YES!! I'Am Mermaid

YES!! I'Am Mermaid
YES!! I'am Mermaid - Ep. 20


__ADS_3

Lucas melirik dari posisinya yang sedang menyembunyikan sebagian wajahnya itu. Tatapan matanya terasa hangat saat memandang Ryn, kedua mata mereka bertemu, membuat gadis bermata biru itu tercekat namun tak bisa melakukan apa-apa.


Deg!


Sungguh, siapapun yang berada di posisi Ryn dan memandang wajah Lucas yang seperti itu, pasti akan segera memeluk ataupun menciumnya. Tentu saja, itu khusus bagi para gadis yang berhati lemah.


Ya Tuhan... - Ryn.


Bagi Ryn, Lucas memiliki warna mata yang sangat indah. Apalagi, bau pria itu mampu memabukkan Ryn sang duyung. Gadis cantik bermata biru itu dengan susah payah menelan ludah, ia mundur perlahan dari posisinya saat ini.


GRAB!!!


"Eh...."


Kedua mata Ryn membulat lebar, Lucas menarik tubuh Ryn dengan kuat dan membuat gadis mungil itu jatuh ke dalam pelukannya. Pria tampan itu membenamkan wajahnya pada bahu Ryn, entah mengapa? Ryn yang pada dasarnya bisa membaca mata seseorang, turut merasakan kesedihan apa yang dirasakan pria itu. Namun anehnya, Ryn tidak mampu menjelaskannya dengan kata-kata.


"Lucas? Ka-kau...."


"Hmm" Lucas tetap memeluk tubuh kecil Ryn, pria itu mencium aroma wangi dari rambut Ryn yang terurai. "Tolong, biarkan aku seperti ini, aku janji tidak akan lama"


Terenyuh dan tersentuh, kedua kata itu cocok untuk menggambarkan perasaan Ryn saat ini. Entah ada masalah apa? Yang bisa membuat pria dingin dan tengil seperti Lucas, sampai sedih seperti ini. Kedua tangan Ryn terangkat di udara, ia membalas pelukan Lucas dan mengusap punggung pria itu.


Cukup lama mereka berpelukan, Ryn sedikit merasakan adanya tetesan air di bajunya, namun gadis itu tidak ingin menanyakannya pada Lucas. Dia tahu betul, siapapun pasti hanya ingin mengeluarkan kekesalan tanpa perlu menjelaskan.


Dia menangis? - Ryn.


"Lepaskan semua rasa sesak itu, aku akan membiarkanmu memelukku sesukamu" ujar Ryn dengan lembut, ia tidak tahu bahwa kalimatnya itu akan menjadi bom bagi dirinya sendiri di waktu yang akan datang.


"Hmm" Lucas mengusap matanya yang sudah basah. "Maafkan aku Ryn, hanya saja... Aku tidak tahu harus berbuat seperti apa"


"Jangan khawatir" sahut Ryn cepat, ia mengusap bagian belakang kepala Lucas dan menenangkan pria itu. "Kau tidak harus berbuat apa-apa, dan menjelaskan apapun padaku"

__ADS_1


"Terima kasih" Lucas semakin mempererat pelukannya pada tubuh duyung cantik itu.


Duh! Ini terlalu erat - Ryn.


CKLAK!!!


Ryn dan Lucas sama-sama mengakhiri pelukan yang mereka lakukan, keduanya terkejut karena lampu rumah yang tiba-tiba menyala. Bukan hanya itu yang membuat mereka terkejut, keberadaan Nany dengan mulut menganga lebar melihat mereka berdua, juga ikut membuat keduanya jadi salah tingkah.


Lucas segera mengusap wajahnya dengan kedua tangan, ia mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang tertinggal. Sedangkan Ryn hanya menutupi sebagian wajahnya dengan kedua tangan, ia berdiri dari duduknya dan ingin mengatakan sesuatu kepada Nany.


"A-anu... Na-na-nany" Ryn terlihat kelabakan mengutarakan kalimatnya. "A-aku, eh! Ka-kami..."


Nany lantas membungkuk kan badannya di depan Ryn dan Lucas, hal itu membuat Ryn terkejut begitu juga dengan Lucas yang masih menutup sebagian wajahnya dengan tangan. Sepertinya wajah Lucas sedikit memerah akibat pelukan tadi.


"Maaafkan saya tuan! Saya telah lancang" ucap Nany dengan penuh hormat. "Saya hanya berniat untuk mengambil air, karena sedang haus! Maafkan saya, saya akan kembali ke kamar. Tolong dilanjutkan"


APA?!!! - teriak Ryn di dalam hati.


Dalam perjalanan menuju kamarnya, kedua pipi Nany merona merah. Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan tangan kanannya sambil menahan tawa karena bahagia, sepertinya wanita tua itu tidak sabar untuk menceritakan kejadian itu kepada Suri, nona kecilnya.


"Nona Suri pasti senang mendengarnya" gumam Nany lirih.


Ryn kembali duduk ke kursi, ia mengusap pelipis matanya dengan kedua tangan, ia memijat bagian itu dengan gerakan memutar. "Astaga! Aku bisa gila jika seperti ini"


"Apa?!"


"Apa maksudmu Apa?" Maki Ryn menirukan cara bicara Lucas. "Besok aku harus mengatakan apa pada Nany? Dasar kau ini!"


"Tidak usah katakan apa-apa, aku yakin Nany juga tidak akan bertanya"


Kedua mata Ryn berbinar. "Benarkah? Nany tidak akan membahasnya? Kau tau darimana?"

__ADS_1


Lucas memandangi wajah Ryn yang penuh harap. "Nany tidak akan menanyakan masalah pribadi seseorang, itu yang aku tahu"


"Fiuh! Syukurlah..." Ryn mengurut dadanya lega. Ia kembali berdiri dan membuang bungkus donat ke tempat sampah. "Aku akan kembali ke kamar, apa kau akan tetap disini?"


"Ummm, ya" Lucas menganggukkan kepalanya. "Aku akan ada disini beberapa menit lagi"


Gadis duyung itu menatap Lucas yang sepertinya masih larut dalam rasa sedihnya. Ryn mengambilkan pria itu segelas air putih dingin dan meletakkannya ke meja, tentunya di depan pria itu duduk.


"Ini, minumlah ini" pinta Ryn dengan sedikit paksaan. "Jangan minum alkohol itu lagi, atau aku tidak akan meminjamkan bahu ini lagi padamu"


Lucas menatap Ryn dengan pandangan aneh, kedua matanya terus melihat ke arah Ryn sampai gadis itu benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi.


"Cih! Memangnya kau siapa? Sampai berani mengancamku!" Omel Lucas lirih, ia meminum segelas air putih yang di ambilkan oleh Ryn, setelah itu dia ikut pergi meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Lucas merebahkan tubuhnya dan memandangi langit-langit kamarnya. Sore ini, setelah menjemput Suri, pria itu mencoba menghubungi Wendy. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini Wendy sering mengabaikan panggilan ataupun pesan dari Lucas. Entah apa yang membuat Wendy berubah? Atau memang, beginilah Wendy yang sebenarnya? Lucas kembali menyalakan ponselnya. Kedua matanya menatap sedih ke arah layar ponsel itu, seperti sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat atau bahkan ketahui.


Pria itu kembali meletakkan ponselnya ke atas meja nakas, di sebelah ponsel itu terdapat dua tiket pesawat untuk liburan ke luar negeri. Ya! Benar sekali, tiket itu seharusnya akan dia hadiahkan untuk Wendy, Lucas ingin meminta maaf karena belakangan ini dia sangat sibuk dan tidak bisa meluangkan waktunya untuk Wendy, pacarnya. Maka dari itu, Lucas ingin mengambil cuti beberapa hari dan menyenangkan kekasihnya itu, dengan membawa wanita itu liburan ke luar negeri. Tapi sepertinya, rencana itu gagal, dan terpaksa dia harus memberikan tiket itu kepada temannya.


"Sial!"


Lucas menggosok-gosok wajahnya dengan gusar, pria itu melempar sebagian bantal dan selimut ke lantai. Ia benar-benar dibuat terpuruk oleh Wanita itu, memang benar! Dulu dia memacari Wendy karena wanita itu bersifat keibuan, dia begitu perhatian dan menyayangi Suri, maka dari itulah Lucas memilih Wendy menjadi kekasihnya.


"Mungkin mandi bisa membuat badanku sedikit rileks"


Lucas berjalan ke arah kamar mandi, ia melihat botol sabun yang telah habis. Dan membuka yang baru, saat membuka botol sabun itu, ia teringat akan sosok Ryn yang membenci baunya belum lama ini.


"Sekarang aku akan memakai merek dan aroma yang lain, apa kau akan tetap membencinya Ryn??" Ucap Lucas yang sedang bicara seorang diri.


BERSAMBUNG!!!


Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk Follow Author, Klik favorit, Vote dan Like!! Pliss ☺️ Dukungan kalian sangat berarti buat saya...

__ADS_1


IG Author : NessaCimolin


__ADS_2