu sering ia lakukan selama berpacaran.
__ADS_1
"Kenapa melamun?"
"Ah! Anu... Bukan apa-apa" wajah Wendy memerah, wanita itu segera membuang muka ke arah lain. Tak tahu mengapa, jantungnya berdegup kencang. Apa mungkin dia masih mencintai Gabriel, yang dulu memang sengaja ia tinggalkan karena Gabriel yang miskin.
"Ehm... Kau terlihat keren" puji Wendy lalu tersenyum, untuk menghilangkan rasa mengganjal di dalam hati, Wendy lantas menenggak segelas alkohol di depannya. "Apa kau tinggal di sekitar sini?"
"Hmm?" Gabriel mengangkat sebelah alisnya. "Bagaimana mungkin kau tidak tahu?"
"Eh? Apa maksudnya???"
Gabriel mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Wendy, sesuatu itu membuat Wendy melongo sampai menutup mulutnya sendiri.
"Dengan wajah Ganteng ini, aku menjadi salah satu model untuk brand fashion di kota ini" ucap Gabriel bangga. "Apa kau tidak pernah membaca majalah? Fotoku kadang muncul disana, hehehe"
Astaga! Pantas saja, gaya berpakaiannya terlihat keren dan begitu menarik perhatian! Ternyata dia menjadi model - Wendy.
"I-itu..." Wendy memelankan suaranya. "Keren! Kau.... Hebat" puji Wendy sekali lagi dengan suara yang serak, ia sangat malu saat ini di depan Gabriel.
Untuk menutupi rasa malunya, Wendy memesan beberapa botol minuman lagi untuk berpesta kali ini. Ia begitu ingin menunjukan bahwa dirinya dipacari oleh seorang pria kaya raya di kota itu. Dengan bujukan teman-temannya, Wendy meminum beberapa gelas alkohol yang membuat kepalanya terasa pusing berputar-putar.
"Apa sih?! Aku ini kuat minum tahu!!" Jawab Wendy sewot. "Ngomong-ngomong, model mana yang berhasil kau pacari sekarang?"
"Eh... Aku?" Gabriel terdiam sesaat, entah mengapa seringai senyuman tipis terlihat dibibir nya, tapi sepertinya Wendy tidak memperhatikan hal kecil itu.
"Aku tak punya pacar, tidak ada waktu untuk berpacaran"
Wendy yang terkejut segera menoleh menatap Gabriel. "Hah?? Masa sih? Tidak waktu? Apa agensimu tidak mengijinkannya?"
"Boleh, mereka mengijinkan. Hanya saja...." Gabriel mendekatkan wajahnya pada Wendy, yang sontak saja hal itu membuat Wendy membuka matanya lebar-lebar. Pria itu mendekati telinga Wendy dan membisikan sesuatu pada wanita itu. "Tidak ada yang sepertimu Wen"
Kalimat Gabriel mampu membuat Wendy tersenyum kegirangan di dalam hati, Wanita yang sedang mabuk itu tak bisa menahan rasa senangnya, sehingga bibirnya terlihat tersenyum di depan pria yang bukan pacarnya.
"Kau membuatku malu..." Wendy meletakkan gelas minumannya, ia melirik ke arah Gabriel yang masih menatapnya. Sungguh! Wanita itu masih tergila-gila pada sosok Gabriel yang mungkin sekarang sudah kaya itu.
"Apa kau ada waktu malam ini? Maksudku, setelah acara ini selesai"
__ADS_1
"Kenapa??" Wendy menautkan alisnya, ia menunggu pertanyaan darinya mendapat jawaban. "Memangnya ada apa?"
Nora yang mengetahui hal itu hanya tersenyum sambil meminum alkohol di gelasnya, gadis itu menatap ke arah Gabriel sekilas lalu beralih mengobrol dengan teman-teman yang lain.
"Tidak ada apa-apa sih, aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Itupun jika kau tidak keberatan" pinta Gabriel ramah, "Tapi... Aku dengar kau sudah punya pacar?"
"Eh!" Wendy terkejut, ia lantas segera menatap Nora yang disambut dengan gelengan kepala dari Nora. "Siapa yang bilang begitu???"
"A-aku... Aku...." Suara Wendy terdengar gagap, wanita itu lantas menundukkan kepalanya. "Aku tak punya pacar..."
Untung saja! Waktu dia memamerkan tas tadi, para pria belum datang. Jadi kemungkinan besar Gabriel pasti tidak tau statusnya saat ini. Entah dorongan setan darimana? Yang membuat Wendy sampai berani berbohong seperti itu, wanita itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Tidak apa-apa kan? Memangnya apa yang akan terjadi? Kan hanya pergi jalan-jalan saja - Wendy.
______________________________________
Di tempat lain, seorang pria yang tengah dirundung kebosanan memainkan ponselnya hanya untuk mengecek, apakah ada pesan masuk dari kekasihnya atau tidak. Lucas membaringkan tubuhnya diatas ranjang, ia menatap langit-langit kamarnya tanpa memikirkan apa-apa.
"Kenapa dia tidak bisa dihubungi?"
Suara tawa cekikikan dari luar terdengar samar-samar di telinga Lucas, ia tahu. Pasti itu Suri dan pengasuhnya, entah permainan apa lagi yang sedang mereka berdua lakukan saat ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Lucas lantas keluar dari kamarnya untuk memeriksa Suri, anak perempuan nya. Di dalam kamar, Suri sudah tertidur pulas dengan Ryn yang memeluknya dari samping. Lucas lupa, bahwa ia belum menyiapkan kamar pribadi untuk Ryn, sampai saat ini Ryn tidur dengan Suri.
"Apa tidak apa-apa ya? Kalau mereka terus tidur bersama seperti ini?" Gumam Lucas sambil menatap mereka berdua dari arah pintu.
"Tentu saja tidak apa-apa tuan!" Sahut Nany yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Lucas. "Yang ada apa-apa itu jika nona Ryn tidur dengan Tuan dalam satu kamar"
Nany tertawa menggoda tuan mudanya, ia lantas pergi sambil membawa pakaian kotor milik Suri dan Ryn. Di belakang sana, rupanya wajah Lucas tengah kaku, ia memerah mendengar ucapan Nany yang tak masuk akal tersebut.
"Duh! Nany ini bicara apa sih?!"
BERSAMBUNG!!!
Halo pembaca! Terima kasih, atas semua dukungan kalian. Pliss jangan lupa klik tombol Like, Favorit, Vote dan komentar! Kalau mau beri hadiah juga silahkan... Aku akan menerimanya apapun itu hehehehe. Dadaah... Mmuuaachhh ☺️♥️
__ADS_1
IG Author : NessaCimolin