
Zia dan Zizi berserta rombongan sampai di Jakarta langsung mendapat jemputan khusus dari Dimas dan Dave serta dua mobil pengawal lain.
Zia dan Zizi ikut mobil yang dikemudikan Dimas, yang di mana di sana juga ada Mbak Ning ikut menjemput.
Sementara Marthinus dengan mobil Dave yang berada di depan mobil Dimas.
Vero dan Daniel, ikut dua mobil pengawal lain di belakang mobil yang ditumpangi Zia dan Zizi.
"Tuan Zion cerita Bang Dimas dan Mbak Ning resmi pindahan ke rumah baru?"
Tanya Zia.
"Iya Nyonya."
Jawab Mbak Ning.
"Kenapa harus pindah Mbak? Kan jadi sepi nanti rumahnya."
Ujar Zizi.
Mbak Ning tersenyum.
"Kan sekarang sudah ada Lesti gantiin Mbak Ning mengurus rumah dan juga mengurus semua keperluan Nona Zizi."
Mbak Ning berkata sembari menghadap ke belakang di mana di sana Zizi duduk di samping sang Mama.
Zizi menatap pengasuhnya yang telah sekian tahun ikut keluarganya.
Rasanya waktu berputar begitu cepat, sekarang Mbak Ning sudah mulai terlihat hampir seperti Mama.
"Nona Zizi juga sebentar lagi menikah, kalau sudah punya anak pasti tidak kesepian lagi."
Kata Mbak Ning pula.
"Tapi nanti yang ngurus anak-anak Zizi siapa kalau tidak ada Mbak Ning."
Mbak Ning mendengar kata-kata Zizi jadi tersenyum meskipun hatinya jadi sedikit sedih.
Ah iya, sebetulnya Mbak Ning juga ingin sekali bisa melihat anak-anak Nonanya lahir, ia juga jelas ingin bisa melihat anak-anak itu tumbuh sebagimana dulu ia melihat Zizi dari bayi lalu akhirnya besar dan kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
Namun, Mbak Ning yang belakangan sudah tak begitu sehat dan tak bisa terlalu capek lagi, akhirnya ingin berhenti saja daripada nanti malah jadi merepotkan.
"Nanti kan kita bisa cari Baby sitter, kamu ini suka sekali membebani orang."
Kata Zia akhirnya.
Zizi nyengir.
"Kan kalau Mbak Ning udah biasa sama Zizi."
"Mbak Ning ingin istirahat, selama ini Mbak Ning sudah menghabiskan banyak sekali waktu untuk mengurus kita, sudah saatnya Mbak Ning bisa menikmati hidupnya Zizi."
Ujar Zia.
Zizi menatap Mbak Ning yang masih tampak tersenyum.
"Ah iya, Tuan Zion juga cerita kalau Kak Arya akan ikut pindah, benarkah?"
Tanya Zia ingat soal Arya.
"Kak Arya ikut pindah, kenapa?"
Zizi yang baru dengar soal rencana Arya ikut pindah tampak terkejut.
Dimas mencuri pandang pada Zizi lewat kaca kecil yang ada di atasnya.
Zia menoleh pada Zizi.
"Kamu fokus saja menyiapkan diri untuk pernikahanmu, besok jangan lupa ada jadwal bertemu Ibu Vika, dari pihak EO."
__ADS_1
Kata Zia pada Zizi.
Zizi menatap Mamanya.
"Iya, Zizi udah tulis dijadwal."
Zizi menunjukkan tulisan di memo hp nya.
Zia mengulum senyum.
Tumben ini anak tidak bantah dan ngeyel banyak alasan ini itu.
"Kak Arya akan ikut pindah karena saya kan nanti sendirian di rumah, misal Bang Dimas ada tugas menemani atau mewakili Tuan Zion berhari-hari keluar kota, setidaknya nanti ada Kak Arya yang menemani Mbak Ning."
Mbak Ning memberikan alasan yang sebisa mungkin bisa diterima Zizi.
"Oh, bukan karena marah sama Zizi ya?"
Zizi lagi.
Maria yang rebahan di kursi belakang Zia dan Zizi tampak bangun dari posisinya, rasanya ia ingin menjitak kepala Zizi.
Biar saja Arya pindah, biar Arya bisa memiliki pilihan lain nantinya, punya pandangan lain selain Zizi, bisa fokus pada hal lain selain sakit hati dan patah hati pada keputusan Zizi.
Ya kan? Maria minta dukungan pembaca. Wkwkkwk...
"Tadi mau saya ajak jemput Nyonya Zia ke bandara sebetuknya, tapi pagi-pagi sudah ditelfon kantornya, ada kasus lagi katanya."
Kali ini akhirnya Dimas mulai ikut bicara.
"Kasus apa?"
Tanya Zia.
"Paling pembunuhan Ma, sekarang kan setiap hari ada orang dibunuh."
Kata Zizi.
"Nyawa sudah murah sekali sekarang."
Mbak Ning mantuk-mantuk.
"Bukan dibunuh manusia tapi Nyonya, ada kecurigaan pelakunya itu ular."
Kata Dimas kemudian.
"Ular?"
Zia tentu saja terkejut luar biasa mendengar ada orang meninggal karena ular.
"Jangan-jangan sama seperti yang terjadi di London."
Zia bergumam, lalu...
"Sejak kapan Bang?"
Tanya Zia.
"Tidak tahu pastinya, saya malah baru tahu hari ini dari video yang viral ditunjukkan oleh Lesti tadi."
"Video apa?"
Zizi nimbrung.
"Video viral soal ular yang berada di dekat lokasi penemuan korban yang baru-baru ini muncul di berita juga katanya. Saya sendiri kebetulan belakangan tak terlalu mengikuti berita yang ada, karena sibuk mengurus pindah rumah dan penyeleksian karyawan baru di zombie hotel yang banyak keluar sejak kasus model bunuh diri waktu ada Tuan Muda Ali."
Terang Dimas.
"Sudah ada yang resmi masuk Bang?"
__ADS_1
Tanya Zizi.
"Minta kamu ikut seleksi Zi."
Kata Maria.
Zizi mengangguk.
"Zizi besok ikut seleksi kalau belum resmi pada diterima."
Kata Zizi.
"Iya Nona, saya malah senang sekali jika Nona mulai mau ikut terjun langsung mengurus hotel."
Kata Dimas.
"Ya harusnya memang hotel itu biar Zizi yang urus Bang, daripada setiap hari hanya main saja."
Ujar Zia.
Dimas tertawa kecil jadinya mendengar kata-kata Zia.
"Iyaaa, mulai sekarang hotel akan Zizi ambil alih, lagipula Zizi ingin mengawasi apartemen Andromeda."
Zizi bertekad.
Zia menoleh ke arah Maria, keduanya saling berpandangan dan tersenyum penuh arti.
Tampaknya menjelang menikah Zizi mulai sedikit berubah ke arah yang lebih baik.
"Jadi di sini Arya juga sedang mengurus kasus yang sama dengan yang di London."
Zia kembali membahas soal Arya.
"Kasus yang aneh, korban tidak dimakan, hanya diremukkan dan dilepehkan, begitu kesaksiannya."
Kata Dimas.
"Tidak mungkin jika itu ular biasa, kalau ular biasa pasti ia hanya akan makan satu korban dan akan makan lagi dalam jeda waktu yang lama."
Ujar Maria.
Zia mengangguk.
"Menurut anda, apa sebetulnya yang sedang terjadi Nyonya?"
Tanya Dimas pada Zia.
Zia menghela nafas, lalu...
"Ini masih musuh lama kami Bang, Paman Jaka Lengleng, ia ternyata berhubungan dengan Heri Sapta."
Kata Zia.
Mendengar nama Heri Sapta, tentu Dimas kaget.
"Heri Sapta? Si penghianat itu?"
Tanya Dimas.
Zia tersenyum.
"Sebetulnya dari awal dia sengaja mendatangi sesama keturunan Balasanggeni, yaitu Kakek Ardi Subrata karena memang sejak awal memiliki niatan untuk menjadi penguasa di alam manusia, dan jika bisa mendapatkan Jayapada juga, maka Paman Jaka Lengleng juga berkuasa pula di alam lelembut."
"Jadi semuanya berkaitan dari dulu?"
Dimas benar-benar tak menyangka.
"Ya Bang Dimas, dan kita saat ini tidak tahu, siapa saja sebetulnya penyusup di lingkungan kita."
__ADS_1
Kata Zia.
**-------------**