Zizi

Zizi
76. Penunggu Toilet Absurd


__ADS_3

Di Pombensin yang tak jauh dari warung tenda milik pasangan hantu, tampak ada satu bus wisata yang parkir dan beberapa mobil pribadi juga.


Di tempat itu ternyata selain ada Pombensin juga ada minimarket dan rumah makan, mushola serta tempat semacam aula yang cukup besar.


Zizi bergegas menuju toilet umum pombensin tersebut.


Toilet umum yang letaknya sedikit terpisah ke belakang bangunan Pom itu cukup bersih.


Toilet umum itu terbagi menjadi dua bagian, satu untuk pria dan satu untuk wanita. Berbentuk seperti ruangan besar, yang masing-masing terdiri dari dua puluh pintu.



Tampak beberapa perempuan dan anak-anak kecil baru meninggalkan ruangan untuk puluhan toilet itu.


Zizi masuk bersama Maria.


"Lumayan bersih, tapi tetep agak bau Aunty."


Kata Zizi.


Maria mendengus.


"Sudahlah jangan mengeluh, Aunty tahu kamu anak sultan, tapi ini darurat, yang penting kamu mandi lalu makan."


Kata Maria.


Zizi akhirnya menurut.


"Aunty jaga di sini, kamu masuklah."


Kata Maria.


Zizi membuka ranselnya, mengambil perlengkapan mandi ala kadarnya yang ia bawa.


Lalu diletakkannya begitu saja ransel miliknya itu di depan pintu.


Tentu saja karena ada Maria yang menunggui di sana, jadi tak perlu repot-repot membawa ransel sebesar gaban masuk ke toilet.


Zizi baru masuk toilet saat ia mencium aroma seperti aroma daun pandan dan bunga orang meninggal.


Aromanya cukup pekat membuat Zizi malah menyeringai senang.


Nah bagus. Batin Zizi.


Ia kemudian keluar sebentar, celingak-celinguk, terlihat Maria duduk di atas pintu seberang toiletnya.


"Ada kunti ya Aunty?"


Tanya Zizi.


Maria mengangguk.


"Tuh, lagi di depan cermin, kayak punya bayangan saja."


Cibir Maria.


"Ish, hantu jadul banyak komen."


Kata Kuntilanak penghuni toilet umum.


Zizi melongok ke arah ruangan yang ada kuntilanak berdiri tak jauh dari tempat Zizi akan mandi.


"Eh Bibik Kun."


Panggil Zizi.


Kuntilanak menengok.


"Astaganaga."


Kata si kuntilanak kaget.


"Jiiah... Harusnya Zizi yang kaget mukamu loreng-loreng cemong kayak uyik."


Omel Zizi.


"Apaa... Apa..."


Kuntilanak tersinggung mukanya dikatai.


"Sini..."


Zizi meminta kuntilanak mendekat.


"Apa sih?"


Zizi menarik si kuntilanak cepat.


"Duduk sini deket ransel."


Kata Zizi.


"Lah, buat apa?"


Si kunti malah heran.

__ADS_1


Ini manusia gila apa bagaimana? Bukannya takut malah menyuruhnya jaga tas ransel.


"Baumu bisa jadi pengharum ruangan, sekalian jagain ransel, takutnya Aunty ketiduran."


Ujar Zizi.


"Demi apa aku di suruh."


Kesal kuntilanak.


"Demi Zizi lah."


Sahut Zizi.


"Hah? Astaganaga lagi."


Kuntilanak kaget untuk kali kedua.


"Iya dia Zizi, cicit Naga dari kaki Gunung Slamet, turutin aja daripada kamu benjol."


Kata Maria dari atas pintu seberang Zizi berada.


Zizi nyengir pada Kuntilanak yang kini memandanginya dengan takut.


"Ya... Ya... Baiklah."


Kuntilanak itupun pasrah saja.


Mimpi apa dia siang tadi, sampai-sampai ketemu manusia keturunan Naga Bandapati.


Kuntinalak itupun pasrah duduk di dekat ransel.


"Aaah mumpung ada yang gantiin jaga, aku mau leyeh-leyeh sebentar."


Maria merebahkan diri di atas dinding pembatas toilet-toilet tersebut.


Kuntilanak mendengus melihatnya.


Sejak ia berhasil menguasai tempat itu, baru kali ini merasa benar-benar apes.


Kuntilanak tampak selonjoran di dekat ransel Zizi sambil menjaga ransel milik Zizi dan juga menunggui Zizi mandi di dalam.


Saat tiba-tiba muncul seorang laki-laki mengendap-endap masuk ke ruangan tersebut.


Tampaknya, ia tahu jika di sana ada Zizi seorang diri sedang mandi.


Laki-laki itu menyeringai, terlebih saat ia melihat ransel yang tergeletak begitu saja di depan tempat Zizi saat ini mandi.


Laki-laki itu matanya berkilat-kilat jahat, senyumnya mengesankan jika ia kini otaknya sudah dipenuhi hal-hal busuk.


Kuntilanak yang duduk di dekat ransel terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


Gumam kuntilanak.


Setelah sebelumnya dua kali dia melakukan hal jahat dan belum ada tanda-tanda ia dilaporkan ke pihak berwajib, kini ia akan melancarkan aksinya lagi.


Laki-laki itu berjalan semakin mendekat ke tempat Zizi, saat tangannya akan menjangkau ransel milik Zizi, tiba-tiba tangannya ditabok kuntilanak.


"Hah."


Laki-laki itu terlonjak.


Kaget.


Ia celingak-celinguk.


Tak ada siapapun, tapi jelas sekali terasa tangannya barusan ada yang menabok.


Laki-laki itu kembali celingak-celinguk.


Agak merinding, tapi melihat ransel milik Zizi yang merupakan tas ransel super mahal itu rasanya sayang jika tak sampai mendapatkan sesuatu dari sana.


Maka, laki-laki itupun mengarahkan tangannya lagi.


Kuntilanak yang jadi kesal karena laki-laki itu tak langsung menyerah begitu ditabok, akhirnya terpaksa menampakkan diri.


Laki-laki jahat yang semula akan menarik tas ransel Zizi tentu saja kaget luar biasa saat kuntilanak tampak duduk sambil mendelik ke arahnya.


"Kun... Kun... Kuntilanaaaaak."


Laki-laki itu lari tunggang langgang keluar dari sana, suaranya yang berisik membuat Maria jadi terbangun.


"Apa sih... kenapa kamu main terompet Kun?"


Tanya Maria.


"Terompet apaan... wong tadi ada laki-laki mau nyolong."


Kesal kuntilanak.


"Oooh kirain tadi kamu main terompet."


Maria bangun dari posisinya.


Pinggangnya linu-linu.

__ADS_1


Efek produk jaman penjajahan, sampai sekarang masih gentayangan.


"Kamu none Belanda kenapa masih di Indonesia? Tidak tahu sekarang sudah merdeka? Belum pernah dengar Proklamasi?"


Tanya kuntilanak.


"Haiiiish... Di Bali juga banyak bule, di Jogja juga, kenapa aku ditanya?"


"Oh... Iyakah? Aku belum pernah ke mana-mana, dulu aku miskin papa duafa."


Kata Kuntilanak malah jadi sedih karena waktu hidup tidak pernah piknik.


Ah jangankan piknik, makan saja sehari sekali makan oyek dan gaplek.


Maria melayang turun ke bawah.


Tak lama Zizi yang sudah selesai mandi keluar dari tempatnya jebar-jebur.


"Susah banget mandi pake ember."


Kata Zizi.


"Tiap ngambil air, embernya mau kebawa, jadi pengin banting embernya."


Gerutu Zizi.


Bersamaan dengan itu beberapa pegawai SPBU terlihat menggeduruk tempat di mana Zizi baru selesai mandi dan sedang sibuk mengeringkan rambut dengan handuk.


"Lah mana kuntilanak, cantik begitu dibilang kunti."


Seorang laki-laki berpakaian SPBU berkomentar manakala melihat Zizi.


"Ehem... Ehem..."


Shane menyeruak ke tengah mereka, lalu meringsek ke depan, berdiri menghadapi semuanya.


"Tolong kembali ke tempat kerja kalian saja, Nona saya hanya ikut mandi."


Kata Shane.


Belum lagi semua menurut pergi, kuntilanak melayang ke arah Shane dan berdiri mengambang di sebelah Shane.


Kuntilanak menampakkan diri,


"Ada yang cari saya untuk berfoto bersama?"


Tanya Kuntilanak.


Dan semua pun ngacir guling-guling.


"Manusia harimau... Manusia harimau..."


Teriak mereka.


Kuntilanak menoleh pada Maria dan Zizi yang bingung malah dikatai manusia harimau.


"Mukamu loreng-loreng."


Kata Maria.


"Iyakah? Aku tidak bisa bercermin, berdiri dari pagi sampai pagi depan kaca juga tetap tidak kelihatan mukanya."


Kata kuntilanak sedih.


"Lagian buat apa lihat, nanti kamu lari sendiri."


Gumam Zizi.


Haiiish... Kuntilanak mendesis.


"Ah mendingan kasih tahu kita, pintu masuk alam lelembut di mana?"


Tanya Zizi pada kuntilanak.


Shane menghampiri Zizi untuk mengambil ransel Zizi.


"Dekat warung tenda yang tempat jualan pasangan hantu. Kalian lihat tidak?"


Tanya Kuntilanak.


"Ooh di sana, baiklah."


Zizi mantuk-mantuk.


"Mau ngapain masuk alam lelembut?"


Tanya kuntilanak kepo.


"Untuk upacara bendera."


Sahut Zizi sambil nyengir.


Lalu...


"Merdeka!!"

__ADS_1


Zizi mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas di depan kuntilanak.


**------------**


__ADS_2