
Zizi diminta Eyang untuk memejamkan matanya, tangan Eyang yang berada di atas kepala Zizi pelahan mengeluarkan cahaya keemasan yang dirasa Zizi seperti menembus ke dalam kepala Zizi.
Tubuh Zizi sejenak bergetar hebat, seolah ada yang bertarung di dalam dirinya.
Terdengar Eyang membaca mantera yang Zizi tak tahu maknanya, ia mencengkram kepala Zizi hingga Zizi mengerang sakit.
Sesuatu keluar dari ubun-ubun Zizi, sinar kemerahan dan juga hitam.
Eyang menangkapnya, yang seketika berubah menjadi sebuah pedang berapi.
Zizi muntah darah lagi. Terbatuk-batuk.
Zizi memegangi dadanya yang panas dan sakit.
Eyang tampak mengusap pedang Jayapada yang seketika apinya menjadi padam.
Setelah itu tangannya kembali ke atas ubun-ubun Zizi, seolah menetralisir kembali tubuh Zizi yang semula mulai digerogoti kekuatan Jayapada di dalam dirinya.
"Retnoasih, keluarlah kau."
Kata Eyang seraya mengangkat tangannya dari atas kepala Zizi.
Dan seketika, aroma bunga melati itupun tercium semerbak di sekitar tempat itu.
Sesuatu kembali keluar dari tubuh Zizi, semula berbentuk seperti asap putih yang kemudian membentuk seorang perempuan yang terkulai lemah di samping Zizi duduk sila.
Eyang menatap Retnoasih.
"Kau mengorbankan dirimu untuk melindungi anak keturunan ini dan juga Jayapada sebagai pusaka warisan terakhir."
Retnoasih mengangguk.
"Saya tidak ingin Jayapada ciptaan Ayah dan yang menyimpan energi Ibu menjadi senjata merusak tatanan dunia ini."
Kata Retnoasih.
Eyang Sapujagad menganggukkan kepalanya.
Sosok laki-laki tua yang begitu tenang dan berwibawa itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pedang Jayapada di tangannya.
"Energi Balasanggeni menarik banyak sekali energi jahat lainnya, beruntung cicit Bandapati yang kau pilih ini sangat kuat, meskipun dia petakilan luar biasa."
Ujar Eyang.
Retnoasih mengangguk.
"Iya Eyang, sejak awal saya menunggunya, saya tahu jika hanya pada dirinyalah Jayapada bisa saya sembunyikan dan terlindungi dari banyak lelembut jahat yang menginginkan menguasai."
Eyang tersenyum.
Ia merasa apa yang telah dilakukan Retnoasih sudah cukup tepat, meskipun memang berisiko tinggi pula.
Karena dari sifat Zizi yang barbar, tentu saja jika Zizi sampai telat sedikit saja dan dia berhasil dikuasai energi jahat di dalam Jayapada, maka bisa dipastikan tak akan ada yang bisa menghentikkannya.
Belum lagi jika ia kemudian bersatu dengan Pamannya Jaka Lengleng, pasti keduanya akan merusak seluruh tatanan dunia manusia dan lelembut dalam satu masa saja.
"Aku akan membersihkan energi jahat di dalam Jayapada, bawalah pergi cicitmu untuk memulihkan kondisinya. Ia terluka cukup parah dari pertarungannya dengan Jaka Lengleng dan juga saat ia berusaha melawan energi jahat pedang di dalam dirinya."
"Sendiko Eyang, saya juga semula sudah menyerah menahan gelombang energi Jayapada yang ingin menguasai anak ini."
Eyang menganggukkan kepalanya.
Lalu kabut tebal tiba-tiba kembali turun, terlihat meliputi tempat di mana Zizi kini duduk sila bersama Retnoasih yang tampak susah payah bangkit untuk memindahkan Zizi ke tempat lain.
Eyang Sapujagad menghilang dari pandangan, hingga kemudian kabut itu pelahan menghilang, dan Zizi membuka matanya kembali, tiba-tiba ia sudah berada di hutan ke tujuh lagi.
__ADS_1
Di sana Shane, Maria dan Mintul tampak menatap Zizi yang terlihat pingsan.
Mata Zizi mengerjap, menatap teman-temannya.
Aroma melati tercium, dan kini tampak Nyi Retnoasih berdiri mengambang di dekat mereka.
"Kalian beristirahatlah di tempat yang tepat di luar hutan ini, ada sebuah pondok tua di sana, yang dihuni sepasang kakek nenek, mereka akan menjaga kalian hingga Eyang selesai membersihkan Jayapada."
Ujar Nyi Retnoasih.
Zizi bangun dari posisinya, tampak ia sedikit terhuyung karena lemas, namun Shane sigap meraih tubuh Zizi.
"Kau terluka parah Zizi, berisitirahatlah dan di sana kau akan disembuhkan sepenuhnya."
Zizi mengangguk.
Retnoasih mengedarkan pandangannya.
"Jaka Lengleng suatu hari pasti akan menemuimu lagi, jadi kau harus selalu hati-hati Zizi."
Ujar Nyi Retnoasih.
Zizi menganggukkan kepalanya.
"Zizi tidak takut dengan paman Jaka Lengleng, tenang saja Nek."
Kata Zizi.
Nyi Retnoasih tersenyum.
Melihat keberanian Zizi membuat Retnoasih seolah melihat suaminya dulu.
Ah ya, Aji Manggala, dia kakek moyang Zizi pula, pertapa sakti yang semula adalah seorang ksatria sakti mandraguna sebelum kelicikan Balasanggeni memporak porandakan kehidupannya.
Zizi yang kondisinya cukup lemah digendong Shane. Maria melayang di sampingnya, sementara Mintul menunjukkan jalan tercepat.
Hingga akhirnya, sampailah mereka di sisi luar hutan ke tujuh. Sebagaimana yang dikatakan Nyi Retnoasih, tampak berdiri sebuah pondok kayu tak jauh dari sana.
Sepasang kakek nenek berdiri seolah sudah lebih dulu tahu akan ada yang datang.
Shane melesat cepat menuju pondok tersebut, disusul Maria dan juga mintul.
Sepasang kakek nenek yang sebetulnya jelmaan ular pula itu tampak ramah dan hangat menyambut.
Kedua ular tua itu bukanlah dari jenis siluman yang jahat, mereka memang berada di sana untuk menjaga wilayah perbatasan antara hutan ke tujuh dan wilayah Merapi.
Zizi menatap di kejauhan sana, manakala Shane menurunkan tubuhnya dari atas gendongan Shane.
Zizi melihat kilatan-kilatan cahaya semacam petir berwarna kemerahan dari puncak sebuah gunung yang berdiri begitu gagah.
"Apa ini Merapi di alam lelembut?"
Tanya Zizi seperti gumaman.
Sepasang kakek nenek itu mengangguk.
"Ya, Eyang Sapujagad tampaknya sedang membersihkan seluruh energi jahat yang terkungkung di dalam Jayapada sekian ratus tahun."
Kata Kakek ular.
Zizi mengangguk.
Mereka kemudian dipersilahkan memasuki sebuah pondok kayu sederhana.
"Jika anda ingin makan, kami bisa ambilkan dari dunia manusia."
__ADS_1
Ujar Nenek ular.
Zizi duduk di tikar pandan yang di gelar di atas lantai kayu pondok.
Zizi menghela nafas.
"Zizi belum lapar, Zizi ingin tidur."
Kata Zizi.
"Kami sudah siapkan kamar untuk anda Nona, mari ikut saya."
Kata Nenek ular.
Tapi Zizi terlalu malas untuk bergerak lagi.
"Nanti sajalah Nek, Zizi ingin duduk di sini dulu."
Kata Zizi.
"Dasar malas."
Kata Maria.
"Ikh Aunty tidak tahu bagaimana perjuangan Zizi."
Zizi protes dibilang malas.
"Iya... Iya... Tahu."
Sahut Maria mengalah.
"Berapa lama pedang itu dibersihkan?"
Tanya Maria pada pasangan nenek dan kakek ular.
"Sampai purnama berada di puncaknya."
Jawab si kakek.
Puncak purnama, apa dua hari lagi? Batin Maria.
"Kerajaan Grandong, di mana dia?"
Kali ini Zizi yang bertanya.
"Tak jauh dari sini Nona, hanya mengikuti jalanan depan saja, ada sungai kecil, lalu cukup ikuti aliran sungai itu hingga nanti menemukan sebuah gua. Masuk ke sana, maka anda akan masuk ke dalam daerah kekuasaan mereka. Itu pintu masuk ke tempat mereka dari alam kami."
Kata si kakek.
Zizi mengangguk mengerti.
"Aku harus menyelamatkan Raja Dalu setelah ini."
Kata Zizi.
Kakek ular mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, dia sudah cukup lama menjadi budak di sana, sudah saatnya ia diselamatkan, dan Nona Zizi lah yang bisa melakukannya."
Ujar Kakek ular sambil terkekeh.
Yaiyalah, siapa lagi kalau bukan Zizi? Masa Pangeran Kucing Oren. Batin Zizi.
**--------------**
__ADS_1