Zizi

Zizi
63. Kisah Dari Masalalu


__ADS_3

"Kembalikan, itu matakuuuu."


Sesosok perempuan kurus kering menarik laki-laki gempal yang berjalan cepat di depannya.


Tampak laki-laki itu matanya yang satu kecil yang satu terlalu besar.


"Berisik, ini aku juga sedang cari bola mataku yang asli ke mana."


Dan semua kini heboh karena mata mereka tertukar-tukar.


Zizi dan Shane serta Maria diajak oleh nyai sirih mengikutinya menuju gubuk reotnya di kaki bukit dekat hutan kemenyan.


Aroma kemenyan begitu menyengat hidung, hingga rasanya hidung Zizi nyaris mampet.


"Bandapati dulu pernah membakar seluruh hutan ini hingga tak tersisa."


Nyai sirih bercerita.


"Kenapa?"


Zizi kepo tingkat lima sambil mengikuti nyai sirih berjalan ke gubuknya.


Maria melayang sambil menatap hutan kemenyan yang sebetulnya kelihatannya tak begitu angker seperti hutan saat mereka bertemu siluman lintah.


Tapi entah kenapa rasanya justeru jauh lebih menyeramkan.


"Ku sarankan kalian tidak usah melewati hutan kemenyan, berjalanlah memutar saja mengikuti aliran sungai bening di sebelah bukit ini, berbatasan dengan hutan, sungai bening akan membawa kalian sampai ke hutan ke empat dekat perbatasan Cirebon dan Brebes jika berada di dunia manusia."


Nyai sirih mempersilahkan Zizi dan Shane duduk di bale-bale depan gubuknya yang reyot.


Saat Zizi naik ke atas bale, terdengar suara berderit yang khas dari kayu tua yang mulai lapuk.


Di atas bale-bale tersebut digelar tikar dari daun pandan.


Zizi dan Shane duduk bersama Nyai Sirih.


"Kenapa kami tak boleh melewati hutan kemenyan? Bukankah jika lewat hutan kemenyan kami akan menghemat waktu?"


Tanya Zizi.


Maria melayang dan duduk di dekat Zizi.


"Jangan ngeyel, aku juga merasakan firasat tak baik."


Zizi mengerutkan kening.


"Maksudnya apa sih?"


Zizi menabok lengan Maria.


haiish... Maria mendesis.


Dasar anak asuhnya ini susah sekali kalau diminta menjawab iya, karena pasti ada saja ulahnya untuk membuat dongkol.


Nyai Sirih terkekeh.


"Apa harus saya ceritakan agar Nona Zizi mengerti? Atau mau mencoba langsung saja masuk ke hutan kemenyan agar tahu kenapa saya melarang?"


Nyai Sirih menatap Zizi dengan kedua matanya yang merah.

__ADS_1


Zizi menoleh pada Shane seolah meminta pendapat, tapi Shane tampaknya cenderung ingin Zizi menuruti nasehat nyai sirih.


Zizi akhirnya mengalihkan tatapan matanya pada Nyai Sirih.


"Ceritakan saja, agar Zizi tahu alasannya, Zizi tidak suka jika di larang tapi tidak tahu alasan kenapa Zizi dilarang.".


Ujar Zizi.


Nyai sirih kembali terkekeh.


Rasanya ia seperti kembali melihat Bandapati muda.


Bandapati yang dulu ia kenal masih sebagai Naga muda yang penuh emosi dan ditakuti, jauh sebelum akhirnya ia dijinakkan para petinggi lelembut dari Merapi dan Segara kidul.


Jauh sebelum akhirnya ia didapuk menjadi penjaga gerbang gaib utama di kaki Gunung Slamet, di mana kerajaan Galuh Purba pernah berdiri megah dan kemudian runtuh lalu menyisakan banyak orang sakti digdaya.


Zizi menatap langit alam lelembut yang memerah. Terlihat garis oranye membentang sepanjang penglihatannya.


Zizi duduk bersila di atas tikar pandan di atas bale-bale kayu yang berderit-derit manakala ia sedikit saja menggerakkan tubuhnya.


Nyai sirih tampak meludah di lantai tanah teras gubuknya.


Cuiiih...


Warna merah oranye terlihat seperti darah, Zizi menatap nyai sirih yang kini mulai sibuk membuka wadah sirihnya lagi.


Zizi kemudian tak mau kalah, ia membuka saku ranselnya yang digendong Shane.


Zizi mengeluarkan satu bungkus permen mint pada Nyai sirih.


"Ini aja Nyi, enak."


Nyai sirih memandangi benda aneh dan mencurigakan di tangan Zizi.


Apalagi saat Zizi kemudian membuka bungkus permen itu, kresek kresek... kresek kresek...


Nyai Sirih seolah benar-benar dalam keadaan bahaya, ia langsung menjaga jarak dengan Zizi.


"Hmm..."


Zizi menggelengkan kepalanya.


Sangat ketinggalan jaman. Batin Zizi.


Maria dan Shane saling berpandangan penuh arti, seolah mereka kadang tak tahan sendiri melihat kelakuan Zizi.


"Sudah Nyai, cerita saja, teruskan ceritanya, sebelum hari gelap karena kami harus meneruskan perjalanan."


Kata Maria tak sabar.


Zizi cekikikan lalu mengambil permen lain dari saku ransel dan memakannya.


Nyai sirih akhirnya mengangguk-anggukan kepalanya, lalu bersiap bercerita.


"Begini kisahnya..."


**--------------**


Lebih dari seribu tahun lalu,

__ADS_1


Seorang gadis cantik rupawan muncul tiba-tiba di dekat kali bening di tepian hutan kemenyan.


Ia datang dari satu wilayah yang sangat jauh dan terpencil, terbang tak tentu arah lalu akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat kali bening dekat hutan kemenyan.


Gadis cantik itu turun ke sungai untuk minum, namun ia kemudian tertarik dengan beningnya air kali di sana.


Maka akhirnya sang gadis memutuskan untuk mandi pula di kali bening itu.


Cukup lama ia memilih tempat yang tepat untuk ia bisa mandi di kali bening, hingga akhirnya ia menemukan tempat yang tersembunyi di mana di sana banyak ilalang tumbuh dan juga batu-batu besar.


Sang gadis begitu menikmati kesegaran air kali bening saat akhirnya ia bisa berendam di sana.


Ia bahkan sampai seperti tak ingat waktu dan tak ingat ia sedang berada di tempat asing.


Gadis cantik itu mandi sembari bersenandung merdu.


Hingga kemudian, di kala langit mulai surup, gadis itu mendengar suara-suara aneh dari arah hutan.


Tepatnya seperti dari balik pepohonan yang tumbuh di tepian hutan yang berbatasan persis dengan kali bening.


Sang gadis kemudian berdiri menatap tajam ke arah rerimbunan ilalang dekat barisan pohon di hutan beraroma kemenyan yang sungguh menusuk hidung itu.


Gadis cantik itu pun melangkah naik meninggalkan kali bening yang airnya terdengar gemericik.


"Siapa kalian?"


Gadis itu meninggikan suaranya, ia terlihat begitu marah.


Beberapa mahluk berkelebat seolah melompat cepat dari dahan-dahan pepohonan di sana.


Gadis itu berusaha mengejar mahluk-mahluk yang terlihat menghindarinya, namun tiba-tiba saja ia teringat sesuatu yang ia letakkan di bebatuan di pinggir sungai sebelum ia mandi.


Dua batu merah delima yang terdapat di dua gelang lengan dan batu kehijauan sukmaning ulo yang terpasang di benda menyerupai mahkota kecil.


Benda-benda itu tadi diletakkannya di atas bebatuan pipih bersama selendang miliknya.


Dan jelas saja, kini gadis itu murka luar biasa begitu ia tak melihat selendang dan batu-batu miliknya tersebut.


Batu-batu itu adalah batu yang ia dapatkan bukan dalam waktu yang singkat.


Butuh ratusan tahun ia bertapa di atas gunung berapi di dalam lautan.


Dan saat akan mendapatkannya, ia juga masih harus menahan sakit karena dua batu itu keluar dari perut gunung berapi saat gunung itu meletuskan diri.


Gadis cantik yang tak lain adalah Bandapati muda itu lantas melompat cepat ke arah pepohonan di mana tadi ia melihat beberapa gerakan mencurigakan di sana.


Diburunya ke arah mereka melompat menjauhi Bandapati.


"Siluman laknat, mencuri batu sakti ku."


Bandapati melesat memasuki hutan kemenyan tersebut, mengamuk luar biasa karena para kawanan pencuri itu tak berani menampakkan diri.


Bandapati menghantam beberapa pohon yang tumbuh di sana hingga roboh, suara-suara mahluk memekik ketakutan mulai ramai terdengar.


Segerombolan kera putih melompat lalu menghilang, membuat Bandapati semakin murka luar biasa.


Bandapati muda melesat terbang dan kembali merobohkan beberapa pohon-pohon besar di tengah hutan kemenyan itu.


Dan...

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2