
Matahari sudah menyingsing tinggi, namun sinarnya tak mampu menembus kaca tebal yang tertutup dengan gorden di baliknya. Ini sudah sangat siang untuk Wanita yang hanya berstatus pegawai di sebuah perkantoran.
Kedua matanya mengerjap, ia merasakan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Tanpa sadar, kedua tangan Wanita itu memegangi kepalanya yang semakin terasa berat.
Masih belum mengetahui kondisinya, wanita itu mengambil sebuah ponsel yang sengaja ia matikan semalam. Wanita itu menyalakannya dan melihat ke layar ponsel, kedua kakinya turun dari atas ranjang, namun tiba-tiba rasa dingin dari pendingin ruangan menyerang kulitnya yang tak terbalut sehelai benang pun.
"A-apa??" Kedua mata wanita itu mendelik kaget mendapati tubuhnya yang kini telanjang bulat.
SRUKK!!
Wanita itu jatuh duduk ditempatnya berdiri, kedua kakinya terlihat gemetaran mengingat semua yang telah ia lakukan semalam. Tangannya mengepal erat, berusaha menahan gejolak emosi yang tiba-tiba menyeruak muncul dari dalam hatinya.
Apa yang aku lakukan semalam? Apa yang sudah terjadi? - Wendy.
Di depan Wanita itu, seluruh pakaian yang ia kenakan semalam berserakan, bahkan isi tas branded milik Wendy juga ikut berhamburan keluar. Dompet wanita itu tergeletak tak jauh dari tempat tasnya, terlihat beberapa kartu nama ikut keluar dari dalam dompetnya.
"Ck! Sialan!!" Umpat Wendy lirih. Kini alisnya saling tertaut satu sama lain setelah ia berhasil mengingat semuanya.
👉FLASHBACK MALAM ITU👈
Malam yang cerah menemani kedua manusia yang memiliki hubungan di masa lalu. Bintang terlihat dengan jelas di langit malam itu, ini sudah sangat larut bagi seorang Wanita baik-baik berkeliaran di malam hari, namun sepertinya larangan itu tidak berlaku bagi Wendy.
Wendy yang sedang mengagumi mantan kekasihnya itu sepertinya dibuat jatuh cinta lagi oleh Gabriel, Wendy sangat menyesal karena dulu meninggalkan Gabriel dengan alasan status pria itu yang miskin.
Beruntung, Nora tidak memberitahu Gabriel jika sebenarnya Wendy sudah memiliki kekasih kaya raya. Bagi Wendy, mau Lucas ataupun Gabriel dia tidak akan bingung memilih, karena kini keduanya sama-sama memiliki masa depan yang terjamin.
"Hahahaha" Gabriel tertawa mengingat masa-masa indah dirinya dulu bersama Wendy, pria itu juga menceritakan beberapa hal yang ia ingat semasa pacaran.
"Benar kan??" Wendy tertawa riang. "Kau sampai rela mencuri uang sekolah, untuk membelikan aku Cokelat saat Valentine"
"Yah... Waktu itu aku benar-benar dibutakan oleh cintamu Wen" ujar Gabriel, dia menghela nafas panjang. Mengingat betapa bodohnya dia dulu mencintai wanita seperti Wendy, yang hanya ingin diberi tapi tidak mau memberi.
"Uhm... Kau mau minum sesuatu?" Gabriel menunjuk ke arah food truck yang tak jauh dari tempat mereka. "Kebetulan, aku ingin beli kopi"
"Kalau begitu aku juga pesan kopi, dengan sedikit gula" pinta Wendy dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.
__ADS_1
Gabriel tersenyum. "Kau masih sama cantiknya seperti dulu"
👉FLASHBACK END👈
"Sialan! Apa yang si brengs*k itu campurkan pada kopi ku?"
Wendy buru-buru berdiri dari duduknya, dia mengambil dompetnya dan mengecek isi di dalamnya. Sesuai dugaanya, semua uang cash miliknya telah di curi oleh Gabriel, bahkan kartu ATM miliknya sengaja di rusak oleh pria itu.
Wanita itu mencoba mengambil nafas dalam-dalam dan duduk di atas ranjang, ia berusaha menenangkan diri dengan apa yang sudah menimpa dirinya. Wendy mengecek ponsel miliknya yang sudah menyala, banyak sekali panggilan dari Lucas yang berhasil membuat matanya membulat lebar.
Ya Tuhan.... - Wendy.
Entah mengapa? Rasa takut menghampiri wanita itu, dia benar-benar merasa tidak habis pikir bisa menghabiskan malamnya dengan Gabriel yang tiba-tiba pergi meninggalkan nya begitu saja. Kini Wendy sadar, Gabriel hanya ingin balas dendam terhadapnya.
"Apa yang harus aku katakan pada Lucas?" Wendy menggigit ujung jarinya sendiri. "Alasan apa yang harus aku katakan untuk ijin tidak bekerja hari ini?"
Benar! Wendy hanyalah salah satu dari ratusan pegawai di kantor perusahaan milik Lucas, dia beruntung karena bisa berpacaran dengan Lucas, meskipun tak mudah untuk menaklukkan pria seperti itu. Walaupun dia pacar Lucas, namun Lucas sangat membedakan dimana waktu bekerja dan dimana waktu untuk bersantai, dia tidak pernah memberi kelonggaran pada Wendy jika itu menyangkut pekerjaan.
PRAK!!!
"Yang sudah terjadi, biarlah terjadi!"
______________________________________
Di meja makan, Lucas terus menatap layar ponselnya. Pria itu terlihat sedang menunggu sebuah jawaban dari seseorang, siapa lagi kalau bukan Wendy! Lucas tak punya banyak teman, hanya Wendy yang dekat dengannya selama ini.
"Ayah?" Panggil Suri pelan disusul dengan Ryn yang juga ikut menatap Lucas.
"AYAH!!!" Teriak Suri kencang, Lucas yang terkejut segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jas yang ia kenakan, dia menatap ke arah Suri dan Ryn secara bergantian.
"Ada apa Suri?"
"Ayah sedang apa? Kenapa tidak makan?" Suri mulai terlihat murung dengan sikap Ayahnya yang aneh. "Apa ayah sedang sedih, kenapa muka Ayah seperti itu?"
Lucas menarik nafas panjang dan menghembuskan nya. "Tidak, Ayah tidak sedih" jawab Lucas sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bohong!" Ceplos Ryn, gadis bermata biru itu lantas segera memukul bibirnya sendiri pelan. "Ah! Ma-maafkan aku..."
Gara-gara melihat matanya yang sedang berbohong, aku jadi mengatakan apa yang aku lihat dengan begitu saja! Dasar mulut ini - Ryn.
Lucas mendorong kursinya ke belakang, ia lantas segera berdiri dan menghampiri Suri. "Bagaimana? Apa kau sudah siap untuk berangkat ke sekolah?"
"Iya Ayah... Aku sudah siap"
Dengan perlahan, Ryn mendorong kursi roda Suri. Gadis itu berjalan pelan di belakang Lucas, ia sama sekali tak berani memandang pria di depannya itu gara-gara ucapannya tadi.
"Aku pergi sekolah dulu ya Ryn?! Tunggu aku sampai aku pulang" pinta Suri dengan nada penuh perintah.
"Oke, baik! Aku akan menunggumu yang mulia" jawab Ryn dengan tawanya.
Tanpa sepengetahuan Ryn, rupanya Lucas tersenyum tipis melihat interaksi antara Ryn dan Suri, pria itu segera masuk ke dalam mobilnya tanpa mengatakan apapun pada Ryn.
Di dalam mobil, Suri terus melambaikan tangannya pada Ryn yang masih berdiri di depan pintu rumah mereka. "Wah, dasar! Ryn itu sungguh diluar dugaan"
"Apa maksudmu?" Lucas memandang putrinya sekilas.
"Yahh... Aku pikir Ryn tidak akan semenyenangkan ini" Suri tersenyum mengingat wajah Ryn yang cantik. "Tapi ternyata dia super super menyenangkan"
"Begitu ya? Baguslah kalau kau cocok dengannya..."
Suri melirik ke arah Lucas, lalu dia beralih memandang jalanan di depannya. "Lalu, apa Ayah juga cocok dengan Ryn?? Apa Ayah menyukainya?"
CCKKIIITTTT!!!! (Suara rem mobil)
Lucas menoleh menatap putrinya yang malah senyum-senyum kegirangan. "A-apa??"
BERSAMBUNG!!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa klik Like, Favorit, Vote dan beri komentar. Love you!! ♥️🙏
IG Author : NessaCimolin
__ADS_1