
Langit tampak sangat gelap, bulan maupun bintang bahkan sama sekali tak terlihat.
Hembusan angin yang cukup kencang terasa seolah akan menerbangkan semua yang ada di sekitar Nadia yang kini berdiri di depan sebuah danau.
Ya...
Danau yang airnya tampak beriak-riak pelan.
Nadia berdiri dengan kakinya yang tanpa alas di atas tanah basah yang lembab.
Rumput liar yang tumbuh nyaris setinggi dirinya, semak belukar yang terlihat mengitari seluruh sisi kanan kiri danau.
Hutan lebat nan gelap dan penuh suara binatang malam.
Nadia tubuhnya bergetar hebat berada di tengah alam yang kini begitu mengerikan baginya.
Angin berhembus kembali, hembusannya kencang melewati Nadia.
Gemerisik dedaunan kering di pohon-pohon yang tumbuh tak jauh dari Nadia berdiri kembali menambah tubuh Nadia bergetar.
Terlebih saat Nadia menatap riak air danau di depannya yang kini semakin jelas, yang di mana kemudian terlihat ular yang sangat banyak keluar dari danau itu.
Ular-ular itu merayap naik, mereka kemudian seperti menuju Nadia berdiri.
Nadia ketakutan setengah mati, ia sampai terjatuh lemas di atas tanah, namun melihat ular-ular itu semakin mendekat, Nadia pun cepat berusaha berdiri dan bersiap lari.
Tapi malang Nadia justeru jatuh tersandung dan akhirnya terjerembab kembali ke atas tanah.
Ular-ular itu terus merayap mendekat, Mata kepala Nadia terbelalak melihat ular-ular yang jumlahnya ribuan itu terus keluar dari dalam danau.
Ribuan ular itu mendesis, tampak kilat mata mereka yang merah menatap Nadia.
Nadia terus beringsut dengan sisa tenaganya, mundur berusaha menghindari ular-ular yang semakin dekat dan akhirnya berhasil menyentuh kakinya, dan mulai merayap naik.
Satu ular, dua ular, tiga ular, sampai akhirnya puluhan ular merayap ke tubuh Nadia.
Nadia menjerit sekuat tenaga...
"Aaaaaaa... Tidaaaak... Tidaaaaaaaaak!!!!"
Nadia menjerit seraya berusaha menendang dan mengibaskan tangannya agar ular-ular itu terlepas.
Dan...
"Sayang... Sayang... Bangunlah."
Alex menepuk pipi Nadia dengan lembut.
Tepukan tangan Alex di pipi Nadia disertai suaranya yang memanggil nama Nadia akhirnya berhasil membangunkan Nadia dari mimpi buruknya.
Nadia membuka matanya dan begitu melihat Alex di dekatnya Nadia pun langsung bangun dan memeluk Alex dengan erat.
"Ular... Aku melihat ribuan ular Lex..."
Nadia ketakutan.
Tubuhnya bergetar, suaranya juga.
Alex membalas pelukan Nadia agar kekasih sekaligus calon isteri nya itu tenang.
"Sudahlah aku di sini, tidak akan ada apa-apa."
Ujar Alex.
Nadia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Alex.
Sebuah kalung berliontin ular dengan mata merah yang dipakai Alex menyala, namun Nadia tak merasakannya.
Ia terlalu takut untuk memperhatikan sekitarnya, ia hanya terlihat menangis saja di dada Alex sambil memejamkan matanya.
"Kenapa aku mimpi begitu seram, aku takut, aku takut seperti dulu, aku takut."
__ADS_1
Nadia seperti ingat masa lalunya yang mengerikan lagi.
Ia sangat takut hal itu kembali terulang, ia sangat takut.
Alex mengelus kepala Nadia.
"Tidak sayang, tak akan ada siluman berani mengganggumu lagi, tenanglah."
Kata Alex menghibur.
Nadia mengeratkan pelukannya.
"Tetaplah di sini Lex, aku tak mau ditinggal sendiri."
Pinta Nadia.
Alex tersenyum, lalu mencium puncak kepala Nadia.
"Ya, aku akan tetap di sini, menjagamu hingga pagi, tenanglah."
Kata Alex.
Alex menatap kaca besar jendela apartemen yang tak jauh di depannya.
Tampak kini pantulan bayangan ular besar di sana.
Ular yang menaungi Alex.
**------------------**
"Aku pulang Put."
Arya pamit pada Putri.
Ya, gadis yang ditolong Arya bernama Putri.
Rumahnya ternyata tak jauh dari komplek perumahan di mana Zion tinggal.
Putri mengantar Arya hingga jalan depan gang menuju rumahnya.
"Terimakasih Bang, terimakasih."
Kata Putri.
Arya tersenyum.
"Hati-hati di rumah sendirian. Besok jam berapa ke Rumah Sakit lagi?"
Tanya Arya.
"Gantian dengan Kakak, mungkin jam sepuluh pagi."
Kata Putri.
Arya mengangguk mengerti.
Arya kemudian menuju mobilnya, dan masuk ke dalam mobil.
Putri tersenyum lagi begitu Arya menyalakan mesin mobilnya dan membawa mobilnya mulai menjauh.
Dan tak butuh waktu lama untuk akhirnya sampai di rumah Zion dari rumah Putri, Arya memasuki halaman rumah Zion.
Pelahan Arya turun dari mobil, ia tak jadi beli kebab, dan untungnya tadi di rumah Putri ia sempat disuguh segelas wedang teh manis hangat dan satu piring pisang goreng dan tahu isi yang hangat yang sengaja Putri belikan dari tetangga dekat rumahnya yang kebetulan jualan lauk.
"Kak Arya, baru pulang?"
Mbak Ning menyapa.
Perempuan itu sedang sibuk membereskan lauk di meja makan, sepertinya Tuan Zion baru saja santap malam di sana.
Arya tadi melihat mobil Zion dan beberapa pengawal nya sudah terparkir di depan.
__ADS_1
"Habis mampir ke rumah teman Bi."
Kata Arya.
Mbak Ning mengangguk.
"Mau makan Kak Arya?"
Mbak Ning menawari.
Arya cepat menggeleng.
"Tadi sudah makan Bi, saya mau bebenah saja karena Paman Dimas bilang lusa kita sudah harus pindah."
Ujar Arya.
Lesti terlihat muncul dari dapur untuk membantu Mbak Ning membawakan piring sisa lauk.
Arya membungkuk memberi salam, lalu pamit menuju anak tangga rumah untuk naik ke lantai atas.
Mbak Ning menghela nafas, ia menatap kasihan pada Arya.
Tapi...
Apa yang bisa dia lakukan?
Urusan perasaan anak muda adalah urusan mereka sendiri.
Lagipula pilihan Nona Zizi tentu adalah mutlak menjadi hak Nona Zizi sendiri, siapa yang bisa menyalahkan itu?
Dan lagi, bisa jadi memang begitulah cara bekerja sebuah takdir.
Jodoh sudah di tentukan dan mau bagaimana lagi?
Arya berjalan menuju lantai atas dan langsung menuju kamarnya.
Sampai di kamar ia menurunkan koper pakaiannya dari atas lemari pakaian, di letakkan di atas tempat tidur dan mulai membuka lemari untuk mengeluarkan pakaian-pakaian miliknya.
Arya tersenyum, senyuman yang seperti menertawakan kebodohannya karena terlalu berharap kisah cintanya akan seperti Tuan Zion dan Bibi Zia.
Ah yah tentu saja itu mustahil, Tuan Zion tetap bisa mempertahankan hubungannya dengan Bibi Zia karena Tuan Zion terlalu banyak kelebihan yang tak mungkin bisa ditolak perempuan manapun.
Sementara Arya?
Arya memindahkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper pertama, setelah koper pertama penuh, Arya pun menurunkan koper pakaian keduanya.
Arya tampak kembali sibuk memindahkan sisa pakaian yang ada di dalam lemari hingga tak ada satupun yang tertinggal lagi, termasuk juga kemudian jam tangan dan sepatu yang Arya masukkan ke dalam tas yang berbeda.
Setelah semua selesai, Arya tampak duduk di tepi tempat tidur.
Nafasnya sedikit terengah-engah karena kesibukannya barusan.
Hingga matanya tampa sengaja melihat tumpukan buku-buku lamanya semasa kecil di rak buku di kamarnya itu.
Kamar yang sejak saat Arya masih kecil tempati.
Arya bangkit dari duduknya, dan kemudian berjalan menuju rak tersebut.
Arya terlihat mengambil salah satu buku gambar yang ada di sana.
Arya membuka selembar demi selembar buku gambar yang penuh gambar Arya dan Zizi saat kecil.
Hingga ada gambar Arya menjadi polisi dan juga gambar Zizi.
Arya tersenyum lagi...
Senyuman yang getir.
Aku hari ini sudah jadi polisi Zi. Tapi cita-citamu ternyata berubah. Batin Arya.
**-------------**
__ADS_1