
Hujan mengguyur begitu deras, disertai petir yang terus menyambar-nyambar dengan suara gemuruh mengerikan.
Zizi melesat begitu cepat, laksana Naga yang terbang dalam kemarahan.
Sementara itu, hutan di depan sana begitu gelap dengan pepohonannya yang besar-besar bagai raksasa yang berdiri dengan angkuh.
Zizi dengan Jayapada di tangan menuju hutan ke tujuh itu memburu sesuatu.
Ya, di sana, di tengah hutan belantara, di mana di atas batu pipih besar, sesosok laki-laki duduk bersila dengan begitu banyak ular mengerumuninya.
Hawa panas yang dibawa Zizi ke hutan ke tujuh membuat laki-laki itu kini membuka matanya pelahan.
Para ular yang merayapi tubuhnya kini pelahan turun dari sosok laki-laki itu.
Tampak laki-laki itu seolah mencoba menghirup aroma yang ia kenali benar.
Aroma darah sang Ayah yang masih ada di pedang Jayapada miliknya.
Laki-laki yang tak lain adalah Jaka Lengleng itu berdiri, ia tersenyum seraya menoleh ke arah datangnya aroma milik Jayapada yang tentu saja ia tahu betul.
Yah...
Pedang itu, setelah merah delima milik Bandapati gagal ia dapatkan, setelah Sukmaning Ulo juga lepas darinya karena Gendhis Arum juga tewas.
Kini, pedang itulah ambisi terakhirnya.
Pedang yang seharusnya menjadi warisannya, pedang yang seharusnya menjadi senjatanya menaklukkan seluruh bumi lelembut di jagat raya ini.
Balasanggeni, Ayahnya mendapatkan pedang itu dan memilikinya cukup lama.
Menjadi ksatria hampir tak pernah terkalahkan jika saja Aji Manggala tak sampai bisa menikahi Retnoasih putri Bandapati.
Dendam dan amarah Jaka Lengleng kini membakar dadanya, jika beberapa puluh tahun lalu ia hampir tewas oleh Bandapati, hari ini ia akan membuat perhitungan.
Jaka Lengleng, laki-laki gagah itu berdiri di bawah curahan hujan badai yang luar biasa.
Pohon-pohon bergerak laksana akan tercabut dari tanah karena gempuran angin yang luar biasa besar manakala Zizi tiba-tiba muncul dari arah yang sudah bisa di perkirakan Jaka Lengleng.
Jaka Lengleng menyeringai melihat Zizi kini akhirnya berdiri di hadapannya.
"Gadis kecil yang dulu seperti ketan sekarang sudah dewasa."
Kata Jaka Lengleng.
"Diam kau!!"
Bentak Zizi.
Zizi yang sejatinya juga masih sedarah dengan Jaka Lengleng karena di dalam tubuhnya juga ada darah Balasanggeni terlihat menatap tajam Jaka Lengleng.
"Hahahaha... Berani juga anak ini, jauh lebih luar biasa daripada Zia."
Zizi mengacungkan pedangnya ke arah Jaka Lengleng.
"Mulut besar banyak bicara, kau adalah mangsaku sekarang."
__ADS_1
Zizi melompat ke atas seraya mengayunkan pedangnya di mana apinya yang hitam membumbung tinggi.
Jaka Lengleng yang takjub dengan kekuatan Jayapada yang jauh lebih hebat dari saat ada di tangan Balasanggeni, Ayahnya, menjadi semakin berambisi memilikinya.
Jaka Lengleng dengan sangat cepat menghindari Zizi saat gadis itu menerjang sambil menyabetkan pedangnya.
Pedang itu mengenai pohon besar yang tumbuh dekat batu pipih di mana semula Jaka Lengleng bertapa.
Pohon yang sangat besar itu terpotong, pohon itu tumbang, roboh ke tanah.
Suaranya berdebam, membuat Shane dan Maria serta hantu Mintul yang semula kehilangan jejak Zizi akhirnya tahu Zizi di mana.
Jaka Lengleng murka melihat tempat bertapanya sejak ia tak lagi tinggal di telaga sunyi itu dirusak oleh Zizi.
Zizi yang juga bisa dibilang keponakannya itu pun melompat lagi ke arah Jaka Lengleng, gerakannya begitu gesit persis seperti Naga yang tengah memburu musuhnya.
Jaka Lengleng mengepalkan tinjunya, saat Zizi melompat ke arahnya, dengan tinjunya Jaka Lengleng menghajar Zizi dari arah belakang setelah melompat menghindari serangan Zizi, namun sekaligus berputar arah lalu balik menyerang.
Zizi yang terkenal pukulan geni milik Jaka Lengleng merasa nyawanya akan lepas.
Zizi matanya menyala marah, ia menoleh ke arah Jaka Lengleng yang kini berubah menjadi ular yang sangat besar.
Ular hitam itu tak menunggu waktu lama, langsung menyabetkan ekornya ke arah Zizi.
Zizi terpental jauh, tubuhnya menabrak pohon dan kemudian tersungkur ke tanah yang penuh genangan air.
Ular-ular dalam berbagai ukuran terlihat bergerak ke arahnya.
Zizi berusaha berdiri.
Zizi melompat ke atas pohon, nafasnya tersengal.
Pukulan geni Jaka Lengleng rupanya membuat Zizi kini setengah sadar, namun Zizi jadi melemah, darah mengalir dari mulutnya.
Tangannya yang memegang Jayapada bergetar hebat, energi jahat pada Jayapada seolah ingin memilih pemilik baru.
Tapi, Zizi sekuat tenaga menggenggamnya.
Pilihannya kini sangat sulit, membunuh Jaka Lengleng membiarkan Jayapada menyerap salah satu energi paling jahat dari siluman semacam Jaka Lengleng, atau malah justru menjadi milik Jaka Lengleng.
Tapi...
Ah Tidak!
Zizi tak mau Jaka Lengleng bisa menguasai Jayapada.
Ia pasti akan berbuat hal tak baik pada lelembut lain dan juga pada manusia.
Dan pastinya, Bandapati akan sangat marah jika sampai pusaka itu kembali dikuasai mahluk jahat seperti Balasanggeni dulu menguasai Jayapada.
Ya, Jayapada menjadi pusaka terkutuk yang menyimpan begitu banyak energi jahat sejak dimiliki Balasanggeni yang mendapatkannya dengan mengambil paksa dari sang Empu yang tak lain adalah suami Bandapati.
Zizi memegangi dadanya yang terasa seperti panas terbakar.
Namun ia berusaha bertahan meskipun darah kembali keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Ular raksasa Jaka Lengleng mendesis.
Matanya begitu besar menatap Zizi yang begitu kecil.
Jika Zizi ia makan, bahkan tak akan cukup mengenyangkannya.
Zizi bersiap dengan Jayapada di tangannya yang semakin bergetar hebat.
Jaka Lengleng, dalam gerakannya yang tak disangka Zizi, tiba-tiba melompat ke arah Zizi seraya membuka mulutnya.
Zizi mengangkat pedangnya, lalu menyambarkan pedangnya ke arah kepala ular raksasa Jaka Lengleng.
Jaka Lengleng menyabetkan ekornya ke arah pepohonan yang tumbuh di sekitar mereka bertarung.
Pohon-pohon itu seketika tumbang, Zizi kembali melompat dengan gerakannya yang sangat cepat ke arah Jaka Lengleng lagi, dan ia kembali mengayunkan pedangnya lagi.
Clas!!
Pedang itu mengenai tubuh ular raksasa Jaka Lengleng yang kini mulai kesakitan.
Jaka Lengleng memekik keras menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Seluruh urat di tubuh ular raksasa itupun kini seolah terbakar hebat.
Pekikan suaranya seperti menyaingi suara petir yang menyambar-nyambar di atas langit.
Zizi muntah darah lagi, tubuhnya melemah, tapi ia tahu jika semua belum berakhir, jadi ia harus bertahan.
Zizi menatap Jaka Lengleng yang terlihat masih berusaha mengobati rasa sakitnya, ia berguling ke sana ke mari menahan sakit sekaligus panas dan juga marah.
Sungguh keinginannya untuk membunuh Zizi dan menguasai Jayapada semakin besar.
Namun, untuk melawan lagi tubuhnya kini tak lagi bisa bertahan.
Jaka Lengleng melihat Zizi juga sepertinya sama melemahnya.
Jaka Lengleng sekali lagi menyabetkan ekornya ke arah tubuh Zizi yang sedang memegangi dadanya.
Zizi terpental.
Jaka Lengleng kemudian menggunakan momen itu untuk berubah menjadi sosok seperti manusia lagi.
Ia kemudian melesat sangat cepat dan menghilang dari pandangan Zizi.
Zizi terlihat terkapar di tanah.
Jayapada merasuk ke dalam tubuhnya yang melemah.
"Ziziiii..."
Maria melayang menghambur ke arah Zizi yang terluka parah.
Shane yang juga menghambur ke arah Zizi terlihat langsung meraih Zizi dalam pelukannya, dan....
**-----------**
__ADS_1
(Dan Othor mau bobok lagi, baru jam 02.18 WIB. hihihihi)