
Zizi dikerumuni para lelembut penghuni tanah Dalu, mereka mengajak bersalaman dan berlomba menawarkan makanan.
"Jangan dimakan."
Bisik Maria pada Zizi.
Zizi yang tanpa diberitahu juga sudah paham semua yang ditawarkan padanya itu bukan makanan manusia hanya nyengir saja.
"Apa kau tak ingin mencicipi sedikit saja Nona?"
Tanya seorang nenek renta.
Nenek itu tampak membawa satu wadah dari anyaman bambu yang terlihat seperti ubi rebus, singkong rebus, jagung rebus yang masih mengepul panas.
"Maaf Nek, Zizi tidak makan makanan jadul, Zizi lebih suka makanan kekinian, macam Seosoned french fries, Duck tenderloin with rosemary, Grilled tuna berry atau Crab soup, hmm... itu lezat."
Kata Zizi mengacungkan ibu jarinya.
Nenek tua renta itu matanya sampe berputar-putar saking pusingnya mendengar nama-nama makanan yang disebutkan Zizi.
"Apa semua itu nama makanan?"
Tanya si nenek renta.
Zizi mengangguk cepat.
"Pusing nenek dengarnya sampai mau muntah."
Keluh nenek.
Ia jelas sekali tak siap menghadapi perubahan jaman.
Zizi nyengir karena tak tik busuknya berhasil.
"Kalau begitu, minum ini saja Nona, ini air kepala kuyang."
Zizi mendengarnya langsung bergidik membayangkan saja sudah mau muntah.
"Ngg... Zizi juga hanya bisa meminum minuman kekinian, macam minuman bersoda atau es krim deh minimal."
Kata Zizi.
Mereka mantuk-mantuk.
"Sungguh manusia yang sangat luar biasa, makanan dan minumannya saja itu yang berat-berat, pasti itu makanan dan minuman yang berbahaya."
Kata salah satu lelembut menyimpulkan sendiri.
Namun apa yang ia simpulkan ternyata disambut oleh yang lain.
"Yah benar, pantas Nona Zizi bisa mengalahkan Naga."
"Ya dan dia bisa menguasai pedang sakti mandraguna Jayapada."
Kata yang lain lagi.
"Dan sekarang Nona Zizi juga akan menjemput Raja Dalu dan Ratu bunga petak untuk kita semua."
"Ya benar..."
"Hidup Nona Zizi..."
"Hidup Nona Zizi..."
Terdengar mereka mengelu-elukan nama Zizi lagi.
Dan bersamaan dengan itu, tiba-tiba datang pasukan dari kerajaan Dalu.
__ADS_1
Pasukan yang dipimpin seorang laki-laki gagah perkasa yang menunggang kuda hitam dengan mata merah itu membuat kerumunan warga lelembut menyingkir memberi jalan.
Pasukan itu kemudian berhenti begitu sudah dekat di tempat Zizi berada.
Sang laki-laki gagah di atas kuda melompat turun dengan cepat dan semangat.
Saking semangatnya, kakinya jadi tidak sengaja menendang kepala salah satu warga yang berdiri terlalu ke depan.
Walhasil kepala si warga lelembut itu jadi terbalik.
"Oh maafkan saya, maafkan saya."
Laki-laki gagah perkasa itu membungkuk meminta maaf berkali-kali karena tak enak.
Setelah meminta maaf, si laki-laki yang merupakan patih besar Kerajaan Dalu itupun menghadap Zizi.
Ia memberikan salam penghormatan pada Zizi.
"Selamat datang kembali di tanah Dalu Nona Zizi dan rombongan."
Patih besar terlihat begitu sopan.
Zizi mengangguk saja.
"Putri Arum Dalu telah lama menunggu kedatangan Nona Zizi beserta rombongan, Putri Arum meminta saya secara khusus menjemput anda Nona."
Pasukan yang semula berbentuk manusia utuh kini berubah menjadi kuda hitam besar yang terlihat gagah-gagah.
Patih mempersilahkan Zizi naik lebih dulu. Baru kemudian Shane dan Maria yang memilih kuda di belakang Zizi.
"Mbapoc, kau tak ikut?"
Tanya Zizi pada mbak pocong.
Tampak perempuan itu menggeleng sambil tersenyum.
Ujar mbak pocong sedih.
Zizi menatap mbak pocong dengan haru.
Maria yang jadi merasa sedih juga akhirnya melayang turun lagi untuk memeluk mbak pocong.
"Jaga diri Mar, jaga Nona Zizi."
Kata Mbak Pocong.
Zizi dan Shane juga jadi ikut turun dari kuda mereka.
Mbak Pocong memeluk Zizi.
"Terimakasih untuk semuanya Nona, meskipun selama ini saya dibuli tapi saya sangat bahagia pernah menjadi bagian tim Nona Zizi."
Kata mbak Pocong.
Zizi mengangguk.
"Kali lain bergabunglah lagi dengan tim Zizi, ganti kostum dulu biar bisa bebas gerak."
Ujar Zizi.
"Siap."
Shane mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ah kirain mau meluk juga Tuan Shane."
Kata Mbak pocong ngarep.
__ADS_1
Shane tersenyum kalem.
"Saya bukan tipe orang yang mudah memeluk perempuan. Saya menghormati perempuan dengan menjaga martabatnya."
Kata Shane.
Waaaaah...
Para lelembut perempuan yang mendengarnya langsung meleleh macam margarin di atas teflon panas.
Shane dan mbak pocong pun berjabat tangan.
Setelah masa perpisahan mereka selesai, Zizi, Shane dan Maria menaiki kuda mereka lagi.
Patih besar memimpin di depan untuk membuka jalan menuju Kerajaan Dalu.
Warga tanah Dalu mengelukan nama Zizi, membuat Zizi jadi cengar-cengir bingung harus bagaimana membalas mereka.
Perjalanan menuju Kerajaan Dalu melewati medan yang cukup berat.
Letak kerajaan Dalu memang seperti di puncak sebuah bukit yang berkilau-kilau seperti emas.
Kuda-kuda hitam yang ditunggangi mereka berlari sangat cepat dan lincah, berbeda dengan kuda di alam manusia yang pasti akan sangat kelelahan dibawa naik, kuda-kuda di alam para lelembut berlari bagaikan terbang.
Hingga tak terasa, mereka sampai di atas puncak bukit di mana kerajaan Dalu berdiri.
Kerajaan yang hampir seluruhnya berlapis emas itu sangat indah luar biasa.
Zizi turun dari kuda yang mengantarnya, begitu juga Shane dan juga Maria.
Patih kerajaan Dalu yang berada paling depan sudah lebih dulu turun.
Gerbang besar yang tinggi menjulang di depan kerajaan terbuka pelahan, gerbang dengan ukiran dua bunga bertemu di tengah itu semakin terbuka lebar semakin membuat Zizi dan yang lain terperangah dengan kemegahan kerajaan Tanah Dalu.
"Luar biasa."
Puji Zizi seraya melewati gerbang itu, yang kemudian diikuti Shane dan Maria.
Kuda-kuda hitam besar yang gagah berubah wujud kembali menjadi laki-laki berbadan kekar dan berwajah tampan-tampan.
Mereka berbaris rapi di sekitar pintu gerbang, bergabung dengan pasukan lain yang berada di sana.
Zizi masih asik memandangi seluruh bangunan kerajaan tanah Dalu, saat kemudian dari arah pintu utama kerajaan tersebut terlihat sesuatu yang berkilau-kilau.
Zizi dan Shane serta Maria seketika menatap ke arah pintu utama kerajaan yang ada di depan mereka.
Dari sana banyak gadis-gadis cantik rupawan keluar dari bangunan kerajaan itu, mereka tersenyum menawan seraya membungkuk memberi salam kepada Zizi dan yang lain.
Gadis-gadis itu juga kemudian berbaris di sisi kanan dan kiri, seolah memberikan jalan pada satu sosok yang ada di belakang mereka.
Ya, tentu saja...
Siapa lagi jika bukan puteri Arum Dalu.
Putri itu berjalan dengan gemulai dari dalam kerajaannya, dengan kain bercorak bunga yang indah berwarna keemasan dengan bagian atasnya "kemben" berwarna hitam pekat yang dihiasi sulaman benang emas di dekat dada.
Kedua lengan sang putri yang kuning langsat dihiasi semacam gelang berbentuk seperti dua bunga yang bertemu, senada dengan mahkotanya di atas kepala yang juga berbentuk seperti dua bunga yang bertemu.
"Nona Zizi, selamat datang kembali di tanah Dalu."
Sapanya dengan suara lembut nan halus.
Bersambut dengan senyumannya yang merekah cantik luar biasa.
Zizi pun mengangguk membalas salam Puteri Arum Dalu.
**------------**
__ADS_1