
Ryn menyentuh gagang pintu, ia mencoba membuka pintu tersebut namun sayang pintu itu dikunci dari dalam.
"Ya Tuhan, bagaimana kalau dia mati gara-gara kebanyakan minum Jus rumput itu?!"
Brak!
Brak!
"LUCASS!!!" Teriak Ryn kencang.
Wajah cantik Ryn terlihat khawatir, gadis mungil itu memundurkan langkah kakinya dua langkah, Ryn celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Kedua tangan duyung cantik itu sedikit terbentang, bibirnya terlihat bergumam-gumam merapal kan sebuah mantra. Benar saja! Setelah ia selesai, dari pintu kamar Lucas terdengar suara kunci yang terbuka.
Wah, sudah lama sekali aku tidak menggunakan sihir! Ternyata kekuatanku masih berfungsi dengan baik - Ryn.
Ryn memutar gagang pintu, ia membuka pintu kamar Lucas dengan hati-hati. Gadis cantik itu melangkah masuk, seperti pintu orang kaya kebanyakan, pintu kamar Lucas pun otomatis tertutup sendiri saat Ryn telah masuk.
Kedua mata Ryn membulat lebar, jantung gadis itu berdegup kencang ketika melihat Lucas, si pria aneh menurut nya itu terlentang tak sadarkan diri di atas ranjang. Kedua kaki Ryn bergerak cepat, karena ranjangnya yang besar, Ryn lantas melepas sandal yang ia kenakan dan naik hingga ke tengah ranjang, dimana Lucas tak sadarkan diri.
"Ya Tuhan! Dugaanku benar, dia meninggal karena minuman itu"
Ryn menyentuh kedua pipi Lucas, gadis cantik itu mencoba menepuk-nepuk wajah Lucas dengan cukup keras. Bingung dan panik menjadi satu, Ryn masih merasakan udara di kedua hidung Lucas, ada satu ide yang terlintas. Duyung cantik itu membuntu hidung Lucas sehingga pria itu akan kesulitan bernafas.
Benar saja! Perlahan tapi pasti, kedua mata Lucas mengerjap, pria tampan itu memicingkan kedua matanya memandang sosok gadis cantik yang menatapnya penuh khawatir.
Ryn? - Lucas.
"Eh, eh... Tu-tunggu!" Ryn panik ketika Lucas menyentuh kedua pergelangan tangannya.
SYUT!!!
Dengan sekali tarikan, posisi mereka berpindah. Kini Ryn yang tidur terlentang di atas ranjang dengan kedua tangannya yang dipegang erat oleh Lucas, pria tampan itu tersenyum senang melihat Ryn ada di dalam kamarnya. Lucas mendekatkan wajahnya pada Ryn, membuat Ryn tersipu malu namun tak bisa berkata apa-apa.
"Dress ini cocok untukmu, kau terlihat cantik dengan warna-warna yang lembut" bisik Lucas di telinga kiri Ryn.
D-dia... Apa yang terjadi? - Ryn.
Tahu, apa yang akan dilakukan pria sinting itu. Ryn lantas memberontak, salah satu kaki Ryn menendang bagian bawah Lucas. Pria tampan itu memekik kesakitan dan jatuh menimpa tubuh mungil Ryn. Setelah sadar, buru-buru Lucas berguling menjauhi Ryn.
Astaga! Ini nyata? Aku pikir mimpi - Lucas.
__ADS_1
"HEI, HEI, kenapa kau ada di kamarku?!" Lucas memaki Ryn yang sibuk membenarkan pakaiannya. Pria itu mencopot benda bulat kecil dari kedua telinganya. "Bukankah aku sudah bilang, siapapun dilarang masuk kecuali Nany dan Suri!"
"Kau sendiri kenapa pura-pura mati seperti itu?! Aku hampir saja terkena serangan jantung saat melihatmu tak sadarkan diri"
"APA?!" Lucas berteriak. "Siapa yang pura-pura mati, aku sedang tidur tahu!"
"Dari tadi aku memanggil mu, ada Wendy di bawah! Aku mengetuk pintu kamarmu berulang kali, bahkan aku sampai berteriak!! Ku pikir kau mati gara-gara terlalu banyak makan Jus rumput, jadinya aku langsung masuk saja untuk memastikan"
Ryn mengkhawatirkan aku? - Lucas.
Lucas mengulurkan tangan kanannya, ia menunjukkan pada Ryn sebuah benda kecil bular berwarna hitam dengan sedikit lampu kecil yang bercahaya biru.
"Aku memasang ini di telingaku, itu sebabnya aku tidak mendengar kau memanggilku. Maafkan aku"
"Apa itu?"
"Hah?! Mana mungkin kau tidak tahu!" Maki Lucas ketus. "Ini earphone bluetooth, kau bisa mendengar musik dari sini"
Ryn menatap benda kecil yang lebih kecil dari kelereng itu. "Setahuku, earphone itu yang besar begini" kata Ryn sambil menyentuh kedua telinganya, yang di maksud Ryn adalah headset.
"Cih! Itu teknologi jaman kapan?!" Ledek Lucas. Pria itu berdiri dari ranjangnya dan meletakkan kembali earphone yang ia kenakan, Lucas juga melihat ponselnya dan benar! Bahwa Wendy mengirimi dia beberapa pesan singkat pagi itu. "Kenapa aku tidak tahu ada pesan darinya?"
Teringat sesuatu, Lucas segera berbalik namun sayang Ryn telah pergi. "Hmm, bagaimana dia bisa membuka pintunya? Aku sangat yakin bahwa aku sudah mengunci pintunya"
_______________________________________
Suri memainkan beberapa bonekanya, gadis kecil itu sedang menunggu kedatangan Ryn. Hari ini, Ryn berjanji akan mengajak Suri untuk pergi jalan-jalan. Ia sangat tidak sabar menantikan aktivitas tersebut.
"Hai, Ryn! Bagaimana? Apa kita jadi pergi?" Tanya Suri ketika melihat Ryn memasuki kamarnya.
Ryn berjalan mendekati Suri, "Aku sih ingin, tapi Ayah mu sedang ada di bawah, apa kau yakin dia akan mengijinkan mu pergi?"
"Biasanya Ayah akan berada di dalam kamar selama liburan, kenapa ada dibawah?"
"Ada Wendy di bawah, dia sedang mencari ayahmu"
Suri memasang wajah cemberut, gadis kecil itu segera menekan tombol kursi rodanya dan mendekati Ryn. "Bawa aku pergi Ryn, aku semakin sesak jika ada Wendy di rumah ini"
Sebegitu bencinya Suri terhadap Wendy, ada yang bilang bahwa naluri seorang anak selalu benar! Anak kecil bisa merasakan, mana orang yang benar-benar sayang padanya dan mana orang yang sekedar berpura-pura.
__ADS_1
Karena kasihan, Ryn menuruti permintaan Suri. Gadis itu tertawa riang dan membawa Suri untuk turun ke bawah, entah sejak kapan? Ryn baru menyadari bahwa ia sedang tidak mengenakan alas kaki. Sandal nya tertinggal di kamar Lucas, sedangkan Lucas pasti sudah turun untuk menemui Wendy.
"Hei, Apa kau punya sandal tambahan di rumah ini?"
Suri melihat kedua kaki polos Ryn. "Tentu, dimana sendal mu Ryn?"
"Aku meninggalkan nya di kamar Ayahmu" ujar Ryn seadanya.
"Wah-wah, kau memasuki kamar Ayah?" Gadis kecil itu tertawa sumringah. "Keren!!" Puji Suri sambil memberikan dua jempol mungilnya.
"Apanya yang keren?? Aku masuk kesana karena ada kesalahpahaman saja"
Tetap saja! Ini keren - Suri.
Mereka berdua telah sampai di bawah, Suri memasang wajah kurang menyenangkan. Anak sekecil itu sudah terbiasa melihat tingkah manja Wendy, Ryn yang melihatnya pun juga ikut menggeleng-gelengkan kepala. Bagaimana tidak? Wendy sekarang sedang merangkul lengan Lucas, ya memang benar! Dia berhak melakukannya karena pria itu adalah kekasihnya, tapi apakah tidak ada rasa malu sedikitpun untuk Wendy? Secara, Lucas tidak membalas pelukan Wendy, pria itu terlihat cuek saja sambil memainkan ponselnya.
"Ehem!" Ryn berdeham, tangan kanannya terkepal di depan bibir. "Maaf mengganggu"
Gadis bermata biru itu bisa melihat Lucas yang terkejut dan secara tidak langsung melepas tangan Wendy dari lengannya, tidak tahu kenapa? Tapi Ryn yakin sekarang Lucas sedang menggeser posisinya duduk, tingkahnya seperti pasangan yang kepergok selingkuh.
"Bolehkah aku mengajak Suri jalan-jalan?"
Lucas memperhatikan Suri, gadis kecil itu mengangguk-angguk dan mengatupkan kedua jemarinya, memohon untuk di ijinkan.
"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Lucas perhatian. "Apa perlu aku antar?"
"Itu tidak perlu, kami hanya akan jalan-jalan di sekitar pantai, lagi pula kalau kau mengantarku, bagaimana dengan nona Wendy?" Ryn melirik sinis ke arah Wendy. "Boleh ya?"
"Baiklah... Tapi jangan pulang terlalu sore"
Ryn dan Suri melakukan tos, mereka berdua saling melempar senyum. "Oh iya, dimana tempat penyimpanan sandal di rumah ini? Sandalku tertinggal di kamarmu"
Ponsel Wendy langsung terjatuh dari kedua tangannya ketika kedua telinganya mendengar kalimat Ryn, wanita itu lantas memandangi Lucas dari samping, kedua alis Wendy tertaut, dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya pada Ryn. Kedua tangan Wendy terkepal erat menahan emosi yang memenuhi kepalanya.
Di kamar Lucas? Kau tidak membiarkan aku masuk ke kamarmu, tapi membiarkan gadis gembel ini? - Wendy.
BERSAMBUNG!!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa klik Like, Komentar, Vote, Favorit dan Rating ya! Follow profil author juga ☺️🙏♥️
__ADS_1