
"Ini..."
Ryn mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Lucas, sudah sepuluh menit tapi tubuh pria itu masih saja terlihat bergetar. Antara malu dan tidak, Lucas menyembunyikan wajahnya dibalik selimut yang ia kenakan, suara isakan tangisnya juga masih terdengat di kedua telinga Ryn.
"Apa kau mau makan sesuatu?" Tawar Ryn kalem, gadis duyung itu duduk bersimpuh di atas lantai, ia menempatkan dirinya tak jauh dari Lucas yang sedang tidur tengkurap di dalam selimut.
Lucas membuka sedikit selimut dibagian kepalanya. "Hei, aku ini sedang sedih dan terpuruk! Bukannya sedang lapar"
"Apa kau ingin makan cokelat? Aku dengar makanan itu bisa mengembalikan mood yang hilang"
"Duh! Benar-benar deh!" Lucas kembali membenamkan wajahnya. "Sana pergi! Hus... Hus..."
"Yakin? Kau sungguh ingin aku pergi?" Tanya Ryn dengan nada menggoda. "Baiklah kalau begitu..."
Melihat Ryn yang berdiri dari duduknya, Lucas segera menghentikan gadis itu dengan menggandeng tangannya. Lucas tak memandang ke arah Ryn, pria itu terlalu malu dan gengsi untuk melakukannya.
"Duduk!" Pinta Lucas pelan.
"Apa?! Aku tidak dengar?"
"His! Kau ini..." Lucas menarik tangan Ryn dengan kasar lalu kembali menyembunyikan diri di dalam selimut. "Maaf harus membuatmu melihat aku yang seperti ini"
"Eh?" Ryn terkejut, ia duduk bersandar pada sisi ranjang Lucas. "Tidak masalah jika kau ingin menangis karena suatu hal, yang menjadi masalah jika kau tak mengeluarkan nya, itu malah akan menyakiti perasaanmu lebih jauh"
Tak mendapat sahutan dari Lucas, Ryn menoleh ke belakang ia mendapati Lucas yang sedang memejamkan kedua matanya. Hidung dan mata pria itu terlihat memerah, Ryn tidak tahu apa yang membuat Lucas sampai seperti itu? Mungkinkah cintanya pada Wendy begitu dalam? Begitu lah yang ada di pikiran Ryn.
Gadis bermata biru itu mengangkat tangan kirinya, ia ingin membetulkan rambut Lucas yang nampak berantakan. Namun, ia menghentikan aksinya yang belum ia lakukan, Ryn menarik kembali tangannya. Gadis itu kembali duduk membelakangi Lucas, Ryn termenung menatap kedua kakinya.
Tidak, ini tidak boleh, aku tidak boleh terlalu dekat dengan manusia ini, ingat siapa diriku yang sebenarnya... - Ryn.
Setengah jam Ryn menunggu, setelah ia mendengar Lucas mendengkur, ia baru yakin betul bahwa pria itu sudah terlelap dalam tidurnya. Gadis bermata biru itu merapikan selimut Lucas dan melangkah pergi, tepat di depan pintu kamar pria itu, Ryn jatuh terduduk. Dia bersandar di depan pintu kamar Lucas.
Deg!
__ADS_1
Deg!
Deg!
Aku mohon, jangan... - Ryn.
Ryn menyentuh dadanya, ia merasakan rasa sesak di dalam sana. Anehnya, jantung Ryn juga mendadak berdegup dengan kencang. Gadis itu sadar, dia lah yang selama ini mendekatkan diri pada Lucas, dia yang membiarkan kesempatan itu datang pada nya.
Kedua mata Ryn berkilau, tangan gadis itu terkepal dengan erat, Ryn bangkit berdiri. Ia berjalan menuruni anak tangga, tanpa pamit kepada siapapun, gadis itu pergi menuju pantai. Benar! Malam adalah waktu yang bagus untuk kembali ke laut, karena tak banyak manusia yang akan mengunjungi tempat itu.
Ryn melepas pakaiannya dan menyimpannya dengan aman di balik bebatuan karang. Gadis itu melompat bebas ke permukaan laut, di dalam air perubahan pada tubuhnya mulai terjadi, ekor panjang bersirip tercipta, Ryn mengerang kesakitan ketika mengalami perubahan itu.
Gadis duyung itu lantas berenang-renang dengan bebas menuju dasar laut, hanya itu cara yang terpikirkan oleh Ryn untuk melepas emosinya yang sedang meluap-luap.
Aku tidak menyukainya... Aku tidak menyukainya... - Ryn.
____________________________________
"Hoek!!"
"Hoek!!"
"Ada apa Wen?" Tanya Gabriel sekali lagi, raut khawatir nampak jelas tergambarkan di wajah pria itu.
Di dalam kamar mandi, Wendy memegang kuat bagian kanan dan kiri Wastafel, wajah wanita itu nampak pucat dan kacau. Entah sejak kapan ia memiliki alergi pada daging setengah matang.
Malam itu, Gabriel datang ke apartemen Wendy, ia membawa sepaket lengkap Yakiniku beserta wajan pemanggang nya. Biasanya Wendy tidak akan terganggu dengan bau daging itu saat makan bersama Lucas, tapi entah kenapa? Hari ini berbeda, sesaat setelag Gabriel memanggang daging itu saat itu juga aroma daging yang memuak kan keluar dari dalamnya.
Hal itu membuat Wendy mual, buru-buru wanita itu berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah hebat disana.
Curr!!
Wendy menyalakan keran air, ia membersihkan bagian luar dan dalam mulutnya, ia bahkan masih mencium bau daging itu di dalam kepalanya. Wanita itu menatap pantulan wajahnya di depan cermin, kedua mata Wendy membulat saat mengetahui pipinya kini bertambah besar meskipun itu hanya sedikit. Siapapun juga tidak akan menyadarinya, hanya Wendy saja yang selalu teliti pada bagian tubuhnya.
__ADS_1
"Astaga! Sejak kapan pipi-pipi ini menggemuk?"
Lagi, rasa aneh di dalam perutnya kembali muncul. Untuk kesekian kalinya Wendy muntah-muntah, ia sudah tak tahan, Wendy mengambil minyak angin di laci kamar mandinya. Ia segera mengoleskan minyak itu ke bagian leher dan perutnya.
"Hah...." Wendy menghela nafas lega. "Minyak angin ini cukup membantu"
KLAP!!
(Pintu terbuka)
"Ada apa??" Gabriel segera meraih wajah Wendy, pria itu benar-benar mengkhawatirkan kekasihnya. "Bagian mana yang sakit?"
"Tidak apa-apa" Wendy menepis kedua tangan pria di depannya. "Aku rasa, aku sedang tidak ingin makan daging! Bau nya membuatku mual"
"Hah?! Bukankah kau paling suka dengan daging?"
"Yaa memang benar, tapi aku rasa tidak untuk hari ini" Wendy berjalan menuju dapur, ia mengambil segelas air putih dingin. Tak biasanya, hari ini Wendy menambahkan beberapa sendok gula ke dalam minumannya.
"Sejak kapan kau minum seperti itu?"
Kedua mata Wendy terbelalak, ia juga terkejut dengan apa yang ia lakukan. "Ah, a-aku... Tiba-tiba aku ingin yang manis-manis"
"Wen, apa kau hamil?" Tanya Gabriel asal, ia memiliki dugaan seperti itu karena gelagat Wendy yang memang seperti orang sedang hamil, pria itu berjalan mendekati kekasihnya dan menatap kedua mata Wendy lekat-lekat.
"A-apa??!!" Wendy terkejut. "Apa kau gila?! Aku tidak mungkin hamil, dan kalaupun hamil, aku tidak ingin anak darimu! Aku hanya ingin hamil anaknya Lucas!!"
Mendengar penolakan Wendy yang tanpa rasa sungkan itu, Gabriel lantas pergi. Pria itu mengambil jaketnya di dalam kamar Wendy dan meninggalkan apartemen wanita itu tanpa mengatakan apapun. Kecewa? Tentu saja Gabriel kecewa, memang apa bedanya Gabriel dengan Lucas? Lucas saja belum tentu mencintai Wendy seperti Gabriel mencintainya.
Gabriel memasuki mobilnya, ia mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi. Emosi sedang mengendalikan pria itu, hanya ada bayangan Wendy yang mencemooh dirinya yang terlintas.
Pria itu membawa mobilnya ke suatu tempat yang sepi, tempat itu memiliki pemandangan yang cukup indah di malam hari meskipun minim pencahayaan. Gabriel melepas sepatunya, ia berjalan di atas butiran-butiran pasir pantai, pria itu duduk di tepi pantai memandang hamparan laut luas di depannya.
"Memang aku tidak sekaya pria itu, tapi jika kau memang mengandung anakku, aku akan membongkar semua kelakuan mu pada laki-laki itu" gumam Gabriel seorang diri.
__ADS_1
BERSAMBUNG!!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol like, favorit, vote dan tinggalkan komentar yang mendukung. Jangan lupa juga untuk follow profil Author ya?! ♥️☺️🙏