Zizi

Zizi
79. Tersesat


__ADS_3

Mandi sudah, makan sudah, seharusnya tinggal tidur. Tapi berhubung di sana tak ada penginapan, pun juga jika harus ke kota jaraknya lumayan jauh, walhasil Zizi memutuskan untuk meneruskan perjalanan saja.


"Ngga lelah Zi?"


"Tidur di alam gaib saja."


Kata Zizi santai.


Sekarang masuk alam gaib macam keluar kota saja buat Zizi, yang membedakan hanya susah kalau mau makan.


Zizi bersama Shane kembali ke tempat warung tenda milik pasangan hantu yang sebelumnya Zizi tendang sampai roboh.


Hari sudah mendekati tengah malam di dunia manusia. Jalan raya tampak semakin sepi.


Zizi melewati warung tenda tersebut, di mana pemiliknya terlihat duduk seperti patung menatap kosong jalan raya yang sepi.


Zizi yang melihat pasangan hantu itu sedang duduk melongo, langsung melompat ke dalam warung.


"DORRR!!"


Zizi mengagetkan keduanya, membuat mereka terjengkang ke belakang.


Zizi cekikikan, lalu tanpa minta maaf keluar saja dari warung dan mengajak Shane menuju pintu masuk alam gaib.


Tempatnya dekat bekas tempat pembuangan sampah.


Zizi menarik Shane yang kemudian diikuti Maria.


Untuk mata Zizi, di sana terlihat seperti ada pintu yang samar-samar tertutup kabut tipis.


Debug!!


Zizi jatuh berguling bersama Shane di depan hutan ke lima.


"Hah balik maning... Balik maning."


Kata Maria menyusul Zizi sambil mendarat dengan anggun.


Zizi malas bangun, ia tiduran saja di atas tanah berumput di depan hutan ke lima.


Zizi menghela nafas.


Langit di alam gaib masih terlihat kemerahan, warna senja yang indah, yang membuat Zizi betah memandanginya.


Maria menatap jauh ke depan.


Terbentang tanah berumput yang sangat luas, berbukit-bukit macam di film Teletubbies.


"Hutan ke enam masih jauh, kita cari tempat menginap saja supaya kamu istirahat."


Kata Maria.


Zizi tampak bangkit, lalu duduk selonjor.


"Yuk."


Kata Zizi.


"Nona kalau lelah naik saja ke punggung saya, biar saya gendong."


Ujar Shane pada Zizi.


Zizi cepat menggeleng.


"Tidak Kak Seng, nanti Zizi jadi manja, tidak boleh."


Kata Zizi.

__ADS_1


Shane mengangguk mengerti.


Zizi kemudian berjalan di depan memimpin, Shane di belakangnya melindungi, dan Maria melayang mengiringi Zizi di samping kiri.


Mereka berjalan cukup jauh, hingga kemudian mereka melihat seperti telaga yang terbentang sangat luas, telaga itu di tutupi kabut tipis, sampan-sampan bergerak sendiri tanpa terlihat ada yang menggerakkan.


Suara-suara perempuan tertawa cekikikan sambil bercanda terdengar seperti terbawa sepoi angin.


Zizi menatap telaga di depannya.


Telaga yang seperti tak asing.


"Seperti telaga sunyi dekat hotel wisata, benarkan Zi?"


Maria yang tentu saja langsung menyadari.


Bagaimana tidak, ia hidup puluhan tahun di sana.


Zizi menganggukkan kepalanya.


Sudah lama sekali sejak ia masih kecil, ingatannya akan telaga sunyi yang ada di belakang hotel milik Papanya sudah tak begitu jelas di kepalanya.


Namun, Zizi masih bisa mengenali karena masih ada sisa memori tentang telaga itu.


Maria melayang mendekati telaga yang persis telaga sunyi dekat hotel wisata, dimana pertama kali Maria bertemu Zizi.


Maria memandang ke sepenjuru tempat itu.


Hutan-hutan itu, hutan di seberang telaga yang terbentang luas di depan mereka saat ini, mungkinkah itu hutan ke enam?


Batin Maria.


Zizi dan Shane menyusul Maria mendekati Maria.


Suara cekikikan banyak perempuan yang seolah sedang bersenda gurau entah dimana terus terdengar lamat-lamat.


"Kita harus menyeberang bukan?"


Tiba-tiba...


Saat tangan Zizi masuk ke dalam air telaga, dari tengah telaga muncul ikan yang sangat besar.


Bukan ikan paus, bukan juga ikan hiu.


Ikan itu berbentuk seperti lele, kepalanya besar, badannya panjang namun ada siripnya.


Berbeda dengan lele yang kepalanya terlihat seperti mahluk yang polos, ikan raksasa itu memiliki gigi semacam Piranha.


Ikan lele bergigi itu terlihat meluncur ke arah Zizi dan Shane serta Maria.


Gerakannya yang begitu cepat seolah akan menerjang Zizi yang berjongkok tepat di sisi telaga.


Zizi yang melihat gerakan ikan lele raksasa itu segera melompat mundur dari sisi telaga.


Ikan itu begitu sampai di sisi telaga dan Zizi dengan sigap melompat menjauh terlihat langsung masuk ke dalam air.


"Lah ke mana tuh ikan?"


Tanya Zizi.


Maria melayang mendekat ke arah di mana tadi ikan itu menghilang.


Pikir Maria, sebagai hantu ia akan aman saja, tak akan dicaplok untuk dimangsa.


Tapi...


Ternyata...

__ADS_1


Tak disangka tak diduga, ikan itu tiba-tiba saja muncul lagi, melompat ke arah Maria sambil membuka mulutnya, menyambar Maria dalam gerakan yang sangat cepat.


Ikan yang sebesar kapal itu menelan Maria, lalu masuk ke dalam air.


Zizi yang melihat pengasuhnya di mangsa ikan siluman tentu saja langsung berteriak sambil mengejar ikan tidak ada akhlak itu.


Shane berusaha menarik Zizi, namun terlambat, Zizi sudah lebih dulu melompat ke dalam air, yang dipikirkan Zizi tentu saja hanya ingin menyelamatkan Maria.


Shane yang tak mau membiarkan Zizi sendirian akhirnya melepas ransel milik Zizi dalam gendongannya.


Shane melompat ke dalam air telaga, menyelam ke dalam air.


Hanya sekian detik merasakan di dalam air, tiba-tiba saja ia berada di sebuah tempat seperti ruang bawah tanah di dalam kastil.


Ruangan yang sangat besar, gelap dan lembab.


"Nona Zizi... Nona Zizi..."


Shane memanggil Zizi.


Suaranya menggema.


"Aunty... Aunty Maria..."


Shane kini memanggil Maria.


Tak ada jawaban, tak ada tanda-tanda ada Zizi dan Maria di sana.


Shane terus bergerak.


Keuntungannya sebagai seorang vampire adalah bisa melihat dengan jelas di dalam gelap.


Shane melihat ke sekeliling, makin masuk ke dalam aromanya semakin lembab dan juga berbau busuk.


Shane tapi terus bergerak.


Yang ia pikirkan tentu adalah Zizi dan Maria harus ia temukan.


Shane menoleh ke kanan dan ke kiri.


Di mana kini ruangan yang ia lewati menjadi lebih mirip koridor panjang.


Kanan kirinya seperti sel-sel penjara.


Di dalam sel itu terlihat banyak mahluk seperti manusia yang menangis meminta tolong pada Shane untuk dibebaskan.


Shane menatap di belakang mereka terlihat ada mahluk besar aneh dengan mata besar merah.


Entah mahluk apa, tapi sepertinya mahluk-mahluk seperti manusia itu adalah untuk makanan mahluk-mahluk besar yang ada di belakang pada tahanan di dalam sel.


"Toloooong Tuaaaan... Tolooong."


Rintih mereka.


Shane menatap mereka dengan iba, yang lebih iba lagi ketika yang ia lihat adalah anak-anak kecil yang menangis ketakutan di dalam sel dengan mahluk menyeramkan bersama mereka .


Tempat apa ini sebetulnya?


Shane jelas tak tahu sebetulnya ia masuk ke tempat apa.


"Tuaaaan... Toloooong... Toloooong Tuan, jika kau menolongku keluar dari sini, kupastikan kau ku berikan apapun yang kau mau Tuan..."


Seorang laki-laki mencoba menjangkau shane ketika lewat di depan selnya.


Shane cepat menghindar.


"Aku janji akan bertaubat... Aku janji."

__ADS_1


Hingga...


**--------------**


__ADS_2