
Ryn membungkukkan badannya, dia melepas jas hujan yang membungkus tubuhnya selama dirinya memandikan Suri. Gadis bermata biru itu menatap kedua mata Suri dalam-dalam.
"Apa aku harus memberitahu mu??"
"Memberitahu apa?" Tanya Suri pelan.
Dengan wajah yang tegang, Ryn mengambil segelas air dari meja yang berada di dalam kamar Suri. Gadis cantik itu menyiratkan sepercik air ke lengannya, tak berapa lama kemudian kulit Ryn mengeluarkan kepulan asap putih, kulit itu melepuh diikuti dengan ekspresi wajah Ryn yang kesakitan.
"Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan Ryn!!" Suri merampas segelas air itu, dan menatap Ryn penuh khawatir. "Apa itu sakit? Aku akan memanggil Ayah"
"Tidak, jangan lakukan itu!" Ryn menutup bibir Suri dengan jari telunjuknya. "Sebenarnya, aku mengidap suatu penyakit. Dimana aku tidak bisa terkena sembarang air"
"Tapi, kau bilang! Kau yang menyelamatkan aku saat aku tenggelam di dalam laut"
"Air laut tidak berpengaruh untukku" jawab Ryn bohong, karena hanya hal itulah yang mampu ia lakukan saat ini untuk menutupi identitasnya. Statusnya yang menjadi Tribrid, membuat dirinya tidak bisa menyentuh air tawar ataupun air asin, jika dia tenggelam pada sebuah kolam berisikan air yang mampu membuat seluruh tubuhnya terendam, maka dia akan berubah menjadi seekor duyung.
Setengah membungkuk, Suri meletakkan gelas itu ke atas lantai. Kedua jemarinya yang mungil mengusap lengan Ryn yang melepuh. Gadis kecil itu juga dengan telaten meniupi luka Ryn yang samar-samar hampir menghilang.
"Maafkan aku Ryn..."
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu meminta maaf" jawab Ryn lalu mengusap kepala anak asuhnya itu dengan begitu lembut. "Sekarang aku akan memilihkan baju yang cantik untuk seorang anak yang cantik sepertimu"
"Mulai sekarang, aku akan menjadi pengawasmu! Aku tidak akan membiarkan Ayah memintamu keluar di saat hujan, atau memintamu untuk mencuci piring dan hal lainnya yang berhubungan dengan air"
Gadis kecil yang cerewet, begitulah Ryn memandang Suri. Anak itu suka sekali mengoceh selayaknya orang dewasa, dia tidak seharusnya memiliki tutur kata yang baik seperti orang dewasa. Mungkin inilah perbedaan seorang anak yang dibesarkan dikeluarga kaya raya.
"Mmm... Tapi, bagaimana dengan minum?" Raut wajah penuh kebingungan terpancar jelas dari mimik muka Suri. "Apa kau juga tidak boleh minum?"
"Hahaha, itu konyol!" Ryn menggeleng pelan. "Tentu saja hal itu tidak berpengaruh dengan aktivitas ku minum"
__ADS_1
"Uh, oke-baik!" Suri memberikan jempolnya pada Ryn. Gadis bermata biru itu terkejut mendengar Suri yang menirukan kalimatnya, bukankah Suri sendiri yang bilang bahwa kalimat itu terdengar aneh, namun sekarang justru dia yang mengucapkannya.
"Wah, Oke-baik yaa??" Ledek Ryn menirukan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Suri.
__________________________________________
Malam itu, setelah Ryn menidurkan Suri. Tenggorokannya terasa begitu kering karena terus-menerus menceritakan dongeng putri duyung, meskipun Lucas sudah melarangnya. Namun Suri lebih senang mendengar kisah itu dari Ryn, begitu juga dengan Ryn, dia tidak keberatan menceritakan dongeng tersebut, mengingat dirinya lah putri duyung dalam dongeng itu.
Semua lampu telah padam, hanya ada sedikit pantulan cahaya dari air kolam renang belakang rumah tersebut. Ryn dengan hati-hati berjalan pelan menuju dapur, untuk mengisi teko air kamar Suri yang telah kosong. Sekilas dia nampak tergiur untuk berenang di kolam renang tersebut, tapi Ryn mengurungkan niatnya demi menghindari resiko.
Tap!
Tap!
Tap!
Tubuh Ryn tersentak kaget ketika mendengar suara sepatu yang menapaki lantai rumah tersebut semakin mendekat, gadis cantik itu lantas memilih untuk bersembunyi dan memperhatikan dari jauh. Rupanya itu adalah Lucas, dia pulang sangat larut malam hari ini. Pantas saja! Ryn tak melihatnya sama sekali, dia hanya bertemu Lucas sekali hari itu, itupun pagi-pagi sekali.
"Kenapa kau diam dan bersembunyi disana?"
Kedua mata Ryn mendelik, gadis itu tidak menyangka bahwa Lucas akan menyadari keberadaan dirinya di tempat itu. Perlahan Ryn memberanikan diri untuk berdiri sembari membawa teko yang telah terisi penuh dengan air.
"B-bagaimana tuan bisa tahu??"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu, kau cukup memanggilku Lucas" Pria itu menoleh menatap gadis cantik yang menundukkan wajahnya.
"Disana!" Lucas menunjuk oven besar di dapurnya, tepat dimana Ryn berdiri saat ini. "Aku bisa melihatmu dari pantulan kaca oven itu"
Ryn menengok ke belakang, kedua pipinya bersemu merah. Dia merasa malu karena sudah bertindak bodoh dan malah mengamati Lucas dari jauh, kalau begini kan sama saja dengan membenarkan kalimat Lucas, yang menuduh Ryn menyukai dirinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukannya" Ryn menunjukkan teko air yang ia bawa. "Aku kesini untuk mengisi ulang air minum di dalam kamar Suri"
Lucas diam saja menatap Ryn, merasa ada kecanggungan diantara keduanya, Ryn memilih untuk pamit pergi. Gadis itu menghirup nafas dalam-dalam sebelum pada akhirnya menahan nafasnya ketika melewati Lucas yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Cih!" Lucas membuang muka dengan kesal. "Kau akan mati jika menahan nafas seperti itu, aku tahu aku memang baru saja pulang dan belum sempat untuk mandi. Tapi tidak perlu berlebihan seperti itu kan??"
Bagaimana dia bisa tahu kalau aku menahan nafas? - Ryn.
"Ti-ti-tidak tuan, maksudku! Tidak, ini bukan karena kau belum mandi" sahut Ryn cepat, gadis itu melangkah lagi untuk membuat jarak. "Maafkan aku, aku hanya tidak menyukai bau mu"
"Iya, itu karena aku belum mandi"
"Meskipun...." Sejenak Ryn terdiam, dia menggigit bibir bawahnya sekali lagi dan terpaksa harus mengutarakan sebuah kebohongan. "Meskipun kau sudah mandi sekalipun, aku tetap tidak menyukai bau yang kau timbulkan"
"Apa??" Kedua mata Lucas membulat, beraninya gadis itu menghina dirinya secara terang-terangan. "Kau!!"
"Tolong maafkan aku...."
Ryn mengatakannya dengan begitu lembut dan sopan, gadis cantik itu segera pergi meninggalkan Lucas dan menuju kamar Suri. Sejujurnya dia sangat menyukai aroma tubuh pria itu, tapi dia harus melawannya agar tidak ada hal buruk yang menimpa dirinya di masa mendatang.
Baumu sangat enak, tapi aku tidak mungkin mengatakannya kan? - Ryn.
Di dalam kamarnya, Lucas segera mengunci pintu kamar dan melepas seluruh pakaiannya. Pria itu berjalan menuju kamar mandi dan menuang dua botol sabun cair sekaligus ke dalam bak mandinya, sebelum Lucas berendam dengan cairan sabun itu, dia mencium aroma sabun yang sangat wangi menusuk kedua lubang hidungnya.
"Gadis itu benar-benar gila!" Gerutu Lucas kesal. "Apa dia tidak suka aroma seperti ini?"
Apa aku perlu mengganti merek sabun mandiku ya? - Lucas.
BERSAMBUNG!!!
__ADS_1
Halo terima kasih sudah membaca, jangan lupa tekan tombol Like, Favorit, berikan komentar dan Vote Author agar semakin semangat menulisnya. Tanpa dukungan kalian, Author bukanlah apa-apa 😁🙏
IG Author : NessaCimolin