Zizi

Zizi
40. Berangkaaaaat...


__ADS_3

Sepeninggal Arya, tampak Shane melangkah kembali menuju kamar Zizi. Diketuknya pelan pintu kamar yang masih tertutup tersebut.


Tak seberapa lama, kepala mbak pocong tiba-tiba melongok di pintu, seolah memastikan dulu siapa yang datang.


"Oh tampir."


Kata Mbak pocong nyengir.


Shane hanya mendengus kecil, biasanya ia tak akan masalah di sebut vampire, tapi entah kenapa sekarang terasa begitu menyakitkan.


Kepala mbak pocong masuk ke dalam kamar lagi, melapor pada si empunya kamar jika Shane yang datang.


Maria melayang menuju pintu untuk membukakan, karena Zizi sedang sibuk pakai sepatu.


Maria dan mbak pocong juga baru saja sampai dari acara berkeliling komplek mencari hantu dari daerah kerajaan Dalu yang mungkin akan ikut pulang sekalian.


Untungnya, kebanyakan dari mereka memang sudah kembali saat dulu, jadi yang tertinggal memang hanya tinggal Mbak pocong saja.


"Shane, kenapa mukamu?"


Tanya Maria melihat wajah tampan Shane seperti di gelayuti kesedihan.


Shane terlihat menggeleng sambil menarik bibirnya untuk tersenyum saja.


"Tidak ada apa-apa Aunty."


Ujar Shane yang kemudian masuk ke dalam kamar Zizi, tampak ia membungkuk sebentar begitu Zizi melihat ke arahnya.


"Kita akan pergi sekarang Kak Seng."


Kata Zizi.


Shane mengangguk.


Zizi berdiri dari duduknya, ia sudah selesai memakai sepatunya dan kini menyambar ransel hitam miliknya.


Zizi juga memakai topi untuk dipakai kepalanya.


"Kita ke tanah Dalu lebih dulu, kita harus memiliki sesuatu yang bisa membuat kita memastikan bahwa nantinya Raja Dalu dan Ratu Bunga Petak adalah benar yang kita temukan."


Shane mengangguk.


Zizi menggendong ranselnya, lalu menatap Maria.


"Aunty akan bersamaku? Atau tinggal di sini?"


Tanya Zizi.


"Tentu saja aku ikut, aku dari sejak ikut adalah untuk mengawalmu Zi."


Ujar Maria tanpa ragu.


Zizi mengangguk.


Yah, hampir enam belas tahun Maria selalu bersama Zizi, sejak mereka dekat di hotel wisata milik Papa Zizi.


Untuk Zizi, Maria memang sudah seperti keluarganya, bahkan ia memanggilnya Aunty seolah Maria adalah adik dari Mamanya.


Zizi kemudian mengalihkan tatapannya pada Mbak pocong.


"Kalau Mbak Pocong? Mau pulang saja?"


Tanya Zizi.


Mbak Pocong tampak cengar-cengir. Bingung.

__ADS_1


"Tidak apa jika takut, lebih baik bicara sejak sekarang. Terus terang Zizi tadi malam mimpi tidak enak."


Kata Zizi.


Maria tampak menatap Zizi.


"Mimpi apa Zi?"


Tanyanya.


Zizi menghela nafas, lalu...


"Ular besar, ular yang sangat besar, telah menunggu Zizi di suatu tempat, pasti Zizi akan berhadapan dengannya."


Ujar Zizi.


Maria dan Shane sejenak saling berpandangan.


"Aku rasa dia yang dulu berurusan dengan Mama tapi belum selesai."


Kata Zizi.


"Siapa?"


Tanya Maria.


"Paman Jaka Lengleng."


"Bukankah dia sudah dimusnahkan bersama pasukannya?"


Maria heran.


Zizi menggeleng.


Maria terdiam.


"Dia juga mengincar Jayapada."


Lirih Zizi.


"Tentu saja, tujuannya adalah untuk membuat kekacauan, dia mahluk yang jahat, kau harus memastikan Jayapada selalu ada di tanganmu. Itu adalah pusaka yang diwariskan langsung oleh Bandapati padamu Zizi."


Kata Maria.


Zizi tampak matanya berkilat-kilat. Energi lain itu berusaha kembali menguasai Zizi.


Shane yang melihat tatapan mata Zizi mulai berubah tampak menggapai tangan Zizi.


"Saya akan memastikan anda aman, ini janji saya Nona."


Kata Shane.


Zizi menatap Shane, terasa energi Shane seolah mencoba menahan energi jahat dalam diri Zizi keluar dari genggaman tangannya.


"Ya, aku percaya pada kak Seng dan Aunty."


Ujar Zizi membuat Maria dan Shane tersenyum.


**----------**


Rumah masih sepi karena belum ada yang bangun. Hanya beberapa pengawal yang bertugas jaga di depan yang melihat Nona mereka keluar dari rumah bersama Shane.


"Nona Zizi, Tuan Shane, kalian mau ke mana?"


Tanya para pengawal yang bertugas jaga.

__ADS_1


Zizi tampak ngeloyor saja menuju mobilnya sendiri, sementara Shane menatap mata para pengawal yang berjaga di sana agar bisa melupakan bagian dari mereka telah melihat Shane dan Zizi pergi.


Sementara itu, Maria melayang menuju gerbang untuk membuka pintu gerbang agar mobil Zizi bisa keluar.


Mbak Pocong yang sudah duduk di dalam mobil menemani Zizi terlihat cengar-cengir melihat rumah Zia dan Zion.


Ah Mbak Pocong merasa ia sangat buruk menjadi seonggok hantu.


Ia seperti tak tahu terimakasih dan tak tahu sopan santun. Ia harusnya mengucapkan kata-kata mutiara lebih dulu pada Zia yang telah memberikannya ijin untuk menumpang selama ini.


Tiba-tiba Mbak Pocong jadi sedih, rasanya mengingat kebaikan Zia membuatnya terharu. Di saat banyak orang takut padanya, Zia malah menerimanya dengan tangan terbuka, bukan mengusirnya tapi malah mempersilahkan mbak Pocong tinggal bersama.


Saat ia menjadi pocong luntang lantung yang tak punya tujuan jelas, Zia menjelma seperti dinas sosial yang menyelamatkan mbak pocong sebagai tuna wisma.


Oh sungguh, semoga Nyonya Zia mendapatkan balasan suratnya. Doa mbak pocong.


(Balasan kebaikan kali mbaaak... othor lewat dong ralat)


Tapi mbak pocong tak peduli, ia fokus menatap rumah Zia dan Zion yang akan segera ia tinggalkan.


Shane yang telah memastikan para pengawal yang berjaga itu linglung segera menyusul Zizi masuk ke dalam mobil, setelah itu Maria menutup gerbang lagi, baru kemudian melesat masuk duduk di kursi belakang bersama mbak pocong.


Zizi melajukan mobilnya menjauhi rumahnya, tujuannya jelas adalah desa terakhir untuk naik ke gunung Salak, ia akan masuk ke alam lain lewat Tanah Dalu dari gerbang gaib yang dulu ia bantu Putri Arum Dalu membukanya.


"Kenapa tidak pamit pada Mama dan Papa, Zi?"


Tanya Maria dari belakang Zizi, hantu itu masih tidak mengerti kenapa Zizi memilih pergi diam-diam.


"Zizi tidak mau jadi lemah karena menangis."


Sahut Zizi.


"Zizi benci perpisahan."


Kata Zizi yang mengingat masa dulu ia menangisi Arya yang pulang bersama Ibunya.


Zizi marah dan sedih, perasaan itu kini muncul lagi dan Zizi sangat membencinya.


Maria yang paham Zizi memang cukup lama merasa kehilangan saat dulu Arya pergi akhirnya memilih diam.


Ia tahu Zizi sejak itu juga berusaha untuk tidak pernah menangis lagi, dan tampaknya Zizi tak pernah menghendaki itu kembali terjadi dalam kehidupannya.


Shane tampak terdiam di tempatnya, matanya menatap jalanan di luar sana, yang masih cukup gelap dan hanya diterangi cahaya lampu jalanan saja.


Zizi tak menyukai perpisahan, apakah itu hanya akan berlaku untuk sesama manusia?


Atau perpisahan yang dimaksud Zizi termasuk juga perpisahan dengan Shane bilamana shane kelak tiba-tiba pergi? Batin Shane.


Dan...


Saat semua larut dalam pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba dari arah depan mereka seperti melayang perempuan dengan wajah rusak ke mobil.


Hantu yang sering menyebabkan kecelakaan itu memekik nyaring


manakala Zizi yang bukannya kaget malah menabraknya sekalian, dan saat kepalanya menembus kaca depan Zizi yang mengemudi, Zizi menempelengnya dengan keras.


"Haiiish siaaaal."


Hantu itu meringis, menatap Maria dan Shane yang sudah melotot ke arahnya, dan...


Dug!!


Mbak pocong menyundul keras muka hantu itu dengan kepalanya hingga hantu itu terpental.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2