
Sinar mentari yang begitu terik tak mematahkan semangat Suri untuk mencari Ryn, di sepanjang jalan selalu saja ada orang baik yang menawarkan bantuan kepada gadis kecil itu. Tapi, bukannya tidak ingin menerima bantuan. Hanya saja Suri tidak begitu menyukai jika semua orang memandang dirinya lemah, meskipun kedua kakinya tidak berfungsi, Suri tetaplah anak kecil yang kuat dan pintar.
"Fuh..." Suara hembusan nafas yang berat keluar dari bibir Suri, gadis kecil itu telah tiba di tempat pertama kalinya ia jatuh ke dalam air dan bertemu dengan Ryn.
Kedua mata Suri menyapu hamparan laut di depannya. Sepi... Tidak ada siapapun di tempat itu, tidak ada kapal berlabuh atau burung-burung yang biasa terbang diatas air. Suri menelan ludahnya sendiri, kedua tangannya membentuk bulatan kecil dan menempelkannya di bibir.
"RYN!!!" Teriak Suri sekuat tenaga. Betapa polosnya pikiran gadis kecil itu, dia tidak tahu makhluk apa Ryn sebenarnya tapi dengan sengaja dia malah mencari Ryn hingga ke tepi laut.
'Aku tahu kau tidak sama sepertiku' gumam Suri pelan, kedua tangannya mencengkram roda yang berada di kanan dan kiri. Suri mencoba untuk menurunkan kedua kakinya, kaki itu terasa begitu ringan meski dirinya sudah menyentuh papan kayu yang ia pijak, tetap saja Suri tidak merasakan apapun.
BRUK!!
Tubuh kecilnya jatuh ke atas papan kayu, Suri melihat ke arah kursi rodanya dan kini tengah berpikir, bagaimana caranya ia bisa kembali ke kursi tersebut. Gadis kecil itu menghela nafas sekali lagi, dia kembali menyeret tubuhnya untuk benar-benar menuju ujung papan itu.
"Ryn??" Ujar Suri sekali lagi. "Kau dimana? Aku benar-benar kesepian, kenapa kau pergi tanpa mengucapkan perpisahan?"
"Hari ini Wendy datang ke rumah, dia membuatku tidak nyaman. Aku tidak pernah menyukainya meski aku sudah mengenalnya selama tiga tahun" Imbuh Suri.
Tidak ada jawaban yang muncul, tanda-tanda keberadaan Ryn pun juga tidak ada di tempat itu. Kecewa? Tentu saja Suri kecewa, dengan susah payah dia menarik tubuhnya untuk kembali ke arah benda beroda itu lagi. Gadis kecil itu hanya berdiri diam disana, berharap ada seseorang yang melintas agar bisa membantunya naik kembali ke kursi roda.
Apa aku melompat saja?! Tapi bagaimana jika aku mati? - Suri.
Sudah tiga puluh menit Suri menunggu, tidak ada seorangpun yang melintasi tempat itu. Di waktu yang bersamaan, Ryn datang menuju tempat itu. Duyung cantik itu kini sudah berada tepat di bawah papan kayu tersebut, tatapannya kosong sambil terus mendengar ocehan Suri yang kebingungan menaiki kursi rodanya.
Sirip ini butuh waktu untuk berubah menjadi kaki - Ryn.
Beberapa kali kedua telinganya mendengar suara gaduh dari atas papan kayu, sepertinya Suri sedang mencoba untuk naik ke kursi rodanya seorang diri, namun gagal. Tanpa disadari, senyuman kecil terukir di bibir manis milik Ryn.
Tap!
Tap!
Tap!
"Perlu bantuan?" Kedua mata Suri menatap kaki putih mulus yang tak mengenakan alas kaki di depannya. Mata itu terus menatap hingga dia tahu bahwa seseorang yang berada di depannya adalah Ryn, yang kini tengah mengulurkan kedua tangannya pada Suri.
"Ryn??"
__ADS_1
"Ya, ini aku!" Ucapnya sambil tersenyum tulus, kedua tangannya meraih tubuh Suri dan menggendongnya. Dengan hati-hati Ryn mendudukkan gadis kecil itu ke kursi rodanya. "Kenapa kau bisa berada di tempat seperti ini sendirian?"
"Aku mencarimu"
"Mencariku??" Ryn terkejut. "Kenapa?"
"Sebenarnya kau ini temanku atau bukan? Kenapa kau pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahuku?"
Suri kecil marah, gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus menatap tajam pada Ryn. Bukannya menjawab Ryn malah mendorong kursi roda milik Suri agar menjauh dari tempat tersebut, dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.
"Apa kau marah?"
Suri semakin cemberut mendengar pertanyaan dari Ryn. "Tentu saja!"
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk pergi begitu saja! Aku hanya tidak sempat mengucapkan perpisahan"
"Apa sekarang kau akan mengucapkannya?" Suara Suri terdengar lemah. "Bagaimana jika aku memintamu untuk tidak mengucapkan kalimat itu?"
"Suri..." Ryn menghentikan kedua langkah kakinya.
Buru-buru Suri meraih tangan kanan Ryn dan membuat tangan itu menyentuh kepalanya, Suri tersenyum begitu manis ketika melihat Ryn yang terdiam kaget. "Jika kau menyukaiku katakan saja, jangan pernah menahan rasa itu"
"Apa yang....."
"Ryn, aku menyukaimu" ucap Suri pelan. "Aku ingin terus bersama dengan Ryn"
"Me-nyu-kai ku???"
Suri mengangguk mantap. "Benar! Aku tidak pernah menyukai seseorang sebelum ini kecuali Nany, dia asisten rumah tangga di rumah kami"
"Apa definisi menyukai menurutmu?"
"Hmmm..." Suri menyentuh pipi kirinya, dia terlihat sangat imut ketika melakukannya. "Aku tidak tahu, tapi yang pasti kau adalah orang baik. Maka dari itu aku menyukaimu"
Ryn menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa berat, kedua matanya tertutup rapat. Gadis itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengusir rasa sakit yang menyerang kepalanya.
"A-apa yang terjadi Ryn? Kau baik-baik saja?" Suri meraih kedua tangan Ryn dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"A--aku, aku baik-baik saja"
Wajah Suri tetap saja terlihat khawatir, ia semakin yakin bahwa Ryn memiliki banyak rahasia yang sedang ia coba untuk sembunyikan. Atau bahkan mungkin, Ryn memiliki suatu kejadian pahit yang sedang ia coba untuk sembuhkan.
"Ryn" panggil Suri lirih, disusul dengan tatapan Ryn yang memenuhi panggilannya. "A--aku, aku tidak tahu apa yang akan aku katakan, tapi apa kah kau korban pemerkosaan?! Aku tidak tahu apa itu arti dari pemerkosaan, tapi suatu hari aku menonton televisi dan korban pemerkosaan perlu datang ke tempat yang dinamakan psikiater"
"Astaga! Sebenarnya berapa usiamu? Kau tak sepantasnya melihat acara seperti itu" pungkas Ryn, dia mencubit kedua pipi Suri dengan gemas lalu meneruskan perjalanannya. "Sekarang, aku akan mengantarmu pulang"
"Aku tidak ingin pulang, di rumah sedang ada Wendy"
"Wendy??"
________________________________________
"Wendy?" Lucas menjentikkan jemarinya untuk memanggil seorang gadis manis yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya. "Kemarilah, apa yang sedang kau lihat?"
Wendy memajukan bibirnya beberapa senti, gadis itu lantas melompat ke dekat pria yang sudah ia pacari selama tiga tahun itu. Tanpa ragu, dia menyerahkan ponselnya pada Lucas. Sebuah tas berwarna biru dongker terpampang jelas di depan layar kaca ponsel gadis itu, berikut dengan harganya yang tak bisa dibilang murah.
"Aku ingin membelinya, tapi meskipun aku bekerja selama enam bulan. Gajiku tidak akan pernah cukup untuk membelinya" Wendy segera merebut ponselnya kembali dari tangan Lucas, gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu Lucas lalu mematikan layar ponselnya.
"Apa kau sangat menginginkan nya?"
Setengah melirik ke arah Lucas, Wendy meraih jemari Lucas lalu mengusapnya. Gadis itu tak menjawab pertanyaan dari pria disampingnya, ia malah menunjukkan reaksi malu-malu.
"Kau bisa membelinya tanpa harus menabung selama enam bulan" ujar Lucas santai. "Berikan kode pembayarannya padaku, dan aku akan melunasinya"
"A--apa?!" Wendy terkejut, dia menengadahkan kepalanya pada Lucas. Tak bisa dipungkiri bahwa dia saat ini sangat bahagia. "Kau tidak perlu melakukannya sayang"
"Tidak apa-apa, jika kau menginginkan sesuatu jangan sungkan-sungkan"
Dengan wajah yang penuh senyuman, Lucas meraih tengkuk leher Wendy. Dia mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan mencium keningnya.
"Terima kasih" ucap Wendy dengan pipi yang bersemu merah. "Aku sangat senang"
BERSAMBUNG!!!
Halo terima kasih sudah membaca, jangan lupa tekan tombol Like, berikan komentar dan Vote Author agar semakin semangat menulisnya. Tanpa dukungan kalian, Author bukanlah apa-apa 😁🙏
__ADS_1