
Zizi akhirnya meneruskan perjalanannya di dalam hutan ke lima. Mumpung para dayang prekayangan sedang sibuk sendiri, Zizi bergegas mengejar waktu agar bisa keluar dari hutan ke lima dan kemudian melanjutkan masuk ke hutan para Gendruwo.
Ah lagi-lagi bertemu dengan mahluk malas cukur itu. Rasanya Zizi sebetulnya jika ada jalan pintas ingin menghindari hutan ke enam agar tak lagi berurusan dengan para mahluk itu.
Bukan apa-apa, Zizi tak suka mata mesum mereka, dan juga aroma mereka yang seperti daging terbakar gosong membuat hidung benar-benar tak karuan.
"Yakin kali ini bisa menghadapi Gendruwo tanpa Jayapada Zi?"
Tanya Maria yang juga jadi khawatir dengan Zizi sebagaimana yang dipikirkan Shane.
Zizi tampak mengangkat bahunya, ia melihat ada dahan kayu di tanah, diambilnya dahan itu untuk kemudian ia gunakan seperti tongkat.
"Akan Zizi usahakan, tapi kalau kondisi terdesak, pasti Zizi juga nggak akan bisa mengendalikannya."
Kata Zizi.
Maria mantuk-mantuk.
"Ya la, jangankan mengendalikan Jayapada yang ingin eksis, menahan keinginan nonjok dayang saja kamu susah."
Kata Maria.
Zizi yang mendengarnya jadi terpingkal.
"Aunty bahas terooooos..."
Kata Zizi.
Mereka terus berjalan semakin masuk ke dalam hutan.
Hingga kemudian Zizi melihat ada sumber mata air di kejauhan di dalam hutan itu.
"Ah, itu ada air, Zizi mau cuci muka dululah."
Kata Zizi.
"Jangan pake sabun Zi."
Maria mengingatkan.
"Enggak Aunty, Zizi mau cuci muka pake bubuk mesiu."
Kata Zizi.
Maria yang melayang di belakang Zizi baru akan tertawa saat kemudian tiba-tiba dari arah semak belukar di depan mereka yang jaraknya tak begitu jauh, muncul seekor macan tutul.
Macan tutul dengan kedua mata kemerahan macam orang kebanyakan begadang itu melotot memandangi mereka.
"Siapa kalian?"
Tanya si macan tutul.
Zizi mengerutkan kening.
Jelas macan tutul itu bukanlah macan biasa, karena mereka saat ini berada di alam lelembut, jadi pastinya semua yang ada di sana juga lelembut, kecuali Zizi, satu-satunya manusia di sana. Manusia yang lemah lembut.
(Lembut dong ya Zi, lembut dan kuyur-kuyur)
Belum lagi Zizi menjawab pertanyaan si macan tutul tadi, tiba-tiba dari arah semak lainnya, kembali melompat satu macan tutul lagi.
Kali ini ukuran macan tutul kedua seolah jauh lebih besar dari yang pertama.
"Manusia... Kenapa kau bisa ada di sini?"
Tanya si macan tutul yang baru muncul.
Zizi yang sebetulnya berniat ingin segera cuci muka jadi sedikit kesal karena perjalanannya jadi terganggu oleh mereka.
__ADS_1
"Kami cuma lewat, tidak usah baper."
Kata Zizi.
"Hahaha... anak kecil ini pintar juga, dia rupanya tahu kita laper."
Kata macan tutul pertama.
Macan tutul kedua juga sama, ia tertawa terbahak.
Zizi garuk-garuk kepala.
Menoleh pada Shane dan Maria.
"Bolot ternyata."
Bisik Zizi.
"Apa yang kalian bawa?"
Tanya mereka pada Zizi dan Shane serta Maria.
"Kami bawa diri sendiri."
Sahut Zizi.
"Itu, laki-laki kura-kura."
Kata macan tutul menatap Shane.
"Eh kura-kura, sembarangan, ini Kak Seng, gerakannya secepat pesawat jet."
Zizi membanggakan pacarnya. Tidak terima jika Kak Seng tercintanya dikatai laki-laki kura-kura.
"Itu punggungnya, dia bawa apa seperti kura-kura."
Kata macan tutul.
"Aaah, dodol, ini tas ransel."
Zizi kesal pada dua macan tutul itu.
Seenaknya mengatai Kak Seng.
"Itu isinya roti sama keripik, hp Zizi, obat merah, handuk kecil, hansaplast, balsem, jamu masuk angin, air mineral, permen."
Zizi malah menyebutkan bawaannya.
"Kalian ngga doyan, macan masa mau makan keripik."
Kata Zizi.
Dua macan tutul itu menyeringai.
"Siapa yang bilang kami akan makan keripik, kami akan makan kamu manusia tersesat."
Kata mereka.
Hah...
Apa mereka bilang?
Zizi tersesat?
Enak saja...
Zizi marah sekali dikatai tersesat.
Memangnya Zizi itu apa dibilang tersesat.
__ADS_1
Zizi mengacungkan dahan kayunya pada dua macan tutul itu.
"Kamu atau kamu duluan yang harus Zizi kirim ke kuburan."
Kata Zizi.
Dua macan tutul itu tertawa.
Shane melepas ranselnya, lalu memberikan ransel itu kepada Maria.
Shane menarik Zizi agar berada di belakangnya saja.
"Saya saja yang hadapi Nona."
Kata Shane sambil bersiap bertarung dengan dua macan tutul itu.
Dan tak perlu menunggu lama, dua macan tutul itu melompat menerjang ke arah Shane.
Shane melesat menghindar dengan cepat, dan kemudian secepat itu pula ia berbalik dan menghajar satu macan tutul itu dengan tendangannya.
Macan tutul yang kena tendang Shane terpental, sementara macan tutul satunya segera menerjang Shane.
Dengan mulut yang siap memangsa Shane, macan tutul itu menerjang dan mencengkram Shane yang tersungkur ke tanah.
Macan tutul itu mengangkat kaki depannya untuk mencakar dan merobek Shane, saat kemudian Zizi melompat ke arah macan tutul itu, Shane tiba-tiba menendang macan tutul yang ada di atasnya.
Macan itu terpental, namun belum sempat Shane bangun, macan yang sebelumnya ditendang Shane kini berlari ke arahnya, meloncat dengan cepat, sambil mengeluarkan cakarnya yang tajam.
Shane pun kuku-kukunya langsung menjadi tajam, ia berguling di atas tanah mengindari macan tutul yang melompat ke arahnya untuk menyerangnya.
Maria yang tak mau tinggal diam, begitu melihat macan tutul kedua juga hendak menyerang Shane, hantu itupun segera melayang ke arah macan itu.
Maria berusaha melawan tapi jelas saja ia bukan tandingannya.
Macan tutul itu hanya cukup menyambar Maria dan melemparnya jauh.
Zizi yang melihat pengasuhnya dilempar macam bola kasti langsung mengangkat dahan kayu dalam genggamannya dan melayangkannya ke arah macan tutul.
Zizi dengan gerakan memutar menendang macan tutul itu, Zizi melompat, memukulkan kayu ditangannya lagi ke kepala macan tutul.
Shane yang menghadapi satu macan tutul lainnya juga kini menghantamkan tinjunya ke arah sang macan.
Hingga tiba-tiba...
"Hentikan!"
Terdengar suara Nenek-nenek muncul dari arah semak yang tadi dua macam itu datang.
Nenek berpakaian kuno itu terlihat menghampiri tempat bertarung dua macan tutul yang kini terlihat melakukan sungkem pada Nenek itu.
Nenek berpakaian kuno dan memegang tongkat itu menatap Zizi dan Shane.
Dan...
Nenek itu menfokuskan tatapannya pada Zizi.
"Kau aromanya mirip Naga tua itu. Apa kau si cicit petakilan Naga Bandapati?"
Nenek itu bertanya pada Zizi.
Zizi mengerutkan kening.
Heran, di dunia manusia banyak orang mengenalnya karena ia cicit Tuan Ardi Subrata pemilik Alpha Centauri Group.
Di dunia lelembut, para mahluk astral mengenalinya sebagai cicit Bandapati.
Ah susah sekali jadi Zizi yang di mana-mana pada kenal.
Jangan-jangan kalau ke bulan, Sailor moon juga kenal.
__ADS_1
Batin Zizi.
**----------------**